Sosok  

Logat Tegalannya Viral di Tengah Duka, Pak RT Mankus Padasari Tetap Tegar Mengabdi untuk Warga

Avatar photo
Ketua RT 08/02 Dukuh Tigasari, Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Bapak Mankus

Jatinegara, Warta NU Tegal

Di tengah suasana duka akibat bencana tanah bergerak yang melanda Dukuh Tigasari, Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, sosok Ketua RT 08/02, Bapak Mankus, justru menjadi perbincangan hangat warganet. Bukan karena kontroversi, melainkan karena ketulusan dan logat Jawa Tegalan daleman yang khas saat dirinya berbicara di tengah situasi darurat.

Video-video yang menampilkan Pak RT Mankus saat membantu proses evakuasi beredar luas di media sosial. Dalam kondisi lelah dan sedih menghadapi musibah, gaya bicaranya yang spontan dan apa adanya justru menghadirkan senyum di wajah banyak orang.

Namun di balik tawa itu, tersimpan kisah pengabdian seorang pemimpin wilayah kecil yang tak kenal lelah mengurus warganya. Ia tetap berada di garis depan, mengamankan barang-barang, mendata kebutuhan warga, hingga mengambil jatah logistik secukupnya untuk masyarakatnya.

Bagi warga Nahdlatul Ulama setempat, sosok Pak Mankus menjadi cermin nilai khidmah dan keikhlasan. Di tengah cobaan, ia tetap berusaha kuat, menghibur diri dan orang lain, seraya menggantungkan harapan kepada Allah SWT.

Pada hari-hari pertama bencana, saat kondisi tanah mulai ambles dan rumah-rumah retak, Pak Mankus terlihat sibuk membantu evakuasi barang-barang berharga milik warga. Ketika ditanya tentang kondisi rumah, ia menjawab dengan logat khasnya, “Ini rumahnya pada teng jempalit, jadi kalau malam jrijipen. Takutnya orang-orangnya pada lari. Tanah pada mleteknya ambles.”

Ungkapan tersebut sontak membuat sebagian orang tersenyum, meski situasi saat itu begitu mencekam. Kata-kata seperti teng jempalit, jrijipen, dan mletek menjadi ciri khas dialek Tegalan yang kuat.

Dalam video lain, saat ditanya langkah ke depan, ia menjawab polos, “Kita gap-gapan untuk minta ke depannya kepada pemerintah gimana, Pak? Ya, pemerintah kalau ditinggalin lagi ya ditinggal lagi. Tapi kayaknya suwe. Nggak barang nggak mungkin, kudu diratakan dulu.”

Jawaban tersebut disampaikan tanpa nada marah, lebih kepada kepasrahan bercampur harap. Ia juga menambahkan, “Angger dipindah ki madan deket, ya pada gembridig semua gitu. Wis.” Kalimat sederhana yang menggambarkan kekhawatiran jika relokasi tidak dilakukan secara matang.

Saat diwawancarai kembali, Pak Mankus mengaku fisiknya mulai lelah. “Bledegnya udah jeger-jeger sembarang kemarin. Udah lemas dedes pokoknya nolongin barang. Barang orang, barang sendiri,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut barang miliknya sendiri “njeprah” atau berantakan dan belum sempat diurus. “Tekin banyak. Njembrah. Astagfirullah. Kalo malem orangnya udah lemas dedes ampun,” katanya dengan wajah letih.

Ketika ditanya apakah masih kuat, ia menjawab jujur, “Sekarang lagi kurang semangat. Berkata-kata jadi saking lemes lah.” Namun di akhir wawancara ia tetap berkata, “Umahe, ya Allah, ditinggal wis ikhlas, ridho.”

Sikap ridha dan ikhlas itu juga terlihat saat dirinya berada di posko bantuan. Ketika petugas bertanya soal barang-barang warga, ia menjawab, “Evakuasi semua belum, saking banyak di sana soalnya saya mau ngambil nyelemped-nyelemped nggak bisa.”

Dalam suasana santai namun tetap tertib, ia mengambil jatah logistik secukupnya. “Empat saja kalau kebanyakan, lebih nggak dimakan,” ujarnya saat ditanya jumlah bantuan yang diambil. Sikap sederhana dan tidak berlebihan itu mendapat apresiasi warga.

Momen-momen itulah yang membuat banyak orang tersenyum sekaligus terharu. Di tengah musibah, logat Tegalan daleman yang ceplas-ceplos menjadi warna tersendiri, tanpa mengurangi keseriusan situasi.

Bagi warga Padasari, Pak Mankus bukan sekadar sosok yang viral. Ia adalah pemimpin lingkungan yang tetap hadir, meski rumahnya sendiri terdampak. Ia memilih mengurus warga terlebih dahulu sebelum memikirkan dirinya.

Bencana memang menghadirkan luka, namun juga memunculkan kisah-kisah kemanusiaan yang menguatkan. Dari Dukuh Tigasari, publik belajar bahwa ketulusan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana dan apa adanya.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan keselamatan kepada seluruh warga terdampak, serta menghadirkan solusi terbaik bagi relokasi dan pemulihan pascabencana. Di balik logat yang mengundang tawa, tersimpan hati yang sabar dan jiwa yang ikhlas dalam mengabdi.

Editor : Tahmid

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *