Hikmah  

Hikmah Ramadhan (14): Memuliakan Ulama dan Hamba Shalih, Kunci Membuka Pintu Ridha Allah

Avatar photo

Tegal, Warta NU Tegal

Menjaga lisan dan sikap terhadap para kekasih Allah, baik mereka yang menjaga Al-Qur’an maupun para ulama yang faqih, merupakan bagian fundamental dalam tradisi akhlak Nahdlatul Ulama (NU). Menghormati mereka bukan sekadar urusan etos sosial, melainkan bentuk pengagungan kita kepada sang Pencipta, Allah SWT.

Sebaliknya, meremehkan atau menyakiti mereka bukanlah perkara sepele. Dalam literatur klasik seperti Kitab Al-Bayan, dijelaskan bahwa tindakan tersebut dapat memicu “perang” langsung dari Allah SWT dan berakibat fatal pada kondisi spiritual seseorang sebelum ajal menjemput.

Berikut adalah uraian mendalam mengenai adab kepada Ahlul Qur’an, Wali, dan Ulama:

Memuliakan Ahlul Qur’an dan Pemimpin yang Adil

وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَجَافٍ عَنْهُ ثُمَّ الْعَادِلِ

Wahamili Qur’ani ghoiril gholi fihi wajafin ‘anhu tsummal ‘adili.

Artinya: “Dan (termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati) orang yang menghafal Al-Qur’an yang tidak melampaui batas dan tidak menyimpang darinya, serta menghormati penguasa yang adil.”

Menghormati penghafal Al-Qur’an merupakan bentuk nyata pengagungan kepada dzat Allah karena di dalam dada mereka tertanam kalamullah, dengan catatan mereka tetap istiqamah tidak melampaui batas (ghali) melalui sikap ekstrem atau fanatik buta, serta tidak pula meninggalkan (jafi) atau berpaling dari isi kandungan Al-Qur’an itu sendiri. Selain itu, penghormatan wajib diberikan kepada pemimpin yang menegakkan keadilan sebagai pelindung kemaslahatan umat manusia, sebab memuliakan mereka berarti mendukung terciptanya ketertiban sosial yang diridhai Allah, sementara meremehkannya dapat merusak tatanan nilai beragama. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, nilai-nilai ini diwujudkan melalui tradisi sowan dan takzim kepada para kiai sepuh sebagai ajaran akhlak mendasar yang harus dipegang teguh oleh setiap santri dan kaum nahdliyin.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (6): Perumpamaan Orang Munafik Membaca Al-Qur’an dalam Kitab Al-Bayan, Harum di Lisan namun Hampa di Hati

Bahaya Menyakiti Kekasih Allah (Wali Allah)

مَنْ آذَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Man adza li waliyan faqod adzantuhu bil harbi.

Artinya: “Barangsiapa menyakiti kekasih-Ku (Wali Allah), maka Aku mengumumkan perang kepadanya.” (HR. Bukhari).

Hadits Qudsi ini memberikan peringatan yang sangat keras bagi siapa saja yang memusuhi kekasih Allah, di mana istilah “mengumumkan perang” bermakna bahwa pelakunya akan berhadapan langsung dengan murka Allah di dunia maupun akhirat. Wali Allah sendiri merupakan orang-orang beriman yang bertakwa serta senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga tindakan menyakiti mereka—baik melalui lisan seperti fitnah dan ghibah maupun tindakan fisik—sama saja dengan mencoba memadamkan cahaya Allah di muka bumi. Mengingat perlindungan Allah kepada para wali-Nya bersifat mutlak sebagai penjaga agama, kita diajarkan untuk selalu berprasangka baik (husnuzon) kepada sesama mukmin, terlebih kepada mereka yang dikenal karena kesalehan dan kedalaman ilmunya. Maka dari itu, istiqamah dalam adab menjadi kunci keselamatan yang sangat krusial, sebab kehancuran suatu kaum sering kali bermula ketika mereka mulai merendahkan martabat orang-orang saleh.

Ulama adalah Wali Allah dan Bahaya Melecehkan Mereka

وَالْعُلَمَاءُ إِنْ لَمْ يَكُونُوا أَوْلِيَاءَ فَإِنَّهُ لَيْسَ وَلِيٌّ لِلَّهِ

Wal ‘ulama-u in lam yakunu auliya-a fainnahu laisa waliyun lillah.

Artinya: “Para Ulama itu, jika mereka bukan wali-wali Allah, maka niscaya Allah tidak punya wali.”

Penegasan derajat ulama yang dikutip dari Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i memperjelas bahwa mereka adalah sosok yang paling memahami syariat dan hakikat ketuhanan, di mana kedekatan mereka kepada Allah dibangun kokoh di atas pondasi ilmu dan amal. Tanpa keberadaan ulama, mata rantai ajaran Nabi Muhammad SAW niscaya akan terputus, sehingga Imam Ibnu Asakir secara tegas memperingatkan bahwa “daging para ulama itu beracun,” yang menyiratkan bahwa tindakan mencela mereka akan berakibat fatal. Melecehkan ulama berisiko menyebabkan “kematian hati” sebelum kematian fisik menjemput—yakni kondisi di mana hati tidak lagi mampu menerima hidayah dan kebenaran—yang sering kali berujung pada hilangnya keberkahan hidup. Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, para ulama senantiasa dipandang sebagai paku bumi yang menjaga keseimbangan spiritual bangsa; sehingga, menghargai para ulama sesungguhnya merupakan wujud ikhtiar nyata dalam menjaga masa depan agama sekaligus merawat keutuhan bangsa.

Baca Lainnya  Kajian Kitab Safinatun Najah (1): Menelusuri Makna dan Keberkahan dalam Mukadimah Karya Syaikh Salim bin Sumair

Mengunci Ridha melalui Adab

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan. Memuliakan para penghafal Al-Qur’an, pemimpin yang adil, serta para ulama adalah jalan pintas menuju keridhaan Allah SWT. Jangan sampai lisan dan jempol kita di media sosial menjadi sebab tertutupnya pintu rahmat karena digunakan untuk merendahkan para pewaris Nabi.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap berada dalam barisan para ulama, mencintai mereka, dan meneladani akhlaknya. Dengan menjaga kehormatan para wali-Nya, kita berharap dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak dalam keadaan hati yang selamat (qolbun salim). Wallahu a’lam bisshawab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *