Bojong, Warta NU Tegal
Persoalan sampah dan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat. Hal tersebut menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Sampah dan Sanitasi Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, yang digelar di Ruang Rapat Kantor Kecamatan Bojong, Rabu (12/8/2026).
Rapat tersebut diikuti unsur Koordinator Wilayah Kecamatan (KWK) Bojong, kepala sekolah, pemerintah desa, instansi terkait, serta tenaga kesehatan. Dalam kesempatan itu, Camat Bojong Kabupaten Tegal Mochamad Dhomiri menyoroti persoalan genangan, saluran air, sampah yang menumpuk, hingga pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Camat Bojong Mochamad Dhomiri mengatakan, sejumlah ruas jalan di wilayah Bojong saat ini tengah mendapatkan penanganan dari pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU). Perbaikan tersebut menjadi bagian dari upaya merespons aspirasi masyarakat sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.
“Jalan itu sekarang sedang diperbaiki oleh PU. Kemarin PU juga mengadakan penanganan dari mulai Yamansari sampai dengan Bojong dengan alokasi anggaran sekitar Rp20 miliar,” ujar Mochamad Dhomiri.
Menurutnya, penanganan tersebut tidak terlepas dari partisipasi masyarakat Bojong yang secara aktif menyampaikan kondisi jalan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab. Aspirasi masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong pemerintah melakukan penanganan infrastruktur.
“Itu hasil dari masyarakat Bojong, dan menyampaikan kepada satuan kerja yang bertanggung jawab. Aspirasi masyarakat itu kemudian ditindaklanjuti hingga akhirnya ada penanganan jalan dari Yamansari sampai Bojong,” katanya.
Mochamad Dhomiri menjelaskan, selain perbaikan badan jalan, pemerintah juga mulai membangun sejumlah crossing atau lintasan saluran air. Salah satunya berada di depan Kantor Kecamatan Bojong dan di sekitar SD Negeri Bojong 3.
“Sekarang di jalan depan kecamatan dan di sekitar SD Negeri Bojong 3 dibuat crossing. Air yang tertampung diharapkan bisa dialirkan menuju saluran di sisi jalan sehingga tidak mengganggu badan jalan maupun lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, salah satu titik yang mengalami limpasan air cukup besar berada di sekitar SD Negeri Bojong 3. Kondisi tersebut terjadi karena adanya pertemuan arus air dari beberapa wilayah yang kemudian tidak mampu ditampung oleh saluran yang tersedia.
“Air yang besar pada saat itu berasal dari sekitar SD Bojong 3. Di situ ada pertemuan air dari selatan yang sudah sangat besar, kemudian ada limpasan dari arah Lengkong dan wilayah Bojong. Saluran di sekitar SD Bojong 3 tidak mampu mengalirkan seluruh debit air sehingga air akhirnya meluap,” ungkapnya.
Dalam kondisi darurat, Dhomiri mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melintasi ruas jalan yang sudah tergenang atau diterjang arus deras. Pemerintah kecamatan bersama relawan, kepolisian, dan TNI telah berupaya memberikan peringatan kepada pengguna jalan melalui berbagai saluran komunikasi.
“Saya sudah mengingatkan melalui berbagai media sosial agar masyarakat pengguna jalan tidak melawan arus. Kalau kondisi jalan sudah tidak normal, lebih baik berhenti dan mencari tempat yang aman. Kami juga bekerja sama dengan relawan, kepolisian, TNI, dan unsur lainnya untuk mengingatkan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Dhomiri, kondisi arus air pada saat kejadian cukup kuat sehingga berpotensi membahayakan warga yang tetap memaksakan diri melintas. Ia mengibaratkan derasnya limpasan air tersebut seperti gelombang besar yang datang secara tiba-tiba.
“Pada saat itu posisi air memang sangat kuat. Kalau boleh diibaratkan, seperti gelombang kecil yang datang tiba-tiba. Ketika air sudah naik dan arusnya kuat, masyarakat harus segera menjauh dan mencari tempat yang aman, bukan justru memaksakan diri melintas,” ujarnya.
Selain persoalan debit air, keberadaan sampah yang menumpuk di sekitar jalan dan saluran juga menjadi perhatian serius. Dhomiri menyebut, saat kejadian, sampah yang terbawa dan menumpuk di jalan jumlahnya sangat banyak sehingga menghambat aliran air.
“Posisi sampah pada saat itu luar biasa banyak. Sampah yang menimbun di jalan raya saya keluarkan. Sampah tersebut sampai sekitar tiga truk penuh. Ini menunjukkan bahwa persoalan sampah memang harus kita tangani bersama karena dapat menghambat aliran air dan memperparah genangan,” terangnya.
Mochamad Dhomiri menambahkan, persoalan tersebut kemudian dibahas bersama pemerintah daerah dan sejumlah pihak terkait untuk mencari solusi jangka panjang. Salah satu langkah yang didorong adalah pembangunan crossing-crossing air di sejumlah titik rawan genangan.
“Kita berdiskusi panjang dengan pemerintah daerah dan pihak terkait. Dari situ kita melihat bahwa perlu ada crossing-crossing air. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai ada pembangunan crossing di depan kecamatan dan di sekitar SD Bojong 3. Insyaallah penanganan akan berlanjut secara bertahap,” katanya.
Menutup keterangannya, Dhomiri menegaskan bahwa keterbatasan anggaran pemerintah membuat persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya oleh pemerintah. Karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama dari pemerintah desa, sekolah, masyarakat, relawan, dunia pendidikan, hingga para pemangku kepentingan lainnya.
“Kita sama-sama harus punya kesadaran untuk membangun dan menyelesaikan persoalan sampah yang begitu rumit. Jangan berpikir sampah itu urusan pemerintah saja. Pemerintah desa, sekolah, masyarakat, pendamping desa, aktivis lingkungan, dan semua unsur harus berkolaborasi. Kalau setiap desa dan sekolah memiliki kesadaran mengelola sampah, insyaallah lingkungan Bojong akan lebih bersih, sehat, indah, dan tidak mengganggu pemandangan, termasuk di jalur wisata,” pungkas Mochamad Dhomiri.
Editor: Tahmid












