Jakarta, Warta NU Tegal
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menyampaikan bahwa hasil pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia menunjukkan posisi hilal belum memenuhi kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU).
Berdasarkan hasil tersebut, LF PBNU memprediksi bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, dengan mempertimbangkan data hisab dan hasil rukyatul hilal.
Pengamatan hilal dilakukan oleh jejaring Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) di berbagai wilayah Indonesia dengan menggunakan metode rukyat, baik secara langsung maupun dengan bantuan alat optik.
Ketua LF PBNU, KH Sirril Wafa, menyampaikan bahwa posisi hilal memang mendekati kriteria di beberapa wilayah, namun belum memenuhi standar yang ditetapkan.
“Mendekati kriteria memang iya, terutama di wilayah Sabang. Namun tetap belum memenuhi kriteria yang ditetapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa semakin ke arah timur Indonesia, posisi hilal justru semakin jauh dari kriteria imkan rukyah.
“Semakin ke arah timur dari Sabang, posisi hilal semakin jauh dari kriteria yang dipersyaratkan,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi parameter yang digunakan dalam penentuan awal bulan hijriah di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Secara umum, posisi hilal di Indonesia belum memenuhi kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa secara data falakiyah, tinggi hilal masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
“Tinggi hilal di Indonesia berkisar antara 0 derajat 49 menit hingga 2 derajat 53 menit,” ungkapnya.
Selain itu, elongasi hilal juga belum mencapai batas minimal yang disyaratkan dalam kriteria.
“Elongasi hilal berada di rentang 4 derajat 36 menit hingga 6 derajat 09 menit,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, hilal secara teoritis berada dalam zona yang sulit untuk dirukyat.
“Hilal memang berada di atas ufuk, tetapi masih di bawah kriteria, sehingga masuk dalam zona istihalah al-rukyah,” paparnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa rukyatul hilal tetap dilaksanakan sebagai bagian dari kewajiban syar’i.
“Rukyatul hilal tetap dilaksanakan pada Kamis petang sebagai bagian dari fardlu kifayah,” ujarnya.
Pengamatan tersebut dilakukan di berbagai titik oleh tim LFNU dengan dukungan peralatan modern.
“Pengamatan dilakukan dengan metode mata telanjang maupun menggunakan alat optik seperti teleskop dan kamera,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hasil rukyat tetap menjadi bagian penting dalam proses penentuan awal bulan.
“Rukyat tetap menjadi bagian penting dalam proses penetapan awal bulan hijriah,” imbuhnya.
Namun demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang itsbat yang diselenggarakan pemerintah.
“Penetapan awal Syawal tetap menunggu hasil sidang itsbat pemerintah,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa hasil sidang itsbat nantinya akan menjadi dasar bagi PBNU dalam menyampaikan ikhbar kepada warga Nahdlatul Ulama.
“Hasil sidang itsbat akan menjadi dasar bagi PBNU untuk menyampaikan ikhbar kepada warga Nahdlatul Ulama,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kemungkinan yang akan diambil apabila hilal tidak berhasil dirukyat.
“Apabila hilal tidak terlihat dalam rukyatul hilal, maka akan dilakukan istikmal atau penyempurnaan bulan Ramadhan menjadi 30 hari,” ujarnya.
Dengan demikian, potensi 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 semakin menguat.
“Dengan kondisi ini, 1 Syawal 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026,” pungkasnya.
Informasi ini menjadi pedoman awal bagi warga Nahdlatul Ulama dalam menanti kepastian Hari Raya Idulfitri, sembari menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang itsbat.
Semangat kehati-hatian dalam penentuan awal bulan hijriah tersebut mencerminkan komitmen Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi keilmuan falakiyah yang berpijak pada metode hisab dan rukyat secara seimbang.
Editor : Tahmid












