Haul Sesepuh Kebagusan, KH Nawawi Ashari Ingatkan Nahdliyin Ziarahi Makam Sesepuh Kampung Sebelum ke Makam Wali

Avatar photo
Mauidzotul Hasanah disampaikan oleh Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal, KH Nawawi Ashari, dalam Haul Umum Sesepuh Dukuh Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, yang digelar di Maqbaroh Dukuh Kebagusan, Rabu (26/8/2026), sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bojong, Warta NU Tegal

Tradisi haul menjadi ruang bagi warga Nahdliyin untuk mengenang jasa para ulama dan sesepuh pendahulu. Hal itu terlihat dalam Haul Umum Sesepuh Dukuh Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, yang digelar di Maqbaroh Dukuh Kebagusan, Rabu (26/8/2026), sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peringatan yang rutin dilaksanakan setiap 13 Rabiul Awal tersebut diisi dengan mauidzotul hasanah oleh Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal KH Nawawi Ashari,. Dalam tausiyahnya, ia mengajak warga Nahdliyin untuk terus merawat tradisi haul dan ziarah sebagai sarana mengingat kematian sekaligus mengenang perjuangan para ulama dan sesepuh yang telah mendahului.

“Setiap warga Nahdliyin ketika akan melaksanakan ziarah ke makam para wali, jangan sampai melupakan untuk berziarah terlebih dahulu kepada para sesepuh yang ada di tempatnya masing-masing,” ujar KH Nawawi Ashari dalam mauidzotul hasanahnya.

Menurutnya, haul dan ziarah bukan sekadar tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Keduanya juga memiliki nilai pendidikan bagi umat agar senantiasa menyadari bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

“Kegiatan haul maupun ziarah selain menjadi tradisi warga Nahdliyin juga sebagai pengingat bahwa yang hidup akan mati dan pada akhirnya akan menyusul para pendahulunya,” jelasnya.

KH Nawawi Ashari juga mengingatkan jamaah mengenai salah satu gambaran perilaku manusia menjelang datangnya hari akhir. Ia menyoroti fenomena ketika sebagian anak kehilangan rasa hormat kepada orang tua dan justru memperlakukan mereka secara tidak semestinya.

“Di antara tanda-tanda datangnya hari akhir yaitu banyak seorang anak berperilaku seperti majikan dan memperlakukan orang tuanya seperti pembantu. Artinya, banyak anak-anak yang sewenang-wenang bersikap kepada orang tuanya,” tuturnya.

Baca Lainnya  Kajian Maulid Ad-Diba’i, Ustadz Abdul Rozak Alhafidz Uraikan Keistimewaan Nabi Muhammad

Dalam kesempatan tersebut, KH Nawawi Ashari juga membuka sesi tanya jawab bersama jamaah. Salah satu materi yang dibahas berkaitan dengan tata cara mengurus jenazah sesuai dengan syariat Islam, sehingga jamaah tidak hanya mendapatkan nasihat keagamaan, tetapi juga pemahaman praktis yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

“Bagaimana mengurus jenazah yang sesuai dengan syariat Islam perlu dipahami bersama, karena mengurus jenazah merupakan bagian dari kewajiban umat Islam yang harus diketahui masyarakat,” ungkapnya saat memberikan penjelasan kepada jamaah.

Pada akhir mauidzotul hasanah, KH Nawawi Ashari kembali mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk menjaga amaliyah yang telah diwariskan para ulama. Menurutnya, mendoakan orang tua, ulama, dan sesepuh merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi keagamaan sekaligus menghormati jasa para pendahulu.

“Saya berpesan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk selalu menjaga tradisi haul dan ziarah serta selalu mendoakan para orang tua, ulama, dan sesepuh yang sudah mendahului kita,” pesannya.

Adapun para sesepuh Dukuh Kebagusan yang dihauli antara lain Mbah Kyai Bagus, Mbah Sutawiryo, Mbah Bacukseno, KH Nawawi, KH Hasan Bisri, KH Muslim, KH Abdul Hamid, serta KH Imam Turmudzi. Haul tersebut menjadi momentum bagi generasi penerus untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus memperkuat kecintaan terhadap tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah yang berkembang di kalangan Nahdliyin.

Editor: Tahmid
Kontributor: M. Maftukhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *