News  

Katib Syuriyah NU Padasari Imbau Bantuan Bencana Dikelola Bertahap dan Transparan

Avatar photo
Bantuan Donasi Peduli Padasari Kecamatan Jatinegara. Foto : Dokumentasi

Jatinegara. Warta NU Tegal

Penanganan bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, masih terus berlangsung dan diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Ribuan warga terdampak hingga kini masih bertahan di sejumlah titik pengungsian dengan berbagai keterbatasan.

Di tengah derasnya arus bantuan dari berbagai pihak, para tokoh masyarakat mengingatkan pentingnya pengelolaan bantuan secara terukur, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan agar benar-benar bermanfaat bagi pengungsi.

Hal tersebut disampaikan Katib Syuriyah NU Desa Padasari, Ustadz Aris Sadirin, saat memberikan penjelasan terkait kondisi pengungsian dan dinamika penyaluran bantuan, Senin (9/2/2026).

Menurut Ustadz Aris, masa pengungsian warga Padasari diperkirakan tidak singkat. “Pengungsian ini kemungkinan cukup lama, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penyaluran bantuan yang menumpuk di awal justru berpotensi menimbulkan persoalan baru. “Kalau semua bantuan diberikan di awal, sifatnya jadi bruk-brukan dan menumpuk,” kata Ustadz Aris.

Ustadz Aris mencontohkan, pada hari ini Senin (9/2/2026) saja sudah ada bantuan dari PKK Kabupaten Tegal, yang melibatkan Ibu Bupati dan Ibu Wakil Bupati, disusul bantuan dari ibu-ibu anggota dewan setelah waktu Dzuhur. “Hampir setiap hari bantuan itu ada dan tidak pernah kurang,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi tersebut perlu diantisipasi agar bantuan tetap tersedia pada masa pascabencana. “Justru nanti setelah situasi mulai sepi dan bantuan menipis, itu yang akan lebih dibutuhkan,” jelasnya.

“Kalau sekarang semuanya dikirim, baik barang maupun uang, dikhawatirkan banyak yang menumpuk dan bahkan bisa kedaluwarsa,” lanjut Ustadz Aris.

Berdasarkan data per 6 Februari 2026, jumlah pengungsi mencapai 2.425 jiwa dan terus bertambah. “Dengan kondisi seperti ini, pengungsi juga berpotensi mengalami kejenuhan dan tekanan psikologis,” tuturnya.

Baca Lainnya  Hujan Deras Tak Surutkan Khidmah, MWCNU Jatinegara Gelar Tasyakuran dan Istighozah Harlah NU ke-100

Karena itu, ia menyarankan agar logistik tidak dihabiskan di awal. “Menurut kami, bantuan sebaiknya diatur bertahap agar benar-benar tepat guna,” tegasnya.

Selain soal logistik, Ustadz Aris juga menyoroti maraknya penggalangan donasi melalui rekening pribadi yang mengatasnamakan bencana Padasari. “Ini mulai menjadi desas-desus di lapangan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa donasi pribadi bukan persoalan jika bersifat pribadi. “Namun jika mengatasnamakan Desa Padasari yang terdampak, tetapi menggunakan rekening pribadi, ini tentu perlu dipertanyakan,” tandasnya.

Menurutnya, transparansi dan akuntabilitas sangat penting agar kepercayaan publik tetap terjaga dan bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak.

Ustadz Aris mengajak semua pihak untuk bersabar dan berkoordinasi dalam menyalurkan bantuan. “Perjalanan pengungsian ini masih panjang, sehingga perlu pengelolaan yang bijak dan tertib,” pesannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas partisipasi dan kepedulian seluruh pihak yang telah membantu warga Padasari sejak awal bencana.

Imbauan tersebut menjadi pengingat penting bahwa solidaritas kemanusiaan tidak hanya soal memberi, tetapi juga tentang mengatur dan menjaga amanah agar manfaatnya berkelanjutan.

Dengan semangat gotong royong dan nilai ke-NU-an yang menjunjung maslahat umat, diharapkan penanganan bencana Padasari dapat berjalan lebih tertib, transparan, dan membawa kebaikan bagi seluruh warga terdampak.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *