Tegal. Warta NU Tegal
Setiap Muslim tentu pernah menjalani ibadah puasa Ramadhan. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: apa bukti nyata bahwa kita benar-benar pernah berpuasa?
Jika seseorang berusia 30 tahun, berarti ia telah menjalani puasa Ramadhan puluhan kali. Jika berusia 60 atau 80 tahun, maka sudah lebih banyak lagi. Akan tetapi, di manakah tanda keberhasilan puasa-puasa itu dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan ini bukan untuk menggugat, melainkan untuk mengajak merenung. Sebab, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi proses panjang pembentukan jiwa dan akhlak.
Dalam khazanah keilmuan Islam, Al-Ghazali—yang dikenal sebagai Hujjatul Islam—menegaskan bahwa indikator keberhasilan ibadah terletak pada perubahan akhlak. Puasa yang benar akan membuahkan kemuliaan budi pekerti.
Menurut Imam Al-Ghazali, bukti pertama seseorang sukses berpuasa adalah akhlaknya semakin mulia. Ia menjadi pribadi yang lebih menyenangkan diajak berbicara dan lebih nyaman dalam pergaulan.
Artinya, evaluasi puasa tidak diarahkan kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri. Apakah setelah bertahun-tahun berpuasa, akhlak kita semakin baik? Jika belum, maka perlu ada yang dibenahi dalam kualitas puasa kita.
Kategori sukses kedua adalah tumbuhnya sifat pemurah dan penyayang. Orang yang terbiasa berpuasa sejatinya sedang menyapih hawa nafsu dan ketergantungan pada keduniaan.
Puasa mendidik manusia agar tidak terikat oleh harta, jabatan, pangkat, pujian, maupun gengsi. Jika hingga hari ini belum tumbuh jiwa dermawan dan kasih sayang kepada sesama, maka puasa itu perlu direfleksikan kembali.
Dalam konteks ini, dunia bukan hanya materi, tetapi segala hal yang menghalangi tujuan utama ibadah kepada Allah Swt. Puasa yang benar akan menjadikan seorang Muslim lebih ringan memberi dan lebih luas hatinya dalam memaafkan.
Kategori ketiga dari tanda kesuksesan puasa adalah meningkatnya kedisiplinan dalam ibadah, khususnya ibadah mahdhah. Orang yang sukses berpuasa akan semakin rajin shalat, lebih tertib dalam menjalankan kewajiban, dan lebih berhati-hati dalam menjaga kesucian amal.
Selain itu, hidupnya cenderung sederhana. Ia makan dan minum secukupnya, tidak berlebihan, serta tidak bermewah-mewahan. Puasa melatih hidup pada batas yang pas—tidak memaksakan diri dan tidak pula berlebih-lebihan.
Problem umat hari ini, sebagaimana sering diingatkan para ulama, adalah mudah mengevaluasi orang lain namun sulit mengevaluasi diri sendiri. Kita sering mengatakan, “Islam rusak karena kamu,” padahal yang lebih tepat adalah bertanya, “Apa kontribusiku untuk memperbaiki diri?”
Mengevaluasi diri sejatinya adalah jalan menuju syukur. Sebaliknya, gemar menyalahkan orang lain dapat menyeret pada sikap kufur nikmat. Puasa mengajarkan introspeksi, bukan menyalahkan.
Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Ia tidak bisa diwakilkan, tidak bisa sepenuhnya dipertontonkan, dan tidak pula sah jika dipamerkan. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang akan membalasnya.
Karena itu, puasa sejatinya adalah bukti cinta dan kemesraan antara hamba dan Tuhannya. Jika cinta itu benar, maka dampaknya pasti tampak dalam akhlak, kepedulian sosial, dan kedisiplinan ibadah.
Penulis semata-mata bertujuan untuk menguatkan prinsip berpuasa bagi diri sendiri. Apabila tulisan ini memberi manfaat bagi pembaca, maka itu semata-mata merupakan hidayah dari Allah SWT kepada pembaca.
Ia berharap prinsip puasa sebagai sarana pembinaan akhlak dapat terus dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tulisan ini memberi manfaat, maka itu semata-mata hidayah dari Allah Swt.
Pada akhirnya, bukti nyata kita pernah berpuasa bukanlah jumlah tahun yang telah dilewati, melainkan kualitas akhlak yang semakin mulia. Di situlah letak keberhasilan Ramadhan yang sesungguhnya dalam pandangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.
Oleh: Ustadz Seful Aziz
Ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Lembasari Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal
Editor : Tahmid








