Khutbah Pertama
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيرِ، قَائِلًا فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada hari yang penuh berkah ini, bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdliyin, sedang menyambut momentum besar, yaitu Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur. Momentum muktamar bukan sekadar forum organisasi lima tahunan biasa. Ini adalah ruang refleksi spiritual, intelektual, dan moral bagi kita semua untuk melihat kembali khidmah kita kepada agama, bangsa, dan negara.
Hadirin Sidang Jum’at yang Berbahagia,
Ada dua pesan penting yang relevan untuk kita renungkan bersama dalam momentum Muktamar ke-35 ini:
Pertama, Pentingnya Menjaga Ilmu dan Bahaya Kebodohan. Fondasi utama tegaknya kehidupan umat Islam adalah ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan warisan pemikiran para ulama (turots). Sebagaimana diingatkan oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, kemunduran suatu umat sering kali dipicu oleh hilangnya nilai-nilai keutamaan agama dan merajalelanya kebodohan (al-jahlu).
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits sahih:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan melenyapkannya begitu saja dari dada manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika ulama-ulama yang ikhlas bersuara tidak lagi dijadikan rujukan, dan urusan umat diserahkan kepada mereka yang tidak berilmu, maka tatanan hukum dan sosial akan rusak. Oleh karena itu, tugas kita adalah menjaga agar obor ilmu ini tidak padam dengan cara terus belajar, menghidupkan majelis taklim, pesantren, serta merujuk kepada ulama-ulama yang sanad keilmuannya jelas dan lurus.
Hadirin yang Dirahmati Allah,
Kedua, Menghidupkan Kembali Semangat Ta’awun (Tolong-Menolong) dan Persatuan. Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, di dalam Muqaddimah Qanun Asasi NU, menekankan bahwa sikap tolong-menolong (ta’awun) merupakan poros utama dari tatanan masyarakat yang kokoh. Beliau mengutip kalimat: “At-ta’awanu huwalladzi ‘alaihi madarul bilad” (Tolong-menolong adalah pilar berputarnya roda kemaslahatan negara).
Di tengah dinamika zaman, tantangan internal berupa perbedaan pandangan atau faksionalisme harus diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Kita harus menghindari ego kelompok atau muatan politik transaksional yang bisa memecah belah keutuhan umat. Jam’iyah Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar keikhlasan para wali demi menjaga persatuan umat dan keutuhan NKRI. Perbedaan harus menjadi rahmat, bukan alasan untuk bercerai-berai.
Hadirin yang Dimuliakan Allah,
Mari kita doakan agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama berjalan dengan lancar, berkah, damai, dan melahirkan keputusan-keputusan terbaik yang maslahat bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga para ulama kita, memanjangkan umur mereka dalam kesehatan, dan menyelamatkan bangsa ini dari bahaya fitnah serta kebodohan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua












