Jatinegara, Warta NU Tegal
Peringatan Haul ke-59 KH. Adnan dan Haul Umum Dukuh Blisuk yang digelar di halaman Masjid Darul Maghfiroh, Pedukuhan Blisuk RT 02 RW 01, Desa Argatawang, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Kamis (9/7/2026), berlangsung dengan penuh khidmat.
Ratusan kaum muslimin dan muslimat menghadiri kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama sekaligus menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah oleh KH. Lukmanul Hakim dari Tegal. Dalam tausiyahnya, beliau menjelaskan bahwa tradisi haul bukan sekadar mengenang orang yang telah wafat, melainkan menjadi momentum memperbanyak amal saleh yang membawa keberkahan bagi yang masih hidup maupun yang telah mendahului.
KH. Lukmanul Hakim menjelaskan bahwa haul bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan rangkaian ibadah yang memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.
“Haul mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah, mendoakan para pendahulu, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Beliau menyampaikan bahwa kebaikan pertama dalam pelaksanaan haul adalah membaca Al-Qur’an. Menurutnya, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menjadi cahaya yang membawa keberkahan bagi pembacanya serta menjadi amal saleh yang pahalanya dapat dihadiahkan kepada orang-orang yang telah wafat.
“Kebaikan kedua adalah berdzikir kepada Allah SWT. Dzikir menjadikan hati tenang, memperkuat keimanan, dan mengingatkan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah SWT,” jelasnya
Selanjutnya, beliau menerangkan bahwa kebaikan ketiga adalah mengirim doa melalui pembacaan Surah Yasin dan tahlil.
“Tradisi ini merupakan bentuk bakti seorang anak kepada orang tua, murid kepada guru, dan umat kepada para ulama yang telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. Doa adalah hadiah terbaik yang terus mengalir bagi mereka,” ungkapnya.
KH. Lukmanul Hakim juga menekankan pentingnya sedekah sebagai kebaikan keempat dalam setiap pelaksanaan haul. Menurutnya, berbagi rezeki kepada sesama menjadi bukti kepedulian sosial sekaligus bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Semangat berbagi inilah yang sejak dahulu menjadi ciri khas tradisi Nahdlatul Ulama.
Adapun kebaikan kelima, lanjut beliau, adalah silaturahmi. Momentum haul menjadi ruang bertemunya masyarakat dari berbagai kalangan untuk saling menyapa, mempererat persaudaraan, dan menjaga kerukunan.
“Silaturahmi adalah amalan yang mendatangkan keberkahan umur, melapangkan rezeki, serta memperkuat persatuan umat,” katanya.
Di akhir tausiyahnya, KH. Lukmanul Hakim mengajak seluruh warga Nahdliyyin agar terus melestarikan budaya haul sebagai warisan para ulama. Menurutnya, selama di dalamnya diisi dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, mengirim doa, bersedekah, dan mempererat silaturahmi, maka haul akan senantiasa menjadi media dakwah yang menghadirkan keberkahan bagi umat.
Editor : Tahmid
Kontributor : Zidni Ilma Nafiah












