Warta  

MWCNU Jatinegara Perkuat Program Organisasi dan Dorong Optimalisasi Layanan Klinik NU Berbasis BPJS

Avatar photo
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara menggelar rapat koordinasi program organisasi bersama pengurus ranting dan badan otonom NU se-Kecamatan Jatinegara di Klinik NU Jatinegara, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah dan dihadiri jajaran pengurus MWCNU, ketua ranting, serta pengurus PAC badan otonom NU.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara menggelar rapat koordinasi program organisasi sekaligus membahas penguatan pelayanan Klinik NU Jatinegara. Kegiatan tersebut berlangsung di Klinik NU Jatinegara, Sabtu (8/8/2026), dan dihadiri Pengurus MWCNU Jatinegara, para Ketua Ranting NU se-Kecamatan Jatinegara, serta Ketua, Sekretaris, dan Bendahara Pimpinan Anak Cabang (PAC) Badan Otonom NU.

Rakor diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah dan dilanjutkan penyampaian sejumlah agenda strategis MWCNU, mulai dari pengaktifan kembali Lailatul Ijtima, penguatan Lembaga Bahtsul Masail (LBM), persiapan menghadiri Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, hingga evaluasi dan pengembangan Klinik NU Jatinegara. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat khidmah NU sekaligus membangun kemandirian organisasi di tingkat kecamatan.

Wakil Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Jatinegara, Abdul Aziz, dalam pembukaan kegiatan menyoroti pentingnya kepedulian warga Nahdlatul Ulama terhadap program jaminan kesehatan sekaligus keberadaan Klinik NU Jatinegara. Menurutnya, apabila sebagian besar warga NU di wilayah Jatinegara memiliki kepesertaan BPJS, maka keberadaan klinik milik NU seharusnya mendapatkan dukungan bersama melalui pemanfaatan layanan kesehatan yang tersedia.

“90 persen warga kecamatan Jatinegara adalah Nahdlatul Ulama, saya yakin se-kecamatan, se-kabupaten punya BPJS. Hanya beberapa orang yang tidak punya, seperti Kiai Haji Yusuf. Tapi beliau sanggup, iurannya satu bulan kalau BPJS itu Rp12 ribu, enteng. Berarti setahun sekitar Rp120 ribu. Itu menjadi sumbangsih BPJS,” ujar Abdul Aziz.

Ia menilai dukungan warga terhadap Klinik NU tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian organisasi. Karena itu, warga NU diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang telah dibangun melalui ikhtiar bersama tersebut.

“Kalau warga NU menggunakan layanan yang sudah kita siapkan, insyaallah ini menjadi bagian dari sumbangsih kita untuk menghidupkan dan mengembangkan Klinik NU Jatinegara,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Jatinegara, H. M. Ramdhan, menyampaikan bahwa sejumlah program organisasi yang semestinya berjalan rutin perlu kembali diaktifkan. Salah satunya Lailatul Ijtima yang sebelumnya dilaksanakan secara bergilir di ranting-ranting NU se-Kecamatan Jatinegara dengan melibatkan pengurus MWCNU, ranting, dan badan otonom.

“Program yang sebenarnya harus rutin, tetapi belum jalan, yaitu Lailatul Ijtima MWCNU. Lailatul Ijtima semestinya dilaksanakan setiap bulan seperti tahun-tahun sebelumnya, kita keliling ke ranting-ranting. Yang diundang pengurus MWCNU, pengurus ranting, dan pengurus banom,” kata H. M. Ramdhan.

Baca Lainnya  MWCNU Jatinegara Matangkan Pelantikan dan Harlah Klinik, Perkuat Khidmah Organisasi dan Layanan Umat

Ia juga mendorong agar Lembaga Bahtsul Masail (LBM) MWCNU Jatinegara kembali bergerak. Menurutnya, kegiatan kajian dan pembahasan persoalan keagamaan merupakan bagian penting dari tradisi keilmuan NU yang perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.

“LBM juga sampai sekarang belum berjalan. Saya sering membagikan kegiatan MWC lain, seperti MWC Talang dan MWC Lebaksiu, yang setiap bulan ada kegiatan pengajian atau majelis taklim. Saya ingin kita juga bisa seperti itu,” ungkapnya.

Selain program keilmuan dan keagamaan, H. M. Ramdhan menyampaikan perkembangan persiapan keberangkatan pengurus dan warga NU untuk menghadiri Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang, yang direncanakan sekaligus dengan kegiatan ziarah. Hingga rapat berlangsung, peserta yang telah mendaftarkan diri baru mencapai 19 orang, sementara target yang ditetapkan sebanyak 50 peserta agar satu armada bus dapat terpenuhi.

“Peserta yang nge-list baru 19, padahal targetnya supaya bus besar terpenuhi adalah 50. Mudah-mudahan nanti kita bisa segera rembukan untuk kegiatan Muktamar di Jombang sekaligus acara ziarah bersama pengurus MWC dan banom,” jelasnya.

Ia mengatakan kegiatan bersama tersebut juga diharapkan menjadi ruang konsolidasi bagi badan otonom NU. Menurutnya, kegiatan ziarah dan menghadiri Muktamar dapat menjadi momentum memperkuat kebersamaan antarpengurus sekaligus memberikan ruang bagi kader dan warga NU untuk mengikuti agenda besar organisasi.

“Kita berharap nanti ada kegiatan bersama. Banom juga perlu ada kegiatan, sehingga pengurus MWC dan badan otonom bisa berkegiatan bersama, termasuk ziarah,” katanya.

Memasuki pembahasan mengenai Klinik NU Jatinegara, H. M. Ramdhan menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama pendirian klinik adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Menurutnya, kerja sama tersebut kini telah terwujud dan menjadi capaian penting bagi perjuangan organisasi.

“Tujuan kita mendirikan klinik salah satunya adalah supaya bisa memberikan pelayanan dengan BPJS. Dengan segala upaya, dengan segala kebersamaan dan perkembangan kita, alhamdulillah sudah terwujud bisa bekerja sama dengan BPJS,” tuturnya.

Namun, ia mengakui pekerjaan rumah berikutnya adalah meningkatkan jumlah peserta BPJS yang memilih Klinik NU Jatinegara sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Karena itu, pengurus terus mendorong warga untuk melakukan perpindahan FKTP ke klinik tersebut.

“PR berat selanjutnya adalah memindahkan peserta BPJS dari faskes lain ke Klinik NU Jatinegara. Jadi tidak hanya dari Puskesmas Tarub, tetapi dari faskes lain juga bisa. Sekarang bebas masyarakat memilih FKTP sesuai kebutuhan,” jelas H. M. Ramdhan.

Baca Lainnya  PR IPNU IPPNU Kesuben Lebaksiu Sukses Gelar Fun Run “Giat Sehat”, Dorong Semangat Hidup Sehat Pelajar

Berdasarkan evaluasi yang disampaikan dalam rakor, jumlah peserta BPJS yang tercatat di Klinik NU Jatinegara masih sekitar 300-an peserta, sementara jumlah peserta BPJS di wilayah yang menjadi sasaran layanan mencapai puluhan ribu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sosialisasi dan gerakan perpindahan FKTP masih perlu diperkuat melalui ranting dan badan otonom NU.

“Intinya belum maksimal. Dari sekitar 40 ribu peserta BPJS, kita baru mendapatkan sekitar 300. Kalau dihitung dari sisi pendapatan, tentu belum maksimal sekali. Karena itu kita masih terus melakukan upaya,” ujarnya.

H. M. Ramdhan menambahkan bahwa pengurus telah melakukan berbagai langkah, mulai dari mengundang pengurus ranting dan badan otonom, mendatangi kegiatan pengajian, hingga memberikan dukungan kepada ranting untuk membantu proses perpindahan FKTP. Namun, hasil yang diperoleh belum sesuai dengan target yang diharapkan.

“Kita sudah berusaha maksimal dari pengurus. Sudah mengundang pengurus ranting se-kecamatan, sudah mengundang banom, sudah datang ke pengajian dan ranting. Tetapi memang hasilnya belum maksimal. Mudah-mudahan nanti terus bertambah,” katanya.

Menurutnya, proses perpindahan FKTP juga membutuhkan waktu karena data perpindahan peserta baru dapat diketahui pada periode berikutnya. Selain mengandalkan perpindahan peserta lama, Klinik NU Jatinegara juga berpotensi mendapatkan peserta baru yang mendaftarkan kepesertaan BPJS dengan memilih klinik tersebut sebagai FKTP.

“Kalau mengandalkan yang pindah, berarti hanya yang sudah terlaporkan kepada kita. Tetapi ada juga peserta baru BPJS yang mendaftar dan memilih Klinik NU Jatinegara. Itu bisa menjadi tambahan peserta,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pengembangan Klinik NU tidak hanya bergantung pada jumlah peserta BPJS yang memilih klinik sebagai FKTP. Klinik juga memiliki peluang pelayanan lain yang dapat diklaim melalui BPJS, antara lain pelayanan keluarga berencana (KB), suntik KB, dan pemasangan implan.

“Selain yang Rp12 ribu per peserta, ada uang tambahan karena kita bisa melayani suntik KB dan implan. Untuk KB ada jasa dari BPJS, demikian juga implan. Ini peluang pendapatan yang bisa didapatkan dari klinik,” terangnya.

H. M. Ramdhan menjelaskan, pelayanan tertentu seperti suntik KB dan implan dapat diberikan meskipun peserta belum memindahkan FKTP ke Klinik NU Jatinegara. Hal tersebut berbeda dengan pelayanan pemeriksaan umum yang mensyaratkan peserta terdaftar di klinik sebagai FKTP.

“Untuk KB, suntik, dan implan, faskesnya di mana pun bisa dilayani di sini, meskipun faskesnya belum pindah ke Klinik NU. Tetapi kalau pasien periksa umum, faskesnya harus pindah ke klinik dulu,” ungkapnya.

Baca Lainnya  Gotong Royong LPQ Adiwerna untuk Padasari: Rp17,25 Juta Disalurkan bagi Guru Ngaji dan Empat TPQ

Untuk memperluas sosialisasi, pihak klinik juga menyiapkan sejumlah strategi, termasuk membuka posko perpindahan FKTP pada kegiatan-kegiatan warga NU. Selain itu, pengurus berencana melibatkan kader muda NU sebagai tim yang membantu masyarakat dalam proses perpindahan fasilitas kesehatan.

“Besok kita juga berkoordinasi dengan teman-teman klinik. Sembari menghadiri haul, kita membuat posko pemindahan faskes. Kita sudah membuat x-banner dan menyiapkan petugas di sana,” katanya.

Ia juga telah berkoordinasi dengan IPNU dan IPPNU untuk membentuk tim pendamping perpindahan FKTP. Tim tersebut nantinya akan diberikan pembekalan mengenai tata cara perpindahan FKTP dan dapat diterjunkan ke ranting-ranting sesuai kebutuhan masyarakat.

“Saya sudah menghubungi IPNU-IPPNU. Silakan untuk mendata dan menjadi tim pindah faskes. Nanti kita briefing, kita beri materi tentang bagaimana cara pindah faskes, kemudian bisa keliling sesuai kebutuhan ranting. Kalau ranting membutuhkan beberapa orang, nanti tim yang sudah siap kita kirim,” jelasnya.

H. M. Ramdhan berharap keterlibatan kader muda, ranting, badan otonom, dan seluruh warga NU dapat memperkuat Klinik NU Jatinegara sebagai salah satu amal usaha organisasi. Menurutnya, pengembangan klinik bukan sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pasien, tetapi bagian dari ikhtiar membangun kemandirian NU melalui pelayanan nyata kepada masyarakat.

“Kita membuka masukan, kritik, dan saran dari Bapak-Ibu semua. Bagaimana supaya klinik kita bisa profit, bisa sehat, bisa berkembang. Cita-citanya kita ingin ada rawat inap dan terus berkembang. Saya kira itu dulu yang bisa kami sampaikan, selanjutnya kita diskusi dan mohon arahan dari para kiai,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *