Maulid dan Milad ke-10 PP Hidayatur Rohman, Ustadz H. Imron: “Kanjeng Nabi Niku Nggawa Berkah,” Kisahkan Keteladanan Rasulullah di Perang Khandaq

Avatar photo
Ketua Tanfidziyah PRNU Sitail, Ustadz H. Imron, yang mewakili ulama setempat, menyampaikan sambutan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad ke-10 Pondok Pesantren Hidayatur Rohman, Dukuh Sampe, Desa Sitail, pada Sabtu malam Ahad (29/8/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad ke-10 Pondok Pesantren Hidayatur Rohman, Dukuh Sampe, Desa Sitail, berlangsung khidmat pada Sabtu malam Ahad (29/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga Nahdliyin untuk kembali menumbuhkan kecintaan dan kerinduan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat keberlangsungan dakwah dan pendidikan pesantren di tengah masyarakat.

Ketua Tanfidziyah PRNU Sitail yang juga memberikan sambutan atas nama ulama setempat, Ustadz H. Imron, dalam tausiyahnya mengajak jamaah menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan momentum untuk mengenal perjuangan Rasulullah, memperbanyak shalawat, serta berharap memperoleh syafaat beliau kelak di hari kiamat.

“Mugi-mugi dengan peringatan Maulid Nabi niki kulo panjenengan sedoyo nambah rindu kepengin ketemu kalian Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mugi-mugi sedoyo dipun paringi syafaat benjang yaumil qiyamah. Mugi-mugi sedoyo uga diakui sebagai umate Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” ujar Ustadz H. Imron.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW identik karo ngomong kelahiran. Leres napa boten, Bu? Wong peringatan Maulid berarti peringatan kelahiran,” katanya kepada jamaah dengan gaya penyampaian yang komunikatif dan diselingi humor khas pengajian masyarakat.

“Ibu-ibu angger meteng periksa, ra, Bu? Biasane dipriksa supaya ngerti HPL-e, kapan kira-kira lahire. Walaupun kadang-kadang HPL-e wis dietung temenan, ora mesthi pas,” tutur Ustadz H. Imron saat mengaitkan peringatan kelahiran dengan pengalaman masyarakat dalam memahami waktu kelahiran seorang anak.

“Kanjeng Nabi zaman kuno pun wis ngerti, Bu. Sing aran HPL iku ngerti. Jare dukun bayi Siti Aminah kon ngelahire tanggal 10, dinane Sabtu. Jebul ditaksir dina Sabtu ora lahir, alias diundur,” lanjutnya dengan gaya bertutur yang mengundang perhatian jamaah.

Baca Lainnya  Khutbah Jumat: Mensyukuri Kemerdekaan dengan Memperkuat Iman, Persatuan, dan Pengabdian kepada Bangsa

“Terus ditunggu dina Ahad, ternyata ora lahir. Gusti Allah boten kersa ngersakaken Kanjeng Nabi niku lahire dina Senin. Lahire kapan? Tanggal 12 dina Senin,” jelasnya saat menyampaikan kisah kelahiran Rasulullah SAW sebagaimana materi yang ia bawakan dalam pengajian.

“Bareng wengi Senene, Siti Aminah tengah wengi menjelang subuh niku ketok-ketok lawang. Bareng dibuka, jebule wong wadon. Assalamualaikum. Kula niki Ibu Hawa,” tuturnya ketika mengisahkan kedatangan sejumlah perempuan dalam kisah kelahiran Nabi yang disampaikannya kepada jamaah.

“Ora suwe ketokan tamu maneh. Dibuka lawange, ‘Sampeyan sinten?’ ‘Kula niki Siti Sarah.’ Terus teka maneh Siti Asiah, lan sing terakhir Siti Maryam. Wong papat,” katanya.

“Ibu-ibu sing lagi babaran ngerti rasane. Sing lanang ora ngrasakake lara. Sing wadon lagi kempas-kempis, ngeden-ngeden, ora karuan. Mula ibu-ibu sing lagi meteng kepengin babaran lancar,” ujarnya sembari menyampaikan humor untuk mencairkan suasana pengajian.

“Ibu-ibu sering hadaroh Fatihah kanggo wong papat? Sinten? Ibu Hawa, sing kedua Siti Sarah, sing ketiga Siti Maryam, terus sing terakhir Siti Asiyah. Mugi-mugi dadi wasilah supaya babaran lancar,” katanya.

“Dalam suatu riwayat, Kanjeng Nabi ketika menghadapi Perang Khandaq, hampir satu tahun penduduk Madinah merasakan adem ayem. Islam semakin jaya dan semakin ditakuti. Ternyata ada laporan bahwa wong Yahudi sedang menggalang kekuatan ingin meratakan Kota Madinah,” tutur Ustadz H. Imron.

“Kanjeng Nabi kemudian mengumpulkan para sahabat. Seluruh pendapat para sahabat ditampung dengan bijaksana, dan yang terakhir adalah pendapat dari sahabat Salman al-Farisi,” jelasnya saat menyampaikan kisah Perang Khandaq.

“Salman al-Farisi matur kepada Kanjeng Nabi, ‘Ya Rasulullah, di negara saya kalau mau dikepung musuh, taktiknya membuat parit atau jebakan.’ Ternyata Kanjeng Nabi menerima pendapat Salman al-Farisi,” katanya.

Baca Lainnya  KH. Muslim Komari Pemalang Ajak Jamaah Memahami Karomah Wali dan Menjaga Marwah Nahdlatul Ulama

“Karena yang menyerang jumlahnya banyak, penduduk Madinah yang mampu bekerja dikerahkan. Dibuatlah parit mengelilingi bagian kota yang sekiranya menjadi jalan masuk musuh,” lanjutnya.

“Dikerjakan awan bengi, ora dibayar. Bahkan dalam keadaan susah payah dan kelaparan, mereka tetap bekerja. Kanjeng Nabi juga ikut bekerja bersama para sahabat,” ujar Ustadz H. Imron.

“Niki mengingatkan kita pada firman Allah, wal-akhiratu khairun wa abqa. Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Berarti kesusahan dalam perjuangan itu harus dihadapi dengan kesabaran karena ada tujuan yang lebih baik,” katanya.

“Sahabat Jabir melihat Kanjeng Nabi dalam keadaan lapar. Wetenge diganjel, wis sedina rong dina ora mangan. Tapi tetap bekerja. Sahabat Jabir kemudian pulang kepada istrinya dan bertanya apakah masih ada makanan,” tuturnya.

“Akhire ana wedus cempe cilik sing disembelih lan dimasak. Sahabat Jabir kemudian matur kepada Kanjeng Nabi agar datang bersama beberapa sahabat. Tetapi ternyata Kanjeng Nabi malah mengajak seluruh prajurit yang sedang bekerja,” jelasnya.

“Kanjeng Nabi ngadeg banjur matur kepada para prajurit, ‘Wahai para prajurit, penduduk Madinah yang sedang bekerja, ayo liren istirahat. Balik kabeh maring omahe sahabat Jabir.’ Pira jumlahe? Seribu wong,” ujarnya.

“Sahabat Jabir tentu bingung. Persiapane mung kanggo sawetara wong, nanging sing teka malah akeh. Nanging niki nuduhna sifat Kanjeng Nabi, harisun alaikum bil-mu’minina ra’ufur rahim,” katanya.

“Jare Kanjeng Nabi, yaduhu dhaharat barokatuhuma fil matha’imi wal masyarib. Tandane Kanjeng Nabi niku nggawa berkah, Bu, nang panganan maupun ngombe minuman,” ujarnya ketika melanjutkan kisah tentang keberkahan Rasulullah SAW.

“Bareng panganan digawa, wong-wong sing teka mangan kabeh. Kabeh keduman, kabeh wareg. Bareng wis wareg, Kanjeng Nabi malah mangan paling akhir. Niki bukti harisun alaikum bil-mu’minina ra’ufur rahim, selalu memperhatikan umat, ora kanggo dewek tok,” tegasnya.

Baca Lainnya  Bukti Nyata Kita Pernah Berpuasa: Mengukur Kesuksesan Ramadhan dalam Timbangan Akhlak

“Kanjeng Nabi wis lahir. Yang dibawa oleh Kanjeng Nabi adalah risalah dari Gusti Allah. Nabi itu didatangkan oleh Allah dari golongan kita, manusia. Dudu bangsa jin, dudu bangsa malaikat,” tutur Ustadz H. Imron.

“Muhammadun basyarun la kal-basyari, bal huwa kal-yaquti bainal-hajari. Kanjeng Nabi memang manusia, tetapi beliau memiliki kemuliaan yang luar biasa. Karena itu kita harus semakin mengenal dan mencintai beliau,” katanya.

“Mugi-mugi kita sedoyo ora bosen muludan. Malah kepengin terus muludan, terus maca shalawat, terus nyebut jenenge Kanjeng Nabi. Kepengin apa? Kepengin diakui dadi umate Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” pungkas Ustadz H. Imron.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *