Hikmah  

Hikmah Ramadhan (17): Menjaga Cahaya Hati, Bahaya 40 Hari Tanpa Nasihat Ulama

Avatar photo

Tegal. Warta NU Tegal

Aswaja, khususnya kalangan Nahdliyin, tentu sangat akrab dengan tradisi ngaji atau duduk melingkar mendengarkan dawuh para kiai. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas mencari tahu hukum fikih, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk “mengecas” iman agar tidak redup di tengah kesibukan duniawi yang sering kali melelahkan.

Hubungan antara seorang murid (santri) dengan guru (ulama) adalah tali nyawa bagi spiritualitas kita. Tanpa bimbingan dan siraman rohani yang rutin, hati kita perlahan bisa berubah menjadi keras, sulit menerima kebenaran, dan kehilangan arah dalam melangkah.

Pentingnya Duduk Bersama Ulama

إِذَا مَضَى عَلَى الْمُؤْمِنِ أَرْبَعُونَ صَبَاحًا وَلَمْ يُجَالِسِ الْعُلَمَاءَ قَسَى قَلْبُهُ وَجَسُرَ عَلَى الْكَبَائِرِ لِأَنَّ الْعِلْمَ حَيَاةُ الْقَلْبِ

“Ketika seorang mukmin selama 40 hari tidak berdampingan dengan ulama’ (tidak mengaji) satu jam pun, maka orang tersebut hatinya mengeras (hatinya mati dan sulit menerima pitutur) serta mudah melakukan dosa besar. Karena sesungguhnya ilmu itu, cahaya yang bisa menerangi hati yang gelap gulita, menjadi bercahaya.” (Hadis Nabi)

Hadits di atas memberikan peringatan keras bagi kita semua. Angka 40 hari bukanlah angka sembarang, melainkan batas waktu di mana iman kita mulai butuh asupan nutrisi baru.

Duduk bersama ulama atau “Majalisu al-Ulama” adalah momen di mana rahmat Allah turun. Jika 40 hari dilewati tanpa momen ini, ada sesuatu yang hilang dari diri kita.

Penjelasan “tidak mengaji satu jam pun” menunjukkan betapa berharganya waktu yang sebentar jika digunakan untuk menimba ilmu dari orang yang salih.

Dampak pertama yang disebutkan adalah “hatinya mengeras”. Hati yang keras itu ibarat batu; disiram air (nasihat) pun, airnya hanya lewat tanpa meresap.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (4): Nur Muhammad sebagai Poros Kenabian dan Puncak Kemuliaan dalam Untaian Maulid Diba’i

Hati yang keras membuat kita merasa paling benar sendiri. Kita jadi susah dikasih tahu, gampang emosi, dan menutup diri dari saran orang lain.

Selain mengeras, hati tersebut bisa “mati”. Hati yang mati tidak lagi merasakan getaran saat mendengar asma Allah atau melihat penderitaan sesama.

Dampak selanjutnya adalah “mudah melakukan dosa besar”. Mengapa? Karena benteng pertahanan mental kita, yaitu rasa takut kepada Allah, telah keropos.

Tanpa bimbingan ulama, maksiat tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan dianggap sebagai hal biasa atau sekadar gaya hidup.

Ilmu adalah “hayatul qalb” atau nyawanya hati. Tanpa ilmu, hati kita hanyalah segumpal daging yang tidak memiliki fungsi spiritual sama sekali.

Bayangkan rumah tanpa lampu di malam hari. Gelap, bukan? Seperti itulah hati yang tidak pernah disinari dengan ilmu dari lisan para ulama.

Ilmu ulama bukan sekadar teori di buku, tapi ada keberkahan (barakah) yang mengalir saat kita bertatap muka dan mendengarkan suara mereka.

Ulama adalah pewaris nabi. Mendekat kepada mereka berarti mendekat kepada warisan Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang.

Di zaman sekarang, mengaji bisa lewat mana saja, tapi “duduk berdampingan” memiliki energi batiniah yang berbeda dibanding hanya menonton layar HP.

Memasuki bait kedua:

أَخُوا الْعِلْمِ حَيٌّ خَالِدٌ بَعْدَ مَوْتِهِ ۞ وَأَوْصَالُهُ تَحْتَ التُّرَابِ رَمِيْمُ

“Orang yang berilmu akan hidup selamanya walau sesudah meninggalnya. Sedang jasadnya tertimbun di dalam tanah. (Seperti makamnya orang-orang alim yang tak pernah sepi dari peziarah).” (Ta’lim)

Bait ini menjelaskan kemuliaan orang alim. Meskipun raga sudah terkubur, pengaruh dan manfaat ilmu mereka tetap “hidup” di tengah masyarakat.

Kita bisa melihat bagaimana para santri dan masyarakat umum masih terus menziarahi makam para kiai dan Wali Songo. Ini bukti nyata bahwa mereka tidak benar-benar “mati”.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (8): Iri yang Bernilai Ibadah, Belajar dari Ahli Al-Qur’an dan Hamba yang Gemar Bersedekah

Nama mereka harum, ilmu mereka terus diajarkan, dan jasa mereka terus dikenang dari generasi ke generasi.

Tulang belulang boleh hancur dimakan tanah, tapi ruh dan amal jariyah mereka tetap bersinar di sisi Allah SWT.

Bandingkan dengan orang yang tidak berilmu, seperti yang dijelaskan pada bait terakhir:

وَذُوا الْجَهْلِ مَيِّتٌ وَهُوَ يَمْشِى عَلَى الثَّرَى ۞ يُظَنُّ مِنَ الْأَحْيَاءِ وَهُوَ عَدِيْمُ

“Dan orang bodoh itu mati meski ia berjalan di atas bumi. Ia disangka termasuk orang yang hidup, padahal ia tiada.”

Ini adalah sindiran yang sangat dalam. Ada orang yang fisiknya segar bugar, jalan ke sana kemari, tapi hakikatnya dia “mati” karena tidak memiliki ilmu dan iman.

Hidup tanpa ilmu hanya akan mengikuti hawa nafsu. Orang seperti ini “tiada” karena kehadirannya tidak memberi manfaat bagi agama dan lingkungan.

Dia dianggap hidup oleh orang lain hanya karena masih bernapas, tapi di mata Allah dan bagi perkembangan peradaban, dia tidak dihitung.

Pentingnya kita menjadi “pencari ilmu” agar tidak termasuk dalam golongan “zombie” spiritual ini—hidup badannya, tapi mati jiwanya.

Mengaji secara rutin adalah cara kita membuktikan bahwa kita adalah makhluk yang “hidup” secara utuh, lahir maupun batin.

Melalui petuah ulama, kita diajarkan cara membedakan yang hak dan yang batil, sehingga langkah kaki kita tidak salah arah.

Jadi, jangan biarkan jadwal harian kita begitu padat sampai tidak sempat mendengarkan nasihat agama, meskipun hanya satu jam.

Marilah kita jadikan pengingat ini sebagai pelecut semangat untuk kembali ke majelis-majelis ilmu. Jangan sampai hati kita menjadi sekeras batu hanya karena kita merasa sudah cukup dengan pengetahuan yang ada, padahal iman perlu terus dipupuk.

Baca Lainnya  Hikmah Ramadhan (6): Perumpamaan Orang Munafik Membaca Al-Qur’an dalam Kitab Al-Bayan, Harum di Lisan namun Hampa di Hati

Semoga kita semua digolongkan sebagai orang-orang yang senantiasa dekat dengan ulama, mencintai ilmu, dan dijauhkan dari hati yang mati. Karena dengan dekat kepada ulama, kita sejatinya sedang menjaga cahaya Allah agar tetap menyala di dalam dada kita. Wallahu a’lam bisshawab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *