Bojong, Warta NU Tegal
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan Istighotsah Kubro digelar di Aula Putra Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kurdi, Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Kamis malam Jumat, (20/8/2026). Kegiatan tersebut diisi dengan pengajian dan tausiyah keagamaan yang menekankan pentingnya meneladani kasih sayang Rasulullah SAW sekaligus menghidupkan semangat amar makruf nahi mungkar.
Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kiai Kurdi, KH Ahmad Sa’idi bin KH Sa’id, mengajak jamaah menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana memperkuat niat menuntut ilmu, memperbaiki amal, serta mengenal Allah SWT dan Rasulullah SAW. Acara itu juga dihadiri Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Thohir, cicit pengarang kitab Sullamut Taufiq, yang dijadwalkan memberikan ijazah sejumlah kitab dan sanad.
“Alhamdulillah, kita berkumpul di tempat ini tidak ada niat lain selain mengaji. Mengaji itu berarti menaati siapa? Menaati Gusti Allah dan Rasulullah SAW. Sebab, orang yang tidak mengaji akan bodoh, dan kebodohan dalam agama dapat menyebabkan hati dan amal menjadi rusak,” kata KH Ahmad Sa’idi.
“Karena itu, mari kita perbaiki niat dengan tuntunan para ulama. Di antaranya niat yang disusun Al-Imam Qutbul Irsyad Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, nawaitu ta’alluma wat ta’lim wa tadzakkura. Mudah-mudahan dengan niat yang benar, Allah SWT mengabulkan amal baik kita dan mengampuni dosa-dosa kita,” ujarnya.
“Kalau berbicara tentang tugas paling berat yang diemban Nabi Muhammad SAW, salah satunya adalah amar makruf nahi mungkar. Allah menggambarkan Rasulullah sebagai pribadi yang raufur rahim, penuh kasih sayang kepada umatnya,” tutur KH Ahmad Sa’idi.
“Rasulullah SAW merasakan beratnya penderitaan yang dialami umat. ‘Azizun ‘alaihi ma ‘anittum, apa saja yang menyusahkan umat menjadi beban bagi beliau. Sebagaimana orang tua merasa sedih ketika melihat anaknya sakit, bodoh, atau mengalami kesulitan,” jelasnya.
“Kasih sayang bukan berarti membiarkan semua keinginan anak. Ketika anak sedang sakit kemudian meminta es tetapi tidak diberi, itu bukan berarti orang tua tidak sayang. Justru karena cinta dan kasih sayang, orang tua melarang sesuatu yang dapat membahayakan anak,” katanya.
“Begitu pula Rasulullah SAW ketika melakukan amar makruf nahi mungkar. Beliau memerintah dan melarang dengan dasar kasih sayang. Karena tujuan akhirnya adalah menyelamatkan umat, bukan menyakiti atau membenci,” lanjutnya.
“Ketika seseorang diperintah melakukan sesuatu lalu dia menolak, terkadang hatinya merasa tersakiti. Namun Rasulullah SAW memiliki cara yang indah dalam menyampaikan perintah maupun larangan, sehingga orang yang menerima nasihat tidak merasa direndahkan,” ungkap KH Ahmad Sa’idi.
“Dasar amar makruf nahi mungkar haruslah kasih sayang. Kita menyampaikan kebaikan bukan karena membenci orang yang melakukan kesalahan, tetapi karena ingin agar dia selamat. Inilah yang menjadi teladan dari Rasulullah SAW,” tegasnya.
“Perkara mungkar itu banyak. Judi adalah mungkar, zina adalah mungkar, menggunjing orang juga mungkar. Tetapi ada kemungkaran yang lebih besar daripada semua itu, yaitu al-juhlu billah, tidak mengenal Allah SWT,” katanya.
“Orang yang tidak memahami Allah berarti membawa kebodohan yang sangat besar. Karena itu, mengenalkan manusia kepada Allah SWT merupakan bagian yang sangat penting dari amar makruf nahi mungkar,” ujar KH Ahmad Sa’idi.
“Nabi Muhammad SAW bersabda, man ra’a minkum munkaran fal yughayyirhu biyadih. Siapa yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya sesuai kemampuan. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya,” jelasnya.
“Jangan sampai kita keliru memahami hadis tersebut. Mengubah kemungkaran harus disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama, tetapi setiap orang tetap mempunyai tanggung jawab sesuai kapasitasnya,” katanya.
“Setiap tahun bahkan setiap hari ada manusia yang lahir ke dunia. Mereka lahir tanpa mengetahui apa pun. Allah berfirman bahwa manusia dikeluarkan dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu. Karena itu, orang tua mempunyai kewajiban mendidik anaknya agar mengenal Allah dan Rasulullah SAW,” tutur KH Ahmad Sa’idi.
“Anak-anak yang belum mengetahui agama harus dibimbing. diajarkan Al-Qur’an, membimbing anak membaca kitab dan mengenal Allah, semuanya termasuk amal amar makruf nahi mungkar,” tegasnya.
“Kalau ada anak tidak bisa membaca Al-Qur’an, jangan dibiarkan. Kita harus mengajarinya. Mengajak anak mengaji, dan membimbing mereka menjadi lebih baik merupakan bagian dari amar makruf,” ujarnya.
“Karena itu, jangan hanya memahami kemungkaran sebagai perkara yang terlihat besar seperti perjudian atau perzinaan. Kebodohan terhadap Allah juga merupakan kemungkaran besar yang harus kita perbaiki bersama,” lanjutnya.
“Kalau masyarakat tidak memahami sifat-sifat Allah, bagaimana mereka akan mengenal Tuhannya? Misalnya memahami sifat dua puluh. Anak-anak perlu dikenalkan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk, Allah tidak memiliki permulaan dan tidak memiliki akhir,” kata KH Ahmad Sa’idi.
“Ketika masyarakat memahami bahwa Allah tidak dapat dibayangkan seperti makhluk dan mengetahui sifat-sifat-Nya, berarti kita sedang membawa mereka dari kegelapan menuju cahaya. Itulah bagian dari tugas dakwah dan pendidikan agama,” ungkapnya.
“Dakwah harus dilakukan dengan kemampuan yang kita miliki. Kalau memiliki kekuasaan, gunakan kekuasaan untuk kebaikan. Kalau memiliki kemampuan berbicara, gunakan lisan untuk menyampaikan kebenaran. Kalau tidak mampu, setidaknya hati kita tetap membenci kemungkaran,” jelas KH Ahmad Sa’idi.
“Jangan berhenti berusaha agar masyarakat mengenal Allah SWT. Kita berusaha bagaimana Tegal memahami Allah, Pemalang memahami Allah, Brebes memahami Allah, Pekalongan memahami Allah, dan daerah-daerah lainnya juga memahami agama dengan benar,” tuturnya.
“Tujuan Rasulullah SAW diutus adalah membawa manusia dari az-zulumat ilan-nur, dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu, dakwah dan pengajaran agama harus terus dilakukan agar umat tidak terjebak dalam kebodohan,” katanya.
“Alhamdulillah, malam ini kita juga kedatangan Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Thohir, cicit pengarang kitab Sullamut Taufiq. Insyaallah jamaah akan mendapatkan ijazah dan sanad sejumlah kitab yang bersambung kepada para ulama,” ujar KH Ahmad Sa’idi.
“Di antaranya terdapat ijazah Sullamut Taufiq, kitab-kitab fikih, Majmu’, serta sejumlah qashidah dan shalawat. Ini merupakan kesempatan yang baik bagi kita untuk mengambil keberkahan ilmu dan sanad dari para ulama,” katanya.
“Kita harus senang terhadap ilmu dan orang-orang yang membawa kita kepada kebaikan. Jangan sampai Allah SWT menjadikan kita mencintai sesuatu yang tidak baik. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita mencintai perkara-perkara yang baik, yang dicintai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW,” ungkapnya.
“Karena itu, mari kita dengarkan nasihat para habaib dan ulama dengan baik, dengan mendengar kita mengetahui, dengan mengetahui kita dapat memahami, dan dengan memahami kita dapat menyimpan ilmu untuk diamalkan dalam kehidupan,” tuturnya.
“Semoga Allah SWT membuka kepada kita futuhal ‘arifin, memberikan pemahaman agama yang benar, ilmu yang bermanfaat, serta petunjuk menuju jalan yang lurus. Mudah-mudahan majelis ini menjadi sebab bertambahnya kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan semakin kuatnya hubungan kita dengan Allah SWT,” pungkas KH Ahmad Sa’idi.
Editor: Tahmid












