Mengenal Akhlak Nabi Menumbuhkan Mahabbah, KH Muhammad Khasani: Rasulullah Selalu Mengutamakan Umat

Avatar photo
Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kiai Kurdi, KH Muhammad Khasani bin KH Sa’id.

Bojong, Warta NU Tegal

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan Istighotsah Kubro digelar di Aula Putra Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kurdi, Cikura, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Kamis malam Jumat (20/8/2026). Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dengan diisi pengajian dan tausiyah tentang keteladanan akhlak Rasulullah SAW.

Kegiatan yang menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW tersebut turut menghadirkan Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman bin Tohir, cicit pengarang kitab Sulamuttaufiq. Dalam kesempatan itu, jamaah juga memperoleh ijazah sejumlah kitab dan sanad. Pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syekh Armia bin Kiai Kurdi, KH Muhammad Khasani bin KH Sa’id, dalam ceramahnya mengajak jamaah mengenal lebih dekat sifat dan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai jalan menumbuhkan mahabbah kepada beliau.

“Kalau kita ingin menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah SAW, maka salah satu jalannya adalah dengan mengenal syamail atau sifat-sifat dan akhlak beliau. Saya membaca dalam Kitab Wasaili Rasulullah SAW, inna ma’rifata syamailin-nabi sallallahu alaihi wasallam tastad’i ila mahabbatihi, bahwa mengenal akhlak dan sifat-sifat Baginda Rasulullah SAW akan menarik seseorang untuk mencintai beliau,” tutur KH Muhammad Khasani.

“Manusia itu secara fitrah memiliki kecenderungan mencintai sifat-sifat yang indah dan orang yang memiliki sifat tersebut. Karena itu, tidak ada manusia yang lebih indah akhlaknya dan lebih sempurna sifatnya daripada Nabi Muhammad SAW. Ketika kita semakin mengenal keindahan akhlak beliau, insyaallah rasa cinta kepada Rasulullah juga semakin tumbuh,” lanjutnya.

“Di antara syamail Rasulullah SAW, ada kisah ketika Nabi masuk ke sebuah kebun. Di sana beliau mengambil dua batang siwak. Yang satu bentuknya lurus dan yang lainnya bengkok. Ketika bersama para sahabat, Nabi memberikan siwak yang lurus kepada sahabatnya, sementara yang bengkok beliau pegang untuk dirinya sendiri,” jelasnya.

Baca Lainnya  Empat Klasifikasi Pemuda Menurut Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi

“Kalau kita lihat, tentu siwak yang lurus itu lebih bagus daripada yang bengkok. Namun Rasulullah SAW justru memberikan yang lurus kepada sahabatnya dan memilih yang bengkok untuk dirinya. Ini menunjukkan bagaimana beliau mendahulukan orang lain dan tidak mengambil sesuatu yang lebih baik untuk kepentingan dirinya sendiri,” ungkapnya.

“Ketika sahabat tersebut bertanya, ‘Wahai Rasulullah, panjenengan lebih berhak mendapatkan siwak yang lurus,’ Nabi SAW menjelaskan bahwa tidaklah dua orang bersahabat, meskipun persahabatan itu hanya berlangsung sesaat, kecuali kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang persahabatan tersebut,” katanya.

“Artinya, setiap hubungan persahabatan akan dipertanyakan. Bagaimana seseorang memperlakukan sahabatnya? Apakah ia berbuat baik atau justru menyakiti? Karena itu, dalam bergaul dengan orang lain, walaupun hanya sebentar, kita harus berusaha memberikan manfaat dan mengutamakan kebaikan bagi orang lain,” terang KH Muhammad Khasani.

“Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar jangan selalu berpikir apa yang kita dapatkan dari orang lain, tetapi bagaimana kita dapat memberikan sesuatu yang lebih baik kepada orang lain. Siwak yang lurus diberikan kepada sahabat, sedangkan yang bengkok beliau ambil untuk dirinya. Inilah sebagian dari keindahan akhlak Baginda Rasulullah SAW,” tuturnya.

“Selain itu, terdapat kisah Sayyidah Aisyah RA yang juga menggambarkan kelembutan Rasulullah SAW. Ketika melihat Nabi dalam keadaan tenang, nyaman, dan lapang, Aisyah berkata, ‘Ya Rasulullah, ud’uni,’ atau ‘Wahai Rasulullah, doakanlah saya.’ Ini menunjukkan bagaimana Aisyah memahami keadaan dan waktu yang tepat ketika hendak meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW,” paparnya.

“Dari kisah tersebut kita juga belajar pentingnya melihat timing dalam berkomunikasi. Kalau seseorang hendak meminta sesuatu kepada orang lain, hendaknya memperhatikan kondisi orang yang akan dimintai. Jangan sampai ketika orang sedang susah, sedang marah, atau sedang banyak pikiran, kita justru menambah bebannya,” ujarnya.

Baca Lainnya  Khutbah Jumat: Meneladani Akhlak Mulia Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

“Rasulullah SAW kemudian berdoa, ‘Allahummaghfir li Aisyah ma taqaddama min dzambi wa ma ta’akhkhar, wa ma asrartu wa ma a’lantu.’ Ya Allah, ampunilah dosa Aisyah, baik dosa yang telah lalu maupun yang akan datang, baik yang tersembunyi maupun yang tampak,” jelasnya.

“Doa tersebut membuat Sayyidah Aisyah RA sangat bahagia. Dalam riwayat yang disampaikan, karena begitu gembiranya Aisyah tertawa hingga kepalanya jatuh di pangkuan Rasulullah SAW. Kemudian Nabi bertanya, ‘Apakah doaku membuatmu bahagia, wahai Aisyah?’ Aisyah menjawab, ‘Bagaimana mungkin aku tidak bahagia dengan doamu, wahai Rasulullah?’” tuturnya.

“Dari sini terlihat betapa Rasulullah SAW memiliki kasih sayang yang sangat besar kepada orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga memberikan ketenangan, perhatian, doa, dan kebahagiaan kepada keluarga serta para sahabatnya,” katanya.

“Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kepada Sayyidah Aisyah bahwa doa tersebut bukan hanya untuk dirinya. Beliau menjelaskan, wallahi innaha lada’awati li ummati fi kulli salatin, bahwa doa itu juga merupakan doa yang beliau panjatkan untuk umatnya dalam setiap salat,” ungkap KH Muhammad Khasani.

“Betapa luas kasih sayang Baginda Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa yang beliau panjatkan bukan hanya untuk orang yang berada di dekat beliau, tetapi untuk seluruh umat. Termasuk kita yang berada di Tegal dan di mana pun berada, semoga mendapatkan bagian dari kasih sayang dan doa Rasulullah SAW,” lanjutnya.

“Inilah sebagian dari syamail Nabi Muhammad SAW. Kalau kita benar-benar mengenal beliau, kita akan semakin mencintai beliau. Dan kalau sudah mencintai Rasulullah, maka kita akan terdorong untuk meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, bertetangga, bermasyarakat maupun dalam kehidupan berbangsa,” tegasnya.

“Dalam kisah yang lain, disebutkan tentang kemuliaan Rasulullah SAW. Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan menyampaikan bahwa Allah SWT berfirman, ‘In kuntu ittakhadztu Ibrahima khalilan, fattahtuka habiban.’ Jika Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil, maka Rasulullah SAW dijadikan sebagai habib, kekasih yang dicintai,” jelasnya.

Baca Lainnya  KH. Fahrurozi: Niat yang Lurus Menjadi Pondasi Mengabdi di Nahdlatul Ulama

“Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan, ma khalaqtu khalqan akrama alayya minka ya Rasulullah, bahwa tidak ada makhluk yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan dan kemuliaan Baginda Rasulullah SAW,” paparnya.

“Allah menciptakan dunia dan segala isinya agar manusia mengenal berbagai kebesaran dan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sekaligus mengenal kemuliaan dan kedudukan Rasulullah SAW. Karena itu, mengenal Nabi bukan sekadar mengetahui nama, nasab, atau sejarah beliau, tetapi juga mengenal akhlaknya untuk kemudian kita praktikkan dalam kehidupan,” tuturnya.

“Kalau kita menyadari betapa luhur kedudukan Rasulullah SAW, maka momentum Maulid Nabi jangan berhenti pada perayaan dan pembacaan pujian saja. Maulid harus menjadi sarana memperbarui cinta kepada Rasulullah, memperbanyak shalawat, memperbaiki akhlak, mempererat persaudaraan, dan semakin dekat kepada Allah SWT,” pungkas KH Muhammad Khasani bin KH Sa’id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *