lapsus  

Menelusuri Jejak KH Hasyim Asy’ari di Masjid Gedang Jombang, dari Ziarah hingga Cangkrukan Santri

Liputan Khusus Muktamar ke-35 NU (4)

Avatar photo
Masjid kecil di Desa Ngendang, namun memiliki arti besar dalam sejarah. Di tempat inilah K.H. Hasyim Asy’ari lahir, belajar, dan mengajar.

Jombang, Warta NU Tegal

Perjalanan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang tidak hanya membawa pada hiruk-pikuk agenda muktamar. Di sela perjalanan, terdapat kesempatan untuk menziarahi makam ulama, membaca Yasin dan tahlil, sekaligus menelusuri jejak sejarah lahirnya tradisi keilmuan pesantren yang menjadi bagian penting dari perjalanan NU.

Sekitar pukul 14.00 WIB, setelah berziarah dan mendoakan para ulama di kompleks pesantren, penulis melanjutkan perjalanan menuju makam Mbah Mustofa. Di tengah perjalanan tersebut, penulis juga menerima telepon dari Rektor IAINU Kebumen, Bambang Sucipto, yang menginformasikan rencana pengembalian kaos Muktamar kepada rombongan PCNU Kebumen yang berada di lokasi kegiatan.

Namun, perjalanan siang itu justru membawa penulis pada sebuah pengalaman yang tidak direncanakan. Ketika berjalan sekitar 50 meter ke belakang dari kawasan makam Mbah Mustofa, penulis bertemu dengan sejumlah santri dan diarahkan untuk melepas alas kaki karena memasuki bangunan tua yang memiliki nilai sejarah. Dari sinilah perjalanan berlanjut menuju Masjid Gedang, sebuah masjid kecil yang menyimpan jejak penting KH Hasyim Asy’ari.

Masjid Gedang, Bangunan Kecil dengan Sejarah Besar

Seorang santri mengingatkan bahwa bangunan tersebut merupakan bagian dari peninggalan bersejarah. Masjid yang dikenal sebagai Masjid Gedang itu berada di kawasan Tambakrejo, Jombang.

Menurut penuturan Riski Dwi Ramadhan Al Usmani dan Bintang Aliminudin, santri yang ditemui penulis, kawasan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah pendidikan Islam dan pesantren. Keduanya merupakan santri Pondok Pesantren Al Usmani yang berdiri sejak akhir 1990-an dan mulai beraktivitas pada sekitar tahun 2000.

Masjid Gedang bukan sekadar bangunan ibadah. Tempat tersebut menjadi bagian dari jejak masa kecil KH Hasyim Asy’ari, ulama pendiri Nahdlatul Ulama yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam sejarah pesantren dan perjuangan kebangsaan Indonesia.

Baca Lainnya  PCNU Kabupaten Tegal H Ahmad Syaiful Bahri: MWCNU Jatinegara Jadi Role Model, Klinik Pratama NU Bukti Kekompakan dan Khidmah Nyata
Masjid Al-Utsmani juga dikenal dengan nama Masjid Gedang. (Foto: Warta NU Tegal / Eko Wahyudi Sagino)

Sebuah keterangan sejarah yang terpampang mengenai masjid tersebut menyebutkan:

“Sebuah masjid ketjil di desa Ngendang, tetapi besar artinja. Di desa ini lahir K.H. Hasjim Asj’ari dan dalam mesdjid ketjil ini ia pernah beladjar dan mengadjar.”

Masjid kecil itu menjadi saksi perjalanan pendidikan KH Hasyim Asy’ari pada masa kecil. Dalam tradisi keluarga pesantren, beliau mendapatkan dasar-dasar ilmu keislaman dari ayahnya, KH Asy’ari, serta kakeknya dari jalur ibu, KH Utsman.

Karena itu, Masjid Gedang memiliki makna penting dalam sejarah intelektual dan spiritual KH Hasyim Asy’ari. Dari tempat sederhana seperti inilah tradisi belajar, mengajar, mengaji, dan pengabdian kepada umat terus tumbuh.

Cangkrukan Santri, Membicarakan Sejarah

Menariknya, suasana di sekitar Masjid Gedang pada siang itu tidak terasa kaku seperti berada di sebuah situs sejarah. Sejumlah santri tampak duduk santai, menikmati kopi dan berbincang dalam suasana cangkrukan.

Penulis kemudian berkenalan dan berbincang dengan para santri tersebut. Percakapan berkembang dari cerita pesantren hingga sejarah perjalanan bangsa.

Di atas meja, tampak sejumlah makalah yang sedang dibaca para santri. Menurut mereka, bahan tersebut merupakan materi milik para pengajar yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Obrolan kemudian berkembang ketika para santri menceritakan sejarah kolonial Portugis dan aktivitas mereka di kawasan Maluku. Menurut salah seorang santri, narasi kedatangan bangsa Portugis tidak cukup dipahami sekadar sebagai aktivitas perdagangan rempah-rempah, tetapi juga harus dilihat dalam konteks kepentingan kolonial dan invasi.

Percakapan sederhana di tengah suasana cangkrungan itu menjadi gambaran menarik tentang kehidupan santri. Di satu sisi mereka menikmati suasana santai dengan kopi dan aktivitas keseharian, tetapi di sisi lain diskusi mereka menyentuh persoalan sejarah, pendidikan, dan kehidupan kebangsaan.

Dari Masjid Gedang, Menyusuri Jejak Keilmuan Pendiri NU

Perjalanan ini mengingatkan bahwa sejarah NU tidak hanya tersimpan dalam buku atau dokumen organisasi. Jejaknya juga dapat ditemukan di masjid-masjid kecil, pesantren, makam ulama, serta tradisi mengaji yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Masjid Gedang menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana lingkungan keluarga dan pesantren menjadi bagian dari proses pembentukan keilmuan KH Hasyim Asy’ari.

Dari masjid kecil tersebut, perjalanan sejarah kemudian berkembang jauh lebih luas. KH Hasyim Asy’ari kelak menjadi ulama besar yang bersama para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926. Warisan pemikiran, tradisi keilmuan, dan perjuangannya terus hidup dalam kehidupan pesantren dan warga Nahdliyin hingga kini.

Sekitar pukul 15.10 WIB, suara azan Asar terdengar dari kawasan tersebut. Percakapan para santri pun berhenti. Mereka segera mengambil air wudu dan bersiap melaksanakan shalat berjamaah.

Pemandangan itu menjadi penutup yang sederhana tetapi kuat: sejarah tidak hanya diceritakan, tetapi juga terus dihidupkan melalui kebiasaan santri—mengaji, berdiskusi, menjaga masjid, dan memenuhi panggilan azan.

Bagi penulis, perjalanan menuju Muktamar ke-35 NU di Jombang akhirnya bukan sekadar perjalanan menuju sebuah forum organisasi. Perjalanan ini menjadi kesempatan untuk menyusuri kembali jejak para ulama, mengenang perjuangan pendiri NU, dan melihat bagaimana tradisi pesantren tetap hidup di tengah generasi santri masa kini.

Dari Masjid Gedang, Tambakberas, Jombang, Warta NU Tegal mencatat: bangunan boleh sederhana, tetapi sejarah dan nilai yang diwariskannya dapat menjadi sangat besar bagi perjalanan Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia.

Pewarta : Eko Wahyu Sagino – Warta NU Tegal
Jombang, 25 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *