Jatinegara, Warta NU Tegal
Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) Kabupaten Tegal menyalurkan donasi hasil penggalangan dana untuk para korban terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Selasa (17/3/2026).
Selain penyaluran bantuan, kunjungan ini juga dimanfaatkan sebagai forum koordinasi dan penyerapan aspirasi para ustadz dan ustadzah TPQ guna merumuskan langkah strategis keberlanjutan kegiatan belajar mengajar (KBM) di tengah kondisi terdampak bencana.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Badko LPQ dalam menjaga keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an, sekaligus memastikan para santri tetap mendapatkan layanan pendidikan meskipun berada dalam situasi darurat.
Sekretaris Umum Badko LPQ Kabupaten Tegal, H. Salafudin Yusuf, menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya tidak hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga mendengarkan langsung kondisi riil di lapangan.
“Hari ini kami hadir di sini dari Badko LPQ Kabupaten Tegal untuk mendengarkan suara dari Bapak Ibu selaku ustadz dan ustadzah TPQ,” ujarnya.
Ia menyoroti kondisi TPQ yang terdampak cukup parah, khususnya TPQ Bustanul Athfal yang dinilai sudah tidak memungkinkan untuk digunakan kembali.
“Kalau yang saya lihat, yang benar-benar terdampak itu yang ada di depan masjid, yaitu TPQ Bustanul Athfal. Itu sudah sama sekali tidak bisa dipakai,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi ini perlu segera dicarikan solusi agar kegiatan pembelajaran dapat kembali berjalan, terutama menjelang tahun ajaran baru.
“Itu nanti ke depan bagaimana? Saat ini mungkin TPQ sedang libur, tetapi nanti saat tahun ajaran baru, santri baru akan masuk, lalu mau ditempatkan di mana?” katanya.
Ia juga mempertanyakan keberlanjutan semangat para pengajar dan kondisi santri pascabencana.
“Kemudian santri-santrinya masih ada atau tidak, dan ustadz ustadzahnya kira-kira masih semangat atau bagaimana, ini juga perlu kita pikirkan bersama,” lanjutnya.
H. Salafudin Yusuf menambahkan bahwa ada kemungkinan TPQ yang gedungnya tidak terdampak, tetapi guru dan santrinya justru menjadi korban bencana.
“Ada juga TPQ yang secara gedung masih utuh, tetapi bisa jadi guru dan santrinya terdampak. Ini juga menjadi perhatian kita,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa Badko LPQ memiliki tanggung jawab dalam membina seluruh lembaga pendidikan Al-Qur’an yang terdaftar di Kementerian Agama.
“Badko LPQ menaungi seluruh lembaga pendidikan Al-Qur’an yang resmi terdaftar di Kementerian Agama. Kami melakukan pembinaan dan bekerja sama dengan pemerintah daerah serta lembaga lainnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menaruh perhatian khusus pada keberadaan sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana.
“Untuk TPQ Bustanul Athfal, saya ingin tahu kondisi ustadz ustadzahnya, kepala TPQ, dan sarana yang ada. Meja masih ada atau tidak? Etalase sudah pecah, jilid juga sudah tidak bisa digunakan,” katanya.
Menurutnya, pemulihan sarana pembelajaran menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali aktivitas TPQ.
“Kalau sarana sudah tidak bisa digunakan, tentu kita harus memikirkan bagaimana pemenuhannya agar pembelajaran bisa berjalan kembali,” imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan Kepala TPQ Bustanul Athfal Padasari, Ustadz Aris Sadirin, menyampaikan apresiasi atas kepedulian Badko LPQ Kabupaten Tegal dan berbagai pihak yang telah membantu.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Badko LPQ Kabupaten Tegal yang telah banyak meringankan beban kami,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa respons cepat dari Badko LPQ sangat dirasakan manfaatnya oleh para guru TPQ di wilayah terdampak.
“Pergerakannya sangat cepat, dan kami benar-benar mengapresiasi hal tersebut,” katanya.
Aris Sadirin juga menyebutkan bahwa dukungan tidak hanya datang dari tingkat kabupaten, tetapi juga dari beberapa kecamatan.
“Sudah ada empat kecamatan yang langsung mendonasikan bantuan ke kami di Padasari, di antaranya Badko Bojong, Jatinegara, Margasari, dan Adiwerna,” jelasnya.
Terkait rencana ke depan, pihaknya telah menyiapkan alternatif lokasi untuk pelaksanaan KBM TPQ.
“Rencana kegiatan belajar mengajar akan kami laksanakan di Musholla Al-Ikhlas, Dukuh Pengasinan,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menyampaikan adanya sejumlah kebutuhan sarana pendukung yang masih diperlukan.
“Kami membutuhkan tralis di samping musholla, meja kayu untuk sekitar 62 santri, serta keramik untuk teras musholla,” tambahnya.
Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Harapannya, jika nanti kami sudah tidak menggunakan musholla tersebut, tetap ada manfaat yang bisa ditinggalkan untuk masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Tahmid












