Jatinegara, Warta NU Tegal
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal menggelar kegiatan Lailatul Ijtima yang dirangkai dengan sosialisasi kerja sama BPJS di Gedung MWCNU Jatinegara, Ahad (5/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus MWCNU Jatinegara, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Kecamatan Jatinegara, serta Pengurus Anak Cabang (PAC) badan otonom NU se-Kecamatan Jatinegara.
Pada kesempatan itu, Rois Syuriah MWCNU Jatinegara, KH. Fahrurozi, menyampaikan khutbah iftitah yang menitikberatkan pentingnya meluruskan niat dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama. Menurutnya, niat merupakan pondasi utama yang menentukan nilai setiap amal dan pengabdian seseorang kepada organisasi maupun agama.
Dalam khutbahnya, KH. Fahrurrozi mengisahkan keteladanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, khususnya peristiwa hijrah yang dipimpin oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjuangan yang dilandasi niat yang lurus karena Allah SWT.
“Para sahabat Muhajirin berhijrah dari Makkah ke Madinah dengan niat berjuang di jalan Allah. Dari kisah itu kita belajar bahwa setiap pengabdian harus dilandasi niat yang lurus, bukan karena kepentingan pribadi ataupun tujuan duniawi,” tuturnya.
Ia kemudian mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama agar menjaga keikhlasan dalam berkhidmah. Menurutnya, setiap kader NU hendaknya menanamkan niat menjadi penerus perjuangan para ulama, khususnya Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sehingga setiap langkah pengabdian bernilai ibadah.
“Mari kita niatkan menjadi murid-murid Mbah Hasyim Asy’ari. Mudah-mudahan kita semua termasuk calon penghuni surga karena mengabdi dengan niat yang benar,” ujarnya yang diamini para peserta dengan ucapan “Aamiin.”
KH. Fahrurozi menegaskan bahwa tantangan saat ini bukan lagi mendirikan NU, melainkan menumbuhkembangkan organisasi agar semakin memberi manfaat bagi umat. Karena itu, regenerasi kepemimpinan harus terus dipersiapkan melalui proses kaderisasi yang berkesinambungan.
“Hari ini mungkin menjadi Ansor, besok bisa menjadi pemimpin NU. Yang terpenting adalah terus belajar dan mempersiapkan diri agar mampu mengemban amanah dengan baik,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak ada kader yang merasa paling layak atau paling berhak memimpin. Menurutnya, kepemimpinan di NU harus diberikan kepada orang yang memiliki kemampuan, profesionalitas, serta mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
“Jangan pernah merasa diri paling pantas. Siapa pun boleh memimpin, asalkan profesional dan mampu menjalankan amanah dengan benar. Kepemimpinan bukan soal kebanggaan, tetapi tanggung jawab,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung pentingnya pembinaan kader muda. Menurutnya, pelatihan yang diberikan kepada kader Ansor merupakan bekal agar mereka memiliki karakter kepemimpinan sebagaimana ajaran Ki Hadjar Dewantara.
“Karena itu kader Ansor dibekali nilai Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Seorang pemimpin harus mampu memberi teladan, membangun semangat, dan memberikan dorongan kepada orang lain,” jelasnya.
KH. Fahrurozi kemudian mengingatkan bahwa setiap manusia akan meninggalkan warisan. Bila pepatah mengatakan gajah meninggalkan gading dan harimau meninggalkan belang, maka menurutnya pengurus NU hendaknya meninggalkan jejak pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang, maka pengurus NU harus meninggalkan manfaat, karya, dan keteladanan. Itulah warisan terbaik yang akan dikenang,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh pengurus untuk memperbanyak amal sosial dan kepedulian terhadap sesama. Menurutnya, segala bentuk sumbangsih, sekecil apa pun, akan menjadi investasi kebaikan yang kembali kepada diri sendiri.
“Apa yang kita lakukan untuk NU dan masyarakat sesungguhnya akan kembali manfaatnya kepada diri kita sendiri. Begitu pula sebaliknya, jika berbuat salah, dampaknya juga akan dirasakan banyak orang,” pesannya.
Di akhir tausiyah, KH. Fahrurozi mengingatkan bahaya kesombongan ketika seseorang diberi kelebihan harta maupun jabatan. Ia mengajak seluruh warga NU untuk terus menjaga kerendahan hati serta menjadikan organisasi sebagai tempat beribadah dan memperbanyak kemanfaatan.
“Mari bersama-sama berkecimpung dan bergabung di Nahdlatul Ulama. Mudah-mudahan kita senantiasa memperoleh manfaat, keberkahan, dan ridha Allah SWT dalam setiap langkah pengabdian kita,” pungkasnya.
Editor: Tahmid












