Ternyata yang Sulit di TPQ Bukan Mencari Santri, tetapi Mencari Guru Ngaji

Avatar photo
Seorang ustadz TPQ mengajar para santri dengan penuh semangat, berharap lahir generasi Qur'ani yang cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama

Warta NU Tegal – Sore itu suasana Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tampak seperti biasa. Anak-anak duduk berkelompok membaca iqra, menyetorkan hafalan surat pendek, dan belajar mengeja ayat demi ayat Al-Qur’an. Dari luar, semuanya terlihat berjalan normal. Namun di balik ramainya santri yang memenuhi ruang belajar, tersimpan kegelisahan yang sedang dirasakan para pengelola TPQ.

Banyak orang mengira tantangan terbesar TPQ adalah mencari santri. Padahal, bagi sebagian pengurus dan ustadz, persoalan yang jauh lebih berat justru mencari guru ngaji yang bersedia mengajar secara istiqamah. Santri terus bertambah, tetapi tenaga pengajar hampir tidak bertambah.

Suatu malam setelah kegiatan mengaji selesai, beberapa pengurus berkumpul bersama seorang ustadz yang selama ini mengelola TPQ.

“Kita perlu tambahan guru,” ujar sang ustadz.

“Iya, Ustadz. Kelas semakin banyak,” jawab salah satu pengurus.

“Santrinya juga terus bertambah.”

Mereka pun sepakat untuk mencari tenaga pengajar baru. Harapannya sederhana, yakni mengajak para alumni pesantren yang ada di lingkungan sekitar untuk ikut membantu mengajar.

Mereka optimistis. Sebab di kampung tersebut tidak sedikit pemuda yang pernah mondok di pesantren. Ada yang baru lulus, ada yang sudah lama kembali ke rumah, ada yang dikenal memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik, bahkan ada yang memiliki hafalan cukup banyak.

Satu per satu mereka didatangi. Dengan penuh harapan, ajakan pun disampaikan.

“Mau membantu mengajar di TPQ?”

Namun jawaban yang diterima ternyata beragam.

“Maaf, Ustadz, saya sibuk bekerja.”

“Maaf, saya belum percaya diri.”

“Saya ada kegiatan lain.”

“Nanti dulu, Ustadz.”

Sebagian menolak dengan halus. Sebagian mengiyakan, tetapi tak kunjung datang. Waktu terus berjalan. Minggu berganti bulan. Guru baru belum juga bertambah.

Suatu malam sang ustadz kembali termenung. Ia teringat masa-masa ketika mondok di pesantren. Banyak orang berharap lahir generasi yang memahami agama. Banyak orang ingin anak-anaknya bisa membaca Al-Qur’an. Namun ketika TPQ membutuhkan guru, ternyata tidak mudah menemukan orang yang siap terjun langsung mendampingi mereka.

Padahal mengajar ngaji bukan hanya soal kemampuan membaca Al-Qur’an. Mengajar membutuhkan kesabaran. Menghadapi anak yang ramai, membimbing yang lambat memahami pelajaran, mengulang materi yang sama berkali-kali, hingga tetap hadir meski tubuh lelah dan cuaca tidak bersahabat.

Melihat suaminya termenung, sang istri kemudian bertanya.

“Mas sedang memikirkan apa?”

“Memikirkan guru TPQ.”

“Belum dapat lagi?”

Sang ustadz menggeleng pelan.

“Padahal banyak lulusan pesantren.”

Istrinya lalu menjawab dengan kalimat sederhana yang membuat sang ustadz terdiam.

“Mungkin bisa mengaji tidak selalu berarti siap mengajar.”

Kalimat itu terasa begitu dalam. Sebab mengajar bukan hanya perkara ilmu, tetapi juga soal keikhlasan mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Tidak sedikit guru TPQ yang datang mengajar tanpa memikirkan honor, tetap hadir saat hujan turun, dan tetap istiqamah meski perjuangannya jarang terlihat.

Keesokan harinya, kegiatan TPQ kembali berjalan seperti biasa. Guru yang mengajar masih orang-orang yang sama. Namun semangat mereka tidak berkurang. Sebab mereka percaya bahwa menjaga keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an adalah bagian dari perjuangan yang mulia.

Di sela-sela mengajar, sang ustadz menengadahkan doa dalam hati.

“Ya Allah, jika Engkau menumbuhkan banyak santri di TPQ ini, maka tumbuhkan pula hati-hati yang bersedia menjadi guru bagi mereka.”

Karena sesungguhnya, mencetak santri yang pandai membaca Al-Qur’an memang penting. Namun melahirkan generasi yang bersedia mengajarkan ilmunya kepada generasi berikutnya jauh lebih penting.

Ketika semakin banyak orang menginginkan anaknya mampu mengaji, maka umat juga membutuhkan semakin banyak orang yang bersedia menjadi guru ngaji. Di situlah keberlangsungan dakwah, pendidikan, dan perjuangan Islam akan terus terjaga dari generasi ke generasi.

Oleh: Kiai Abdul Ghoni
Ketua Badko LPQ Kecamatan Pagerbarang

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *