Haul Mbah Adipati Bojong, Gus Muwafiq: Merawat Sejarah Leluhur Berarti Menjaga Jati Diri Bangsa

Avatar photo
KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) menyampaikan ceramah dalam Haul Mbah Adipati Bojong dan Haul Umum Desa Sumbarang di Maqbarah Dukuh Bojong, Desa Sumbarang, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Senin (20/7/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Masyarakat dari berbagai wilayah menghadiri Haul Mbah Adipati Bojong dan Haul Umum Desa Sumbarang yang digelar di Maqbarah Dukuh Bojong, Desa Sumbarang, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, pada Senin (20/7/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Pengurus MWCNU Kecamatan Jatinegara, di antaranya Rais Syuriyah KH Fakhrurozi, Mustasyar KH Tasrifin Salim, Camat Jatinegara H. Sugeng, para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh lainya. Tausiyah utama disampaikan oleh KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), ulama Nahdlatul Ulama asal Yogyakarta yang dikenal sebagai pakar sejarah dan budaya Nusantara.

Dalam tausiyahnya, Gus Muwafiq menegaskan bahwa tradisi haul, ziarah, dan peringatan jasa para leluhur merupakan bagian dari karakter masyarakat Jawa yang selaras dengan ajaran Islam. Menurutnya, budaya mengingat jasa orang-orang terdahulu bukan sekadar tradisi, melainkan sarana menjaga kesinambungan sejarah dan membangun kesadaran spiritual.

“Wong Jawa kuwi gampang dielingke amarga tansah ana peringatan. Nabi diperingati, para wali diperingati, leluhur uga diperingati. Kuwi cara supaya manungsa ora gampang lali marang asal-usule.” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mudah lupa. Karena itu, Islam menghadirkan berbagai momentum ibadah dan peringatan agar manusia terus diingatkan kepada Allah, Rasul-Nya, para ulama, serta jasa para pendahulu.

“Manungsa iku panggonane luput lan lali. Mula perlu ana peringatan supaya tansah eling marang asal-usul lan tujuan uripe.” katanya.

Gus Muwafiq mengajak jamaah mensyukuri nikmat terbesar yang diberikan Allah, yakni dilahirkan sebagai manusia. Menurutnya, manusia merupakan ciptaan dengan kedudukan paling mulia dibanding makhluk lainnya sehingga wajib menjaga amanah sebagai khalifah di bumi.

“Lair dadi manungsa iku karunia paling gedhe. Allah nggawe manungsa dadi prototype paling dhuwur lan dadi khalifah ing bumi.” ujarnya.

Baca Lainnya  Ustadz Syaiful Aziz: Syukur dan Penguatan Potensi Diri Kunci Hadapi Tantangan Generasi Z di Era Digital

Ia kemudian mengingatkan bahwa manusia adalah penghuni terakhir yang diciptakan di bumi sehingga harus menghormati hukum-hukum alam yang telah Allah tetapkan jauh sebelum manusia hadir. Alam memiliki aturan sendiri yang tidak boleh dilanggar.

“Alam wis nduweni hukume dhewe. Yen gunung digunduli, wit-witan ditebang, banjur longsor lan banjir, aja nyalahke sapa-sapa. Kuwi jenenge Sunatullah.” tegasnya

Lebih lanjut, Gus Muwafiq menegaskan bahwa kerusakan lingkungan terjadi bukan karena agama, melainkan akibat manusia melanggar hukum alam. Pohon menghasilkan oksigen dan menjaga sumber air. Ketika manusia merusaknya, maka dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri.

“Manungsa urip nganggo oksigen saka wit-witan. Nek wit-wite ditebang kabeh, sumber napase ya ilang. Hukum alam ora milih agama utawa suku.” ungkapnya.

Dalam perspektif sosial, ia menjelaskan bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri. Semua kebutuhan manusia saling berkaitan sehingga setiap orang wajib menghargai peran orang lain.

“Ora ana manungsa sing iso urip dhewe. Kabeh urusan urip iki sambung-menyambung. Sing apik iku tansah ana amarga akeh wong melu gawe apik.” jelasnya..

Gus Muwafiq kemudian menyinggung pentingnya menghargai perempuan sebagaimana ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab besar dalam memuliakan istri dan keluarganya. Dengan gaya khas yang diselingi humor, ia menegaskan bahwa perempuan harus dimuliakan, bukan disakiti.

“Perempuan iku amanah. Yen pengin keluargane apik, ya bojone kudu dimulyakake lan dicukupi kabutuhane.” katanya

Menurutnya, Islam mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar hak. Seorang suami bertanggung jawab memberikan nafkah, perlindungan, serta menciptakan kebahagiaan bagi keluarganya. Hal itu merupakan implementasi nyata dari ajaran syariat dalam kehidupan sehari-hari.

Berbicara mengenai sejarah, Gus Muwafiq menegaskan bahwa seluruh peradaban memiliki akar sejarah masing-masing. Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, telah memiliki kebudayaan tinggi jauh sebelum Islam datang. Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, melainkan menyempurnakan nilai-nilai yang sudah baik.

Baca Lainnya  Haul Syekh Armia Cikura ke-94, Al Habib Quraisy Baharun: Cinta kepada Ulama Menjadi Jalan Meraih Keberkahan dan Syafaat Rasulullah

“Islam ora ngrusak budaya. Islam nata budaya sing wis ana supaya selaras karo tauhid lan akhlakul karimah.” jelasnya.

Ia memberi contoh bahwa berbagai tradisi seperti sedekah bumi, ziarah, kenduri, dan peringatan leluhur mengalami proses Islamisasi oleh para wali sehingga menjadi media dakwah yang memperkuat keimanan masyarakat. Menurutnya, para wali sangat bijaksana dalam menyampaikan Islam kepada masyarakat Nusantara.

Gus Muwafiq juga mengingatkan pentingnya menjaga sejarah para wali dan pejuang Nusantara. Ia menolak upaya menghilangkan identitas sejarah lokal hanya karena kepentingan tertentu.

“Ojo gampang ngganti sejarah. Wong sing mbangun wilayah iki para wali lan para pejuang. Sejarah kudu dijaga supaya generasi ora kelangan jati diri.” ungkapnya.

Secara khusus, ia mengaitkan sejarah Mbah Adipati Bojong dengan perjuangan melawan penjajahan. Menurutnya, kawasan Bojong memiliki hubungan erat dengan jejak perjuangan para tokoh Nusantara sehingga haul menjadi momentum mengenang jasa para pejuang.

“Mbah Adipati Bojong lan para leluhur iku bagian saka sejarah perjuangan bangsa. Mula kudu dieling lan diajeni.” tegasnya

Ia menambahkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya sendiri. Negara-negara maju selalu memperkenalkan tokoh, budaya, dan sejarah bangsanya kepada generasi muda. Indonesia pun harus melakukan hal yang sama agar tidak kehilangan kebanggaan terhadap jati dirinya.

Dalam penjelasannya tentang Islam Nusantara, Gus Muwafiq mengatakan bahwa keberhasilan dakwah Islam di Indonesia terjadi karena para wali mampu berdialog dengan budaya tanpa menghilangkan prinsip akidah. Oleh sebab itu, tradisi keagamaan seperti haul, maulid, tahlil, dan ziarah menjadi bagian dari kekayaan dakwah Islam di Nusantara.

Menutup tausiyahnya, Gus Muwafiq mengajak seluruh jamaah agar terus menjaga warisan para ulama, wali, dan leluhur melalui ilmu, akhlak, persatuan, serta kecintaan kepada tanah air.

Baca Lainnya  Ustadz Ahmad Toha: Pendidikan Anak Berbasis Adab dan Penguatan Akidah di Tengah Tantangan Teknologi Zaman

“Ojo nganti kelangan sangkan paraning dumadi. Wong sing ngerti asal-usule bakal luwih gampang njaga agama, bangsa, lan negarane. Muga-muga kabeh oleh berkah lan manfaat.” pungkasnya

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *