Hikmah  

Hikmah Ramadhan (6): Perumpamaan Orang Munafik Membaca Al-Qur’an dalam Kitab Al-Bayan, Harum di Lisan namun Hampa di Hati

Avatar photo
Kitab Al - Bayan

Tegal, Warta NU Tegal

Menjadi seorang Muslim bukan sekadar perkara status formal dalam kartu identitas, melainkan tentang bagaimana keterikatan hati dan lisan terhadap Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Namun, sejarah dan teks suci mencatat adanya golongan yang tampak “bercahaya” di lisan namun “gelap” di sanubari, yakni kaum munafik yang interaksinya dengan kalamullah memiliki karakteristik unik dan penuh peringatan.

Dalam sebuah kajian kitab Al-Bayan, diungkapkan bahwa Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat tajam mengenai kualitas spiritual seseorang melalui panca indra: rasa dan aroma. Metafora ini bukan sekadar bunga rampai bahasa, melainkan diagnosa akurat terhadap penyakit hati yang seringkali luput dari pengamatan mata lahiriah manusia sehari-hari.

Kajian Hadits: Perumpamaan Raihanah dan Hanzhalah

Alinea 1: Teks Arab Bait Pertama

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ

(Wa matsalul munafiqi-lladhi yaqra’ul qur’ana kamatsali-rraihanah)

Alinea 2: Arti Bait Pertama

“Dan perumpamaan orang munafik* yang membaca Al-Qur’an adalah seperti bunga/tumbuhan Raihanah.”

Alinea 3: Penjelasan Filosofis Raihanah

Raihanah adalah tumbuhan yang dikenal karena keharumannya yang semerbak namun memiliki rasa yang pahit saat dikunyah. Ini adalah sindiran halus namun tajam dari Nabi bagi mereka yang berilmu tapi tak beramal.

Alinea 4: Hubungan Lisan dan Al-Qur’an

Seorang munafik yang membaca Al-Qur’an memberikan manfaat audio-visual bagi orang sekitarnya. Suaranya merdu, bacaannya tajwid, dan orang lain merasa tenang mendengarnya—inilah “keharuman” itu.

Alinea 5: Sisi Gelap Kemunafikan

Meskipun suaranya memberikan keteduhan bagi orang lain, hal itu tidak memberikan nutrisi bagi jiwanya sendiri. Cahaya Al-Qur’an hanya sampai di kerongkongan, tidak menembus dinding kalbu yang tertutup karat kemunafikan.

Alinea 6: Teks Arab Bait Kedua

رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

(Rihuha thayyibun wa tha’muha murrun)

Alinea 7: Arti Bait Kedua

“Baunya wangi, namun rasanya pahit.”

Alinea 8: Kontradiksi Zahir dan Batin

Dalam perspektif Aswaja, iman adalah pembenaran hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan. Sosok ini memutus rantai tersebut; lisannya “wangi” dengan kalamullah, tapi batinnya “pahit” karena ketidakikhlasan.

Baca Lainnya  Ustadz Ahmad Jabidin: Tekankan Ngaji Harus Diamalkan, Bukan Sekadar Pengetahuan

Alinea 9: Bahaya Formalisme Agama

Hadits ini memperingatkan kita tentang bahaya formalisme. Menjadikan Al-Qur’an sebagai komoditas atau sekadar aksesoris sosial tanpa adanya transformasi akhlak di dalam diri.

Alinea 10: Teks Arab Bait Ketiga

وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ

(Wa matsalul munafiqi-lladhi la yaqra’ul qur’ana kamatsali-lhanzhalah)

Alinea 11: Arti Bait Ketiga

“Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah seperti buah Hanzhalah.”

Alinea 12: Mengenal Buah Hanzhalah

Hanzhalah (labu pahit/kolosint) adalah tanaman yang sama sekali tidak memiliki daya tarik. Ia tumbuh menjalar di tanah, tidak berbunga harum, dan buahnya sangat beracun serta pahit.

Alinea 13: Kehampaan Total

Inilah tipe manusia yang paling malang. Sudahlah batinnya rusak oleh nifaq, lisannya pun kering dari dzikir dan tilawah. Tidak ada kebaikan yang bisa diambil darinya, baik secara lahir maupun batin.

Alinea 14: Teks Arab Bait Keempat

لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

(Laisa laha rihun wa tha’muha murrun)

Alinea 15: Arti Bait Keempat

“Ia tidak memiliki aroma (wangi) dan rasanya pun pahit.”

Alinea 16: Analogi Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat, tipe ini adalah sosok yang destruktif. Kehadirannya tidak memberi manfaat (tidak wangi) dan perilakunya menyakitkan atau merugikan orang lain (pahit).

Alinea 17: Peringatan bagi Penuntut Ilmu

Para kiai di lingkungan pesantren sering menekankan bahwa ilmu tanpa adab dan keikhlasan hanya akan membawa seseorang menjadi “Hanzhalah” atau “Raihanah” dalam versi yang berbeda.

Alinea 18: Pentingnya Istiqomah dan Ikhlas

Kajian ini menegaskan bahwa nilai seorang manusia di hadapan Allah bukan ditentukan oleh kefasihan lidahnya dalam melafalkan ayat, melainkan oleh kesesuaian antara apa yang dibaca dengan apa yang diyakini dan dikerjakan.

Alinea 19: Kesimpulan Hadits

Secara keseluruhan, hadits ini merupakan klasifikasi psikologi religius yang sangat dalam. Rasulullah SAW menghendaki umatnya menjadi seperti buah Utrujjah (dalam potongan hadits sebelumnya), yang harum baunya dan manis rasanya—yakni mukmin yang rajin membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Baca Lainnya  KH Ali Mughni Mangli: Nikmat Iman, Islam, dan Sehat Wajib Disyukuri dengan Ngaji dan Sholat

Alinea 20: Pesan untuk Nahdliyin

Sebagai warga Nahdliyin, kita diajarkan untuk mencintai Al-Qur’an melalui tradisi sema’an dan mudarosah. Namun, tradisi ini harus dibarengi dengan pembersihan jiwa (tazkiyatun nufus) agar kita terhindar dari sifat munafik yang hanya mengejar pujian makhluk melalui suara yang merdu.

Alinea 21: Harapan dan Doa

Semoga kita senantiasa dibimbing Allah SWT agar Al-Qur’an yang kita baca setiap hari tidak hanya menjadi “Raihanah” yang wangi di luar tapi pahit di dalam, melainkan menjadi syafaat yang menerangi hati hingga hari kiamat kelak. Wallahu a’lam bisshawab.

Diolah dari Syarah Hadits Arba’in Nawawi dan Kitab Riyadhus Shalihin.

___________________________________________________

* Keterangan Tambahan

Dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang dipegang teguh oleh Nahdlatul Ulama, istilah Munafik bukan sekadar label sosiologis, melainkan sebuah diagnosa spiritual yang sangat serius.

Secara harfiah, kata Munafik berasal dari bahasa Arab nafaqa (نفق) yang merujuk pada lubang persembunyian tikus tanah (nafiqa). Tikus tersebut masuk dari satu lubang dan keluar dari lubang lainnya. Begitulah gambaran seorang munafik: ia masuk ke dalam Islam dari satu pintu, namun keluar dari pintu yang lain.

1). Definisi Munafik Menurut Syariat

Munafik adalah sikap bermuka dua (ambivalensi spiritual). Secara terminologi, munafik didefinisikan sebagai:

“Menampakkan kebaikan atau keimanan secara lahiriah, namun menyembunyikan kejahatan atau kekufuran di dalam batin.”

2). Pembagian Jenis Munafik

Para ulama, termasuk dalam kajian kitab-kitab kuning di pesantren, membagi kemunafikan menjadi dua jenis utama:

a. Munafik I’tiqadi (Keyakinan)

Ini adalah jenis kemunafikan yang paling berbahaya. Seseorang mengaku Muslim, ikut shalat, dan berpuasa, namun di dalam hatinya ia sama sekali tidak percaya kepada Allah, Rasul-Nya, atau hari akhir.

  • Hukum: Dianggap keluar dari Islam (murtad secara batin).
  • Ancaman: Al-Qur’an menyebutkan mereka berada di tingkatan paling bawah dalam neraka (fi darkil asfali minan-naar).

b. Munafik ‘Amali (Perilaku/Praktis)

Ini adalah jenis kemunafikan yang berkaitan dengan mentalitas atau karakter seseorang, meskipun di hatinya masih ada sisa-sisa keimanan. Inilah yang sering diperingatkan Nabi SAW melalui ciri-ciri populer:

  1. Jika berbicara, ia berdusta.
  2. Jika berjanji, ia mengingkari.
  3. Jika dipercaya, ia berkhianat.
  4. Jika bertengkar, ia melampaui batas (berkata kotor/curang).
Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (12): Al-Qur’an sebagai Jamuan Ilahi, Sumber Ketenteraman Hati dan Kabar Gembira bagi Para Pecintanya

3). Filosofi Hadits “Kemangi dan Pare”

Dalam konteks hadits tersebut menjelaskan bahwa kemunafikan memiliki gradasi pengaruh terhadap lingkungan:

  • Munafik “Kemangi”: Adalah mereka yang secara intelektual atau lisan hebat (pintar baca Al-Qur’an, retorika agamanya bagus), namun jiwanya busuk. Mereka “wangi” di telinga orang lain, tapi “pahit” bagi diri mereka sendiri di akhirat.
  • Munafik “Pare/Hanzhalah”: Adalah mereka yang sudah hatinya kufur, kelakuannya pun buruk. Tidak ada manfaat (aroma) dan tidak ada kebaikan (rasa).

4). Cara Menghindari Sifat Munafik

Dalam perspektif NU, obat dari kemunafikan adalah Shidqu (kejujuran batin). Para kiai sering berpesan agar kita selalu:

  • Istiqamah dalam wirid dan dzikir: Untuk menyambungkan hati dengan Allah agar tidak hanya lisan yang bergerak.
  • Muhasabah (Introspeksi): Selalu ragu akan keikhlasan diri sendiri (bukan ragu pada Allah) agar tidak terjebak dalam kesombongan yang merupakan pintu kemunafikan.
  • Mencintai Ulama dan Shalihin: Sebagai benteng agar perilaku kita tertular oleh keikhlasan mereka.

Kesimpulan: Munafik adalah penyakit “diskoneksi” antara apa yang diucapkan lisan dengan apa yang diyakini hati. Ia adalah sosok yang kehilangan integritas di hadapan Tuhan demi mencari simpati di hadapan manusia.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *