Ustadz Syaiful Aziz: Syukur dan Penguatan Potensi Diri Kunci Hadapi Tantangan Generasi Z di Era Digital

Avatar photo
Ketua Tanfidziyah PRNU Desa Lembasari, Ustadz Syaiful Aziz, didampingi Sekretaris MWCNU Kecamatan Jatinegara, Bapak Amin Nasori, serta Pengurus PAC IPNU-IPPNU Jatinegara, memberikan pembekalan kepada rekan-rekanita IPNU-IPPNU sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan bernilai. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Baiturrohim Lembasari pada Ahad, (26/4/2026), dalam rangka Rutinan Bulanan dan Halal Bihalal PAC IPNU-IPPNU Jatinegara.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Pengurus PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Jatinegara bersama PR dan PK se-Kecamatan Jatinegara menggelar kegiatan rutin bulanan yang dirangkai dengan Halal Bihalal, Ahad (26/4/2026), di Masjid Baiturrohim Lembasari. Kegiatan ini juga diikuti oleh para alumni Makesta dan Diklatama.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan spiritual sekaligus pembekalan kader muda Nahdlatul Ulama agar mampu menghadapi tantangan zaman, khususnya di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat.

Dalam kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah PRNU Desa Lembasari, Ustadz Syaiful Aziz, memberikan pembekalan kepada rekan-rekanita IPNU-IPPNU sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan bernilai.

“Jangan menunggu semua sempurna untuk bersyukur, karena justru syukurmu yang akan menyempurnakan hidupmu,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa rasa syukur merupakan kunci utama dalam menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh keberkahan.

“Jika manusia selalu merasa tidak puas terhadap dirinya dan kehidupannya, maka ia akan sulit untuk bersyukur kepada Allah SWT,” ujarnya.

Menurutnya, ketidakmampuan bersyukur akan berdampak pada ketidakbahagiaan dalam hidup seseorang.

“Kalau tidak bisa bersyukur kepada yang memberi kehidupan, bagaimana mungkin hidup ini akan bahagia,” lanjutnya.

Ia juga menambahkan bahwa kebahagiaan merupakan fondasi penting dalam meraih tujuan hidup.

“Jika hidup tidak bahagia, maka akan sulit mewujudkan tujuan-tujuan dalam kehidupan,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ucapan syukur harus dibarengi dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Kata syukur memang mudah diucapkan, tetapi tidak semua perilaku manusia mencerminkan rasa syukur itu sendiri,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa salah satu indikator syukur adalah mampu menghargai dan berterima kasih kepada sesama manusia.

“Manusia belum bisa dikatakan bersyukur kepada Allah jika belum mampu berterima kasih atas kebaikan sesama,” tegasnya.

Baca Lainnya  Rijalul Ansor Penyalahan: Istiqamah Bershalawat, Ustadz Mirkon Tekankan Kunci Dikabulkannya Doa

Menurutnya, nikmat Allah SWT seringkali datang melalui perantara manusia.

“Sebagian besar nikmat Allah diberikan melalui perantara manusia lainnya,” imbuhnya.

Dalam pembekalannya, Ustadz Syaiful Aziz juga menyoroti karakter generasi muda saat ini yang dikenal sebagai generasi Z.

“Generasi Z adalah generasi yang sangat akrab dengan teknologi dan media sosial,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa generasi ini memiliki banyak kelebihan seperti kreatif, ekspresif, dan terbuka.

“Mereka cenderung kreatif, terbuka terhadap perbedaan, dan menyukai hal-hal yang praktis,” jelasnya.

Namun demikian, ia juga mengingatkan adanya tantangan yang dihadapi generasi saat ini.

“Generasi sekarang juga cenderung mudah cemas, kurang percaya diri, dan rentan stres,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari pengaruh media sosial yang sangat intens.

“Media sosial memiliki andil besar dalam membentuk kondisi mental generasi saat ini,” katanya.

Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam kekhawatiran yang berlebihan.

“Jangan sampai kita hidup dalam kekhawatiran yang tidak beralasan,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa setiap manusia telah dibekali potensi oleh Allah SWT.

“Allah telah memberikan bekal kepada setiap manusia untuk menjalani kehidupan,” jelasnya.

Bekal tersebut, lanjutnya, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

“Tinggal bagaimana kita menggunakan bekal tersebut dalam menghadapi kehidupan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki beberapa komponen penting dalam dirinya.

“Manusia terdiri dari fisik, akal, hati, nafsu, dan ruh,” terangnya.

Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali tentang struktur manusia.

“Komponen tersebut harus dijaga keseimbangannya,” imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa gangguan pada hati dan akal dapat memicu kecemasan.

“Rasa khawatir dan gelisah berasal dari hati dan akal yang tidak sehat,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak para kader untuk menjaga kesehatan batin.

Baca Lainnya  Bukti Nyata Kita Pernah Berpuasa: Mengukur Kesuksesan Ramadhan dalam Timbangan Akhlak

“Jagalah akal, hati, dan nafsu agar tetap dalam kondisi yang baik,” pesannya.

Ia menegaskan pentingnya kepercayaan diri dalam menghadapi kehidupan modern.

“Percaya diri adalah kunci untuk menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan potensi yang dimiliki.

“Jangan membunuh diri sendiri dengan tidak menggunakan potensi yang telah diberikan Allah,” tegasnya.

Di akhir pembekalan, ia berharap kader IPNU-IPPNU mampu menjadi generasi yang kuat secara mental dan spiritual.

“Gunakan akal, hati, dan ruh untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat karakter kader muda NU agar tetap berpegang pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus adaptif menghadapi perkembangan zaman.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *