Warta  

94 Santri Ikuti UKT Peguron Sapujagad Tegal, Bukan Sekadar Menguji Gerakan tetapi Menjaga Laku dan Nilai Luhur

Avatar photo
Sebanyak 94 santri Peguron Sapujagad Tegal mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) selama dua hari, Senin dan Selasa (24–25 Agustus 2026). Para peserta berasal dari berbagai titik latihan Peguron Sapujagad di Kabupaten Tegal.

Balapulang, Warta NU Tegal

Sebanyak 94 santri Peguron Sapujagad Tegal mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) yang digelar selama dua hari, Senin–Selasa (24–25 Agustus 2026) di MA Al-Islamiyah Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Peserta berasal dari berbagai titik latihan Peguron Sapujagad yang tersebar di wilayah Kabupaten Tegal.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk menguji kemampuan pencak silat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membentuk karakter, kedisiplinan, serta melestarikan budaya Jawa dan pencak silat sebagai warisan luhur bangsa. Peguron Sapujagad memaknai “Peguron” sebagai wadah untuk mencari ilmu dan pengalaman, sedangkan “Sapujagad” mengandung filosofi menyapu bersih sifat amarah, egoisme, hawa nafsu, dan berbagai hal negatif agar hati tetap bersih.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Pimpinan Cabang Peguron Sapujagad Tegal Ustadz M. Faizun Amin dan Dewan Pendekar M. Sukri. Pembinaan Peguron Sapujagad Cabang Tegal berada di bawah Gus Ali Nabhan dengan pendampingan Dewan Pendekar M. Sukri dan Ustadz Muhammad Faizun Amin. Sementara itu, guru besar Peguron Sapujagad Pusat adalah Gus Yusuf Efendi atau Gus Cokro.

Ketua Pimpinan Cabang Peguron Sapujagad Tegal, Kang M. Zulfikar Al-Ghifari, mengatakan bahwa pelaksanaan UKT merupakan bagian dari proses pembinaan anggota secara menyeluruh. Menurutnya, peserta tidak hanya dituntut menguasai teknik pencak silat, tetapi juga memiliki sikap, akhlak, dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ada tiga alasan utama mengapa pembinaan maupun ujian dilaksanakan dengan nilai-nilai tertentu. Pertama, kedisiplinan dibiasakan melalui ketaatan beribadah dan menaati peraturan agar setiap orang belajar bertanggung jawab,” ujar Kang M. Zulfikar Al-Ghifari.

Ia menjelaskan bahwa pembinaan di Peguron Sapujagad juga diarahkan untuk membentuk mental anggota agar mampu mengendalikan diri serta menjunjung tinggi tata krama dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Lainnya  Harlah ke-76 Fatayat NU, Ribuan Kader Kabupaten Tegal Satukan Langkah Wujudkan Gedung Organisasi

“Kedua, pembentukan mental agar anggota tumbuh bersikap sopan, menjaga tata krama, tidak anarkis maupun berlebih-lebihan. Kemampuan bela diri harus diiringi dengan kemampuan mengendalikan diri,” lanjutnya.

Selain pembentukan karakter dan mental, nilai spiritual juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Berbagai kegiatan keagamaan dilakukan untuk memperkuat hubungan anggota dengan Allah SWT sekaligus menanamkan nilai tawadhu dan kebersamaan.

“Ketiga, nilai spiritual dijaga melalui kegiatan rutin seperti istigasah, tawasul, ziarah kubur, serta amalan sederhana yang menguatkan iman,” tutur Kang Zulfikar.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi pembeda bahwa UKT Peguron Sapujagad tidak semata-mata berorientasi pada kemampuan fisik. Setiap anggota diharapkan mampu membawa nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Oleh karena itu, UKT bukan sekadar menguji gerakan fisik, melainkan juga kesungguhan menjaga nilai-nilai luhur tersebut. Setiap anggota diharapkan rendah hati, tidak sombong, tidak membuat keresahan di tengah masyarakat, serta mampu menjadi teladan kebaikan di mana pun berada,” pungkasnya.

Editor: Tahmid
Kontributor: Lukman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *