Tegal, Warta NU Tegal
Membaca Al-Qur’an bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau mencari pahala secara mekanis. Bagi seorang mukmin, berinteraksi dengan Kalamullah adalah upaya menyambungkan ruh dengan Sang Pencipta. Dalam tradisi pesantren, keutamaan Al-Qur’an seringkali digambarkan dengan tamsil (perumpamaan) yang sangat dalam, sebagaimana yang tertuang dalam kitab Al-Bayan.
Al-Qur’an adalah hidangan Allah di bumi. Siapa pun yang menyibukkan diri dengannya, maka ia sedang berada dalam kemuliaan yang tak terhingga. Namun, apa jadinya jika hati seorang hamba kosong dari ayat-ayat suci? Rasulullah SAW memberikan peringatan keras sekaligus motivasi yang sangat menyentuh kalbu.
Mari kita selami lebih dalam kajian hadits-hadits nabi mengenai mukjizat terbesar ini, agar kecintaan kita terhadap Al-Qur’an semakin mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hiasan di lemari buku.
Bagian I: Berkah bagi Mereka yang Sibuk dengan Dzikir dan Al-Qur’an
Dalam bait pertama yang dinukil dari Kitab Al-Bayan, disebutkan keutamaan bagi hamba yang menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan wahyu Allah.
Teks Arab:
مَنْ يَشْغَلَنَّهُ ذِكْرُهُ وَالْقُرْآنُ عَنْ مَسْأَلَتِي فَأَعْطِهِ رَحْمَانُ
Artinya: “Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir dan membaca Al-Qur’an hingga tidak sempat meminta (berdoa) kepada-Ku, maka Allah akan memberinya sesuatu yang paling utama.”
Bait ini menjelaskan tentang tingkat mahabbah (kecintaan) yang tinggi, di mana seorang hamba begitu asyik bercengkrama dengan Allah melalui Al-Qur’an sehingga ia “lupa” meminta kepentingan pribadinya.
Namun, Allah Yang Maha Pemurah tidak membiarkannya; justru Allah memberikan pemberian terbaik yang melebihi apa yang diberikan kepada orang-orang yang meminta.
Penjelasan ini seirama dengan syair Jawa yang tertera: “Kang sibuk ngaji Qur’an lan dzikir Allah, hinggo ora sempat nyuwun marang Allah…” yang menekankan totalitas dalam beribadah.
Hal ini mengajarkan kita bahwa fokus pada proses mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah secara otomatis akan mendatangkan kecukupan dalam hidup tanpa harus selalu menuntut.
Bagian II: Perbandingan Keagungan Kalamullah
Memasuki pembahasan selanjutnya, hadits Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa membandingkan Al-Qur’an dengan perkataan manusia adalah sebuah kemustahilan yang jauh.
Teks Arab:
وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ
Artinya: “Dan keutamaan Kalam Allah SWT atas perkataan yang lain adalah seperti keutamaan Allah Ta’ala atas makhluk-Nya.” (HR. Tirmidzi).
Penjelasan hadits ini sangat mendalam: Sebagaimana tidak ada makhluk yang bisa menandingi kebesaran Sang Pencipta, maka tidak ada satu pun karya sastra atau ucapan manusia yang bisa menyamai Al-Qur’an.
Al-Qur’an bukan sekadar teks, ia adalah sifat Allah (Kalamullah), yang memiliki energi ketuhanan yang tak terbatas.
Dalam tradisi NU, kita diajarkan untuk menghormati mushaf dan isinya dengan adab yang tinggi karena menyadari bahwa yang kita baca adalah firman dari Penguasa Semesta.
Bait dalam Al-Bayan juga menegaskan kembali:
إِنَّهُ جَلَّ فَضْلَ الْقُرْآنِ كَفَضْلِهِ عَلَى سِوَاهُ بَانَ
“Innahu jalla fadhlul Qur’ana kafadhlihi ‘ala siwahu bana.” (Sesungguhnya keagungan Al-Qur’an tampak jelas seperti keagungan Allah atas selain-Nya).
Ini adalah landasan akidah bahwa Al-Qur’an adalah pedoman tertinggi yang tidak boleh dikesampingkan oleh logika manusia yang terbatas.
Mengutamakan Al-Qur’an di atas pendapat manusia adalah ciri dari orang yang beriman secara kaffah.
Bagian III: Peringatan Bagi Hati yang Kosong dari Al-Qur’an
Bagian ketiga memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh mengenai kondisi batin seseorang yang jauh dari interaksi dengan Al-Qur’an.
Teks Arab:
إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang tidak terdapat dalam rongga badannya sesuatu dari Al-Qur’an adalah seperti rumah yang roboh.” (HR. Tirmidzi).
Perumpamaan “rumah yang roboh” (al-baitil khorib) menggambarkan kehancuran, ketidaknyamanan, dan tempat yang tak layak huni.
Begitu pula dengan hati; tanpa cahaya Al-Qur’an, hati akan menjadi gelap, rapuh, dan mudah dimasuki oleh bisikan-bisikan negatif yang merusak.
Hadits ini memotivasi kita untuk setidaknya menghafal atau rutin membaca beberapa surat atau ayat agar “rumah” batin kita tetap tegak berdiri.
Dalam naskah Al-Bayan disebutkan: “Man laisa fi jaufihi syai’un min kitab, A’ni bibil Qur’ana kal baitil khorob.”
Ini menegaskan bahwa kekosongan spiritual adalah kemiskinan yang sebenarnya, meskipun seseorang memiliki harta melimpah di luar sana.
Pesantren-pesantren NU selalu menghidupkan tradisi nderes (mudarosah) agar para santri tidak menjadi “rumah roboh” di tengah masyarakat nantinya.
Membaca Al-Qur’an bukan hanya soal pahala, tapi soal menjaga integritas struktur jiwa manusia agar tetap kokoh menghadapi ujian hidup.
Akhirnya, mengamalkan Al-Qur’an adalah puncak dari segala interaksi tersebut, sehingga rumah batin kita tidak hanya tegak, tapi juga bercahaya.
Penutup: Merawat Cahaya di Dalam Dada
Melalui kajian hadits-hadits dari Kitab Al-Bayan ini, mari kita merefleksi kembali: seberapa sering kita menyapa “rumah” batin kita dengan ayat-ayat Allah? Jangan sampai kita menjadi raga yang berjalan namun sejatinya telah roboh di hadapan Allah SWT.
Sebagaimana dawuh para kiai kita, Al-Qur’an adalah syafaat yang nyata. Dengan memuliakannya, kita mengundang berkah Allah hadir dalam setiap hembusan napas dan langkah kaki kita di dunia menuju akhirat.
Semoga kita digolongkan sebagai Ahlu Al-Qur’an, kaum yang disibukkan oleh kebaikan sehingga Allah mencukupkan segala hajat kita dengan cara-Nya yang paling indah. Wallahu a’lam bisshowab.
Editor : Tahmid












