lapsus  

10 Nama Berebut Panggung Muktamar NU ke-35, Siapa Paling Kuat Jadi Ketum PBNU?

Liputan Khusus Muktamar ke-35 NU (7)

Avatar photo
Bakal Calon Ketum PBNU. (Warta NU Tegal/ Dok Nahdlatul Ulama)

Jombang, Warta NU Tegal

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, dinamika bursa calon ketua umum (caketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menjadi perhatian warga Nahdliyin. Sejumlah nama mulai diperbincangkan, mulai dari petahana, pengasuh pesantren, akademisi, hingga tokoh muda dengan latar belakang organisasi dan jaringan pesantren yang beragam.

Kontestasi kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 tidak hanya berkaitan dengan kalkulasi dukungan struktural dan basis massa. Dalam tradisi NU, kapasitas keilmuan, sanad pesantren, pengalaman berorganisasi, serta kemampuan merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah menjadi bagian penting yang turut diperbincangkan dalam membaca peta calon pemimpin jam’iyah.

Menelusuri Basis Massa dan Sanad Keilmuan

Berikut kilasan sejumlah nama yang dalam sumber ini disebut masuk dalam bursa caketum PBNU, beserta latar belakang, basis dukungan, kekuatan, dan akar keilmuan masing-masing:

1. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya): Petahana dan Penjaga Haluan Organisasi

KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)

Sebagai petahana, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya disebut memiliki kekuatan pada jaringan struktural PBNU serta relasi dengan sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).

Kekuatan utamanya berada pada konsolidasi jaringan nasional dan pengalaman memimpin PBNU. Gerbong pendukungnya membawa narasi keberlanjutan program dan stabilitas organisasi.

Dari sisi kepesantrenan, Gus Yahya tumbuh dalam lingkungan Pesantren Leteh, Rembang, di bawah pengaruh keluarga ulama NU, termasuk KH Cholil Bisri dan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Corak pemikirannya dikenal memadukan tradisi pesantren dengan wawasan global, khususnya dalam isu sosial, keislaman, dan dialog antarperadaban.

2. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin): Kekuatan Kultural Tebuireng

KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi salah satu figur yang disebut memiliki posisi kuat dalam bursa kepemimpinan PBNU. Dukungan kultural dari lingkungan Pesantren Tebuireng dan jaringan NU Jawa Timur menjadi salah satu kekuatan yang melekat pada dirinya.

Gus Kikin merupakan bagian dari keluarga besar Pesantren Tebuireng, Jombang, dan memiliki hubungan nasab dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Latar tersebut menempatkannya dekat dengan tradisi keilmuan dan sejarah perjuangan NU.

Corak kepemimpinannya dikaitkan dengan penguatan tradisi pesantren, khazanah kitab kuning, keteladanan kiai, serta kesinambungan tradisi kepesantrenan.

Baca Lainnya  Ini Susunan Komposisi dan Personalia DPC PKB Kabupaten Tegal Masa Bakti 2026–2031

3. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf): Alternatif dari Jawa Tengah

KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf disebut sebagai salah satu figur alternatif yang memperoleh perhatian dari kalangan Nahdliyin, khususnya di Jawa Tengah.

Dalam sumber ini disebutkan adanya dukungan dari sejumlah PCNU di Jawa Tengah. Basis kekuatannya banyak bertumpu pada jaringan santri dan kiai pesantren.

Gus Yusuf merupakan putra KH Muhammad Chudlori, pendiri Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren dan tradisi pengajaran kitab kuning.

Kedekatannya dengan kalangan santri akar rumput serta kemampuan komunikasi publik menjadi salah satu karakter yang menonjol dalam pencalonannya.

4. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam): Mengusung Agenda Perubahan

KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)

KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam disebut sebagai salah satu tokoh yang membawa narasi perubahan dalam bursa caketum PBNU.

Ia berasal dari lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, dan merupakan bagian dari keluarga besar KH Bisri Syansuri, salah satu muassis NU. Latar tersebut menjadikannya dekat dengan tradisi fikih dan kepesantrenan NU.

Dalam sumber ini, Gus Salam disebut membawa agenda rekonsiliasi dan perubahan struktural dengan menjangkau jaringan PWNU dan PCNU di berbagai daerah.

5. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin): Kiai Muda dan Akademisi Pesantren

KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)

KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin tampil sebagai figur yang merepresentasikan perpaduan antara kepemimpinan pesantren dan dunia akademik.

Ia dikenal sebagai tokoh yang memiliki keterkaitan kuat dengan Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, serta pernah memimpin Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA). Latar pendidikan akademiknya juga menjadi salah satu kekuatan yang ditonjolkan.

Gus Rozin merupakan putra KH M. Ahmad Sahal Mahfudh, ulama NU dan Rais Aam PBNU yang dikenal luas melalui gagasan fikih sosial. Dengan latar tersebut, Gus Rozin membawa corak intelektual pesantren yang berusaha mempertemukan khazanah kitab kuning dengan tradisi akademik modern.

6. KH Imam Jazuli: Kiai Muda dan Pengasuh Pesantren

KH Imam Jazuli

 

KH Imam Jazuli disebut sebagai figur kiai muda yang memiliki basis dari lingkungan pesantren modern. Ia merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon, Jawa Barat.

Baca Lainnya  Longsor Tutup Akses Bojong–Batunyana, Warga Diminta Waspada

Latar pendidikan dan kepesantrenannya mencakup pengalaman belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, serta pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Mesir, dan Malaysia.

Kekuatan yang ditonjolkan adalah kemandirian pesantren, inovasi pendidikan, adaptasi terhadap perkembangan zaman, serta perhatian terhadap penguatan ekonomi dan teknologi di lingkungan pesantren.

7. KH Zulfa Mustofa: Kiai Muda dan Penguat Tradisi Turats

KH Zulfa Mustofa

KH Zulfa Mustofa disebut sebagai salah satu figur kiai muda yang memiliki perhatian kuat terhadap tradisi keilmuan pesantren.

Ia dikenal memiliki perhatian pada ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan balaghah serta aktif dalam pengembangan kajian keislaman. Dalam perjalanan keilmuannya, ia pernah belajar di lingkungan pesantren salaf dan berguru kepada sejumlah ulama, termasuk KH M. Ahmad Sahal Mahfudh di Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati.

Latar keluarga dan jaringan keilmuannya juga disebut memiliki hubungan dengan tradisi ulama Nusantara. Corak tersebut menjadikannya representasi kalangan yang menekankan penguatan turats, tradisi pesantren, dan kaderisasi ulama.

8. KH Nasaruddin Umar: Ulama-Akademisi

KH Nasaruddin Umar

KH Nasaruddin Umar disebut sebagai figur yang memiliki latar belakang akademik dan pengalaman dalam pemerintahan. Ia dikenal sebagai guru besar bidang tafsir dan memiliki pengalaman sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Basis keilmuannya mencakup tafsir Al-Qur’an, tasawuf, serta kajian lintas agama. Sebelum menempuh pendidikan tinggi, ia juga tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam dan pesantren, termasuk Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang, Sulawesi Selatan.

Perpaduan antara otoritas keilmuan, pengalaman akademik, dan pengalaman di ruang publik menjadikannya salah satu nama yang disebut dalam bursa kepemimpinan PBNU.

9. KH Marsudi Syuhud: Pengalaman Organisasi dan Jaringan Akar Rumput

KH Marsudi Syuhud

KH Marsudi Syuhud merupakan tokoh yang memiliki pengalaman dalam kepengurusan PBNU. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting dalam membaca kekuatannya di bursa caketum.

Ia disebut memiliki jaringan dengan kiai kampung, warga Nahdliyin di berbagai daerah, serta kalangan ekonomi umat. Pengalaman organisasi dan kemampuannya membangun komunikasi lintas kelompok menjadi kekuatan yang menonjol.

Dari sisi keilmuan, ia tumbuh dalam tradisi pesantren dan memiliki perhatian pada pengembangan ekonomi umat, kemandirian pesantren, serta pemberdayaan masyarakat.

Baca Lainnya  Ini Susunan Kepengurusan MWCNU Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal Lengkap Masa Khidmah 2026 - 2031

10. Hary Haryanto Azumi: Representasi Tokoh Muda

Hary Haryanto Azumi menjadi salah satu nama dari kalangan generasi muda yang disebut dalam bursa caketum. Ia memiliki pengalaman sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) dan pernah berada dalam jajaran PBNU.

Latar kepesantrenannya juga menjadi bagian dari perjalanan kaderisasinya. Ia pernah menimba ilmu di lingkungan Pesantren Denanyar, Jombang, serta tumbuh dalam kultur keagamaan masyarakat Trenggalek.

Pengalaman organisasi kemahasiswaan, jaringan kepemudaan, serta kedekatan dengan sejumlah pesantren besar menjadi modal yang disebut mendukung kiprahnya dalam dinamika Muktamar.

Muktamar dan Masa Depan Jam’iyah

Peta bursa caketum PBNU tersebut menunjukkan beragam corak kepemimpinan yang hadir dalam Muktamar ke-35. Ada figur petahana dengan pengalaman kepemimpinan nasional, pewaris tradisi pesantren besar, kiai muda, akademisi, hingga tokoh dengan pengalaman panjang dalam organisasi.

Namun, dalam tradisi NU, kepemimpinan bukan semata-mata perkara perebutan pengaruh. Musyawarah, maslahah jam’iyah, sanad keilmuan, akhlak, kemampuan merawat ukhuwah, serta komitmen menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah menjadi nilai yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan organisasi.

Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah memimpin PBNU periode 2026–2031, tantangan utamanya tetap sama: menjaga persatuan Nahdliyin, memperkuat jam’iyah, meningkatkan kemaslahatan umat, dan membawa NU tetap kokoh berakar pada tradisi pesantren sekaligus mampu menjawab perubahan zaman.

Muktamar bukan sekadar panggung pergantian kepemimpinan, tetapi momentum menentukan arah perjalanan jam’iyah untuk lima tahun mendatang.

Pewarta: Eko Wahyudi
Jombang, 27 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *