Buya Yahya: Rebo Wekasan Bukan Ajaran Nabi, Amalan Kebaikan Tetap Dianjurkan Sepanjang Tidak Menyelisihi Syariat

Avatar photo
Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren sekaligus Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya.

Cirebon, Warta NU Tegal

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren sekaligus Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, memberikan penjelasan komprehensif mengenai tradisi Rebo Wekasan melalui kanal YouTube resminya. Dalam kajian tersebut, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk bersikap proporsional, tidak mudah menyalahkan tradisi yang masih berada dalam wilayah khilafiyah, serta tidak menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah SAW tanpa dasar yang sahih.

Menurut Buya Yahya, persoalan Rebo Wekasan perlu dipahami secara utuh agar tidak memunculkan sikap saling menyalahkan di tengah umat. Ia menegaskan bahwa amalan-amalan yang dilakukan pada momentum tersebut harus dikembalikan kepada prinsip-prinsip syariat, sekaligus menjaga adab terhadap para ulama yang memiliki pandangan berbeda.

Buya Yahya menegaskan bahwa keyakinan tentang turunnya bala pada malam Rebo Wekasan bukan berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW. Karena itu, tidak dibenarkan menyatakan bahwa keyakinan tersebut merupakan sabda Rasulullah apabila memang tidak memiliki landasan hadis yang sahih.

Ia menjelaskan bahwa apabila terdapat ulama saleh yang menyampaikan adanya peristiwa tertentu pada malam Rebo Wekasan, maka hal itu dapat dipahami sebagai bentuk ilham atau kasyaf yang Allah SWT karuniakan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, bukan sebagai dalil syariat yang mengikat seluruh umat Islam.

“Ilham seorang ulama atau wali tidak wajib diyakini oleh setiap Muslim. Siapa yang mempercayainya tidak masalah, dan siapa yang tidak mempercayainya juga tidak berdosa, karena ilham bukan hujah dalam penetapan hukum agama,” terang Buya Yahya.

Menurutnya, sikap yang paling tepat adalah berbaik sangka (husnuzan) kepada para ulama apabila mereka menyampaikan sesuatu yang bersumber dari ilham, selama tidak menisbatkannya kepada Nabi Muhammad SAW dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca Lainnya  Rijalul Ansor Penyalahan: Istiqamah Bershalawat, Ustadz Mirkon Tekankan Kunci Dikabulkannya Doa

Buya Yahya juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengajak masyarakat mengikuti keyakinan khusus mengenai Rebo Wekasan. Namun, ia tetap menghormati para ulama yang memiliki pandangan tersebut sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam, bukan sebagai ajaran yang wajib diamalkan.

Terkait amalan pada malam Rebo Wekasan, Buya Yahya menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an, membaca Surah Yasin, memperbanyak doa, memperbanyak sedekah, serta memperbanyak ibadah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Menurutnya, amalan tersebut tidak hanya baik dilakukan pada malam Rebo Wekasan, tetapi juga pada setiap waktu.

“Kalau ingin bersedekah, bersedekahlah setiap hari. Kalau ingin membaca Al-Qur’an dan memperbanyak doa, lakukan setiap hari. Jangan membatasi amal saleh hanya pada satu malam tertentu,” ujarnya.

Ia juga menerangkan bahwa shalat malam, shalat hajat, maupun shalat sunnah mutlak dapat dikerjakan dengan niat memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah. Yang menjadi sandaran seorang Muslim tetaplah Allah SWT, bukan waktu ataupun malam tertentu.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghukumi sesat atau bid’ah terhadap amalan yang pada dasarnya dibenarkan syariat. Menurutnya, selama amalan tersebut tidak menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah serta tidak dinisbatkan secara keliru kepada Rasulullah SAW, maka umat hendaknya bersikap bijaksana.

Ia juga menyinggung tradisi menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an kemudian melarutkannya ke dalam air untuk diminum. Menurutnya, praktik tersebut pernah dijelaskan oleh sebagian ulama sebagai bentuk tabarruk (mengambil keberkahan), dengan syarat tetap meyakini bahwa hanya Allah SWT yang memberikan manfaat dan menjaga kehormatan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Buya Yahya turut menjelaskan persoalan jimat yang sering menjadi polemik di tengah masyarakat. Ia menerangkan bahwa penggunaan tulisan ayat Al-Qur’an sebagai bentuk tabarruk bagi orang yang belum mampu membaca pernah dikenal dalam sebagian literatur ulama. Namun, hal itu sama sekali berbeda dengan keyakinan bahwa benda tersebut memiliki kekuatan gaib secara mandiri.

Baca Lainnya  KH Fahrurozi: Membaca Shalawat Nariyah Ada Tingkatannya, Begini Penjelasannya

“Apabila seseorang meyakini bahwa sebuah jimat memiliki kekuatan sendiri selain Allah SWT, maka keyakinan seperti itulah yang termasuk syirik. Akan tetapi, jika sekadar mengambil keberkahan ayat Al-Qur’an dengan tetap meyakini seluruh kekuasaan berada di tangan Allah SWT, persoalannya berbeda dan harus dipahami secara adil,” jelasnya.

Di akhir penjelasannya, Buya Yahya mengajak umat Islam agar tidak bersikap ekstrem dalam menyikapi persoalan-persoalan khilafiyah. Ia menilai, sikap yang paling utama adalah memperbanyak zikir, membaca wirid-wirid yang diajarkan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah, seperti Ratib Al-Haddad, wirid pagi dan petang, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menutup kajiannya, Buya Yahya berharap perbedaan pandangan mengenai Rebo Wekasan tidak menjadi sebab lahirnya perpecahan di tengah umat Islam. Ia mengajak seluruh kaum Muslimin untuk menjaga adab kepada para ulama, menghormati perbedaan ijtihad yang tidak menyentuh pokok-pokok akidah, serta terus memperkuat ukhuwah Islamiyah dengan semangat saling mencintai karena Allah SWT.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *