Bojong, Warta NU Tegal
Tradisi ziarah makam ulama dan wali merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Nahdliyin. Melalui ziarah, umat tidak hanya mendoakan para ulama yang telah wafat, tetapi juga mengambil pelajaran dari perjuangan, keteladanan, dan karomah yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.
Di Kabupaten Tegal, terdapat puluhan makam ulama dan wali yang hingga kini terus diziarahi masyarakat. Selain menjadi pusat spiritual umat, makam-makam tersebut juga menyimpan berbagai kisah perjuangan dakwah Islam yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang cukup dikenal adalah makam Mbah Kiai Tarhadi yang berada di Dusun Blanten, Desa Cikura, Kecamatan Bojong.
Nama Mbah Kiai Tarhadi tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Bojong dan Talang. Beliau dikenal sebagai sahabat dekat Syeikh Said bin Syeikh Armia, ulama kharismatik pengasuh Pondok Pesantren Attauhiddiyyah Cikura Bojong dan Giren Talang yang memiliki peran besar dalam penyebaran ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Kabupaten Tegal.
Di kawasan Cikura sendiri, masyarakat mengenal sejumlah tokoh ulama besar yang memiliki jasa besar dalam membangun tradisi pesantren. Selain makam Mbah Kiai Armia bin Kiai Kurdi, pendiri Pondok Pesantren Attauhiddiyyah Cikura yang setiap tahun diperingati haulnya oleh ribuan jamaah, makam Mbah Kiai Tarhadi juga menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat dari berbagai daerah.
Menurut penuturan A Azis Nurizun, Founder Yayasan Semesta Ilmu Nurul Iman, sosok Mbah Kiai Tarhadi termasuk ulama yang tidak banyak meninggalkan catatan tertulis mengenai silsilah maupun perjalanan hidupnya. Namun nama beliau tetap hidup dalam ingatan masyarakat melalui keteladanan dan kisah-kisah yang diwariskan para sesepuh.
Azis menuturkan bahwa beberapa tahun lalu dirinya bersama Habib Nizar bin Ali Al Habsyi berkesempatan sowan kepada Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan. Dalam pertemuan tersebut, Habib Luthfi menjelaskan bahwa Mbah Kiai Tarhadi termasuk kategori wali mastur, yakni wali Allah yang keberadaannya tidak banyak diketahui masyarakat luas semasa hidupnya.
Dalam tradisi tasawuf Ahlussunnah wal Jamaah, istilah wali mastur merujuk pada hamba-hamba pilihan Allah yang menyembunyikan kemuliaan dirinya dan lebih memilih hidup sederhana di tengah masyarakat. Keberadaan mereka sering kali baru dikenal setelah wafat melalui berbagai jejak dakwah dan kesaksian masyarakat yang pernah berinteraksi dengannya.
Masyarakat Desa Cikura dan wilayah sekitarnya hingga kini masih menyimpan berbagai kisah mengenai karomah yang dinisbatkan kepada Mbah Kiai Tarhadi. Kisah-kisah tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari penghormatan kepada ulama yang diyakini memiliki kedekatan spiritual dengan Allah SWT.
Salah satu karomah yang paling sering diceritakan adalah kemampuan yang oleh masyarakat disebut sebagai “melipat bumi”. Istilah ini merujuk pada kemampuan seorang wali menempuh perjalanan jauh dalam waktu yang sangat singkat atas izin dan pertolongan Allah SWT.
Para sesepuh Desa Sitail, Kecamatan Jatinegara, yang bertetangga dengan Desa Cikura, menuturkan bahwa Mbah Kiai Tarhadi memiliki seekor kuda yang biasa digunakan untuk perjalanan dakwah. Kuda tersebut juga sering dipinjamkan kepada Kiai Said untuk menunjang aktivitas mengajar antara Pesantren Attauhiddiyyah Cikura dan Giren Talang.
Suatu ketika, diceritakan Mbah Kiai Tarhadi dan Kiai Said melakukan perjalanan bersama dari Cikura menuju Giren. Saat itu Kiai Said menunggang kuda milik Mbah Tarhadi, sedangkan beliau memilih berjalan kaki. Namun ketika Kiai Said tiba di Giren, Mbah Tarhadi justru telah lebih dahulu sampai di lokasi tujuan.
Kisah tersebut hingga kini masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat dan sering diceritakan oleh para sesepuh sebagai salah satu bentuk karomah yang Allah anugerahkan kepada para wali-Nya. Meskipun demikian, masyarakat pesantren meyakini bahwa karomah bukanlah tujuan utama kehidupan seorang wali, melainkan buah dari keikhlasan, ketakwaan, dan kedekatan kepada Allah SWT.
Selain kisah perjalanan tersebut, masyarakat juga mengenang peristiwa lain yang berkaitan dengan seekor kuda milik Mbah Kiai Tarhadi. Diceritakan bahwa ketika kuda tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat, jumlahnya mencukupi kebutuhan warga di beberapa desa sekaligus, sesuatu yang menurut ukuran logika biasa sulit dijelaskan.
Bagi masyarakat Nahdliyin, kisah-kisah semacam ini dipandang sebagai bagian dari kemuliaan yang Allah tampakkan kepada para kekasih-Nya. Namun yang lebih penting dari itu adalah meneladani akhlak, ketulusan dakwah, serta perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Kini, Mbah Kiai Tarhadi dimakamkan di belakang mushala yang dahulu beliau dirikan di Dusun Blanten, Desa Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Hingga saat ini, makam tersebut masih ramai diziarahi masyarakat yang datang untuk berdoa, bertawassul, dan mengenang jasa-jasa beliau dalam perjuangan dakwah Islam di bumi Tegal.
Keberadaan makam Mbah Kiai Tarhadi menjadi pengingat bahwa sejarah Islam di Kabupaten Tegal dibangun oleh para ulama yang berjuang dengan penuh keikhlasan. Terlepas dari berbagai kisah karomah yang berkembang di tengah masyarakat, warisan terbesar beliau adalah keteladanan dalam berdakwah, persahabatan dengan para ulama, serta kontribusinya dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Dari sosok wali yang tersembunyi inilah generasi hari ini belajar bahwa kemuliaan sejati lahir dari keikhlasan berkhidmah kepada agama dan umat.
(Sumber dan penuturan: A Azis Nurizun, Founder Yayasan Semesta Ilmu Nurul Iman | Editor: Tahmid)












