Opini  

Darurat Pangan di Lumbung Tegal: Ketua LTN NU Warureja M. Nur Iskandar Fajri Sebut Kerusakan Bendungan Cipero Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Sosial

Avatar photo
Ketua LTN NU Warureja M. Nur Iskandar Fajri Soroti Rusaknya Bendungan Cipero, Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Sosial Sabtu, (18/07/2026).

Warureja, Warta NU Tegal

Kerusakan Bendungan Cipero yang menjadi sumber utama pengairan bagi ribuan hektare lahan pertanian di Kecamatan Warureja dan sebagian Kecamatan Suradadi memunculkan kekhawatiran serius terhadap ketahanan pangan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga berpotensi memicu persoalan ekonomi hingga sosial apabila tidak segera ditangani.

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Kecamatan Warureja, M. Nur Iskandar Fajri, kepada Warta NU Tegal, Sabtu (18/7/2026). Dalam analisisnya, ia menilai kerusakan Bendungan Cipero telah membawa dampak yang sangat luas terhadap kehidupan masyarakat, khususnya para petani dan buruh tani yang menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian.

Menurut M. Nur Iskandar Fajri, Kecamatan Warureja dan sebagian Kecamatan Suradadi selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Kabupaten Tegal. Namun pada musim tanam kedua tahun ini, ribuan hektare sawah tidak dapat ditanami akibat terputusnya pasokan air dari Bendungan Cipero.

Ia menjelaskan bahwa Bendungan Cipero bukan hanya berfungsi sebagai infrastruktur irigasi pertanian, melainkan juga menjadi penopang kebutuhan air masyarakat sehari-hari. Air bendungan dialirkan melalui saluran irigasi menuju sumur-sumur warga yang dimanfaatkan untuk mandi, mencuci, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Fungsi Bendungan Cipero sangat vital bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi sumber pengairan sawah, airnya juga menopang kebutuhan domestik warga. Ketika bendungan ini rusak, maka yang terdampak bukan hanya sektor pertanian, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat secara keseluruhan,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data statistik, wilayah Warureja dan Suradadi menyumbang sekitar 12 hingga 20 persen areal persawahan Kabupaten Tegal. Oleh karena itu, lumpuhnya sistem irigasi akan memberikan dampak besar terhadap produksi pangan daerah.

Baca Lainnya  Motivasi Berdirinya MDTA Miftahuttholabah Penyalahan dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam: Menjaga Warisan Keilmuan Ulama NU

Menurutnya, apabila diasumsikan terdapat sekitar 7.000 hektare lahan pertanian dengan produktivitas rata-rata 5 ton gabah per hektare, maka potensi produksi mencapai 35.000 ton gabah dalam satu musim tanam.

“Dengan asumsi harga gabah sekitar Rp7.000 per kilogram, maka potensi perputaran ekonomi yang hilang mencapai kurang lebih Rp245 miliar. Nilai tersebut bahkan masih bisa bertambah apabila memperhitungkan kerugian turunan yang dialami para pelaku usaha pertanian,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut semakin berat karena pada musim panen sebelumnya banyak petani telah mengalami penurunan hasil akibat serangan hama tikus. Akibatnya, pendapatan petani yang sudah menurun kini semakin terpuruk karena tidak dapat melaksanakan musim tanam berikutnya.

“Para petani kehilangan kesempatan memperoleh pendapatan pada musim kedua. Dampaknya bukan hanya dirasakan pemilik lahan, tetapi juga para buruh tani, pedagang sarana pertanian, hingga sektor ekonomi kecil yang selama ini bergantung pada aktivitas pertanian,” katanya.

M. Nur Iskandar Fajri menuturkan bahwa mulai Juli 2026 sebagian masyarakat mulai merasakan tekanan ekonomi. Gabah hasil panen pertama telah habis dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga stok pangan rumah tangga mulai menipis.

“Kondisi ini membuat masyarakat harus menunggu hingga musim panen pertama tahun 2027 untuk kembali memperoleh hasil panen. Artinya, terdapat rentang waktu cukup panjang yang berpotensi memunculkan kerawanan pangan apabila tidak ada solusi nyata,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kondisi cuaca yang semakin memperberat keadaan. Fenomena kekeringan berkepanjangan akibat El Nino menyebabkan curah hujan sangat minim sehingga memperkecil peluang masyarakat memperoleh sumber air alternatif bagi lahan pertanian.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, maka dampaknya akan bergerak secara berantai mulai dari turunnya produksi pangan, melemahnya daya beli masyarakat, meningkatnya angka kemiskinan, hingga munculnya berbagai persoalan sosial.

Baca Lainnya  Pendidikan Karakter di NU: Dari Khidmah Menuju Insan Berakhlak

“Ketika masyarakat kehilangan penghasilan dan kebutuhan pangan tidak terpenuhi, maka potensi meningkatnya angka kriminalitas maupun konflik sosial harus menjadi perhatian bersama. Persoalan pangan bukan sekadar urusan pertanian, tetapi menyangkut stabilitas kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap seluruh pemangku kebijakan segera melakukan langkah-langkah percepatan penanganan terhadap kerusakan Bendungan Cipero agar masyarakat dapat kembali melakukan aktivitas pertanian. Menurutnya, penyelamatan sektor pangan harus menjadi prioritas utama karena menyangkut keberlangsungan hidup ribuan keluarga.

Sebagai bagian dari elemen masyarakat Nahdlatul Ulama, LTN NU Warureja juga mengajak seluruh warga untuk terus memperkuat semangat gotong royong, saling membantu, dan memperbanyak doa agar masyarakat diberikan ketabahan menghadapi ujian ini. Nilai-nilai kepedulian sosial yang menjadi tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah diharapkan mampu menjadi kekuatan moral dalam menghadapi situasi sulit tersebut.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *