Jatinegara, Warta NU Tegal
Musim kemarau mulai berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Desa Penyalahan dan Desa Mokaha, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Sejumlah warga mengalami kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan mulai mengering.
Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak untuk menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Penyaluran dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan respons terhadap kebutuhan warga, termasuk melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, Palang Merah Indonesia (PMI), serta LAZISNU Kabupaten Tegal.
Di Desa Penyalahan, beberapa wilayah yang mengalami kekurangan air bersih berada di sejumlah RT, di antaranya RT 9, 10, 21, 22, 25, dan 26. Bantuan air bersih menjadi sangat berarti bagi warga yang selama ini mengandalkan mata air, tetapi kini sumber tersebut mengalami kekeringan.
Perangkat Desa Penyalahan, Mohammad Ali, saat ditemui Wartawan Warta NU Tegal di Balai Desa Penyalahan, Senin (22/8/2026), mengatakan kondisi kekeringan mulai dirasakan warga di beberapa wilayah.
“Untuk kekeringan di Desa Penyalahan, beberapa RT yang terdampak antara lain RT 9, 10, 21, 22, 25, dan 26. Warga mengalami kekurangan air bersih,” ujarnya.
Menurut Ali, sebagian masyarakat sebelumnya masih mengandalkan sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, memasuki musim kemarau, debit air dari sumber tersebut semakin berkurang sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga secara optimal.
“Selama ini warga mengandalkan mata air, tetapi sekarang mengalami kekeringan sehingga kebutuhan air bersih menjadi persoalan bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menuturkan, kondisi tersebut membuat bantuan air bersih sangat dibutuhkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Penyaluran air diharapkan dapat membantu meringankan beban warga selama sumber air belum kembali normal.
“Dengan adanya bantuan air bersih, setidaknya kebutuhan warga untuk keperluan sehari-hari bisa terbantu di tengah kondisi kekeringan seperti sekarang,” katanya.
Ali mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Tegal melalui BPBD yang telah merespons kondisi tersebut dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat. Menurutnya, bantuan itu menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tegal, dalam hal ini BPBD, yang sudah langsung melakukan penyaluran air bersih kepada warga,” ungkapnya.
Ia berharap bantuan serupa dapat terus dilakukan apabila kondisi kekeringan masih berlangsung. Selain bantuan jangka pendek, menurutnya, diperlukan langkah penanganan yang lebih berkelanjutan agar masyarakat memiliki sumber air yang memadai ketika musim kemarau kembali terjadi.
“Kami berharap perhatian dan bantuan untuk kebutuhan air bersih masyarakat dapat terus diberikan selama kondisi kekeringan masih berlangsung,” pungkas Ali.
Sementara itu, kekeringan juga dirasakan warga Desa Mokaha, Kecamatan Jatinegara. Kepala Desa Mokaha, Ahmad, didampingi Sekretaris Desa Mokaha, Idris, mengatakan beberapa wilayah desanya juga mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat kemarau.
“Beberapa waktu lalu warga kami juga mengalami kekeringan di beberapa RT. Alhamdulillah, masyarakat sudah mendapatkan bantuan air bersih dari PMI dan LAZISNU Kabupaten Tegal,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, bantuan air bersih tersebut sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menyampaikan apresiasi kepada PMI dan LAZISNU Kabupaten Tegal yang turut hadir membantu warga ketika menghadapi kesulitan air bersih.
“Bantuan dari PMI dan LAZISNU Kabupaten Tegal sangat membantu warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau,” jelasnya.
Ahmad menjelaskan, pemerintah desa telah melakukan pendataan dan survei untuk memetakan wilayah yang terdampak kekeringan. Pemetaan tersebut diperlukan agar penanganan dan distribusi bantuan dapat diarahkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Untuk peta kekeringan Desa Mokaha tahun 2026, hasil survei kami menunjukkan beberapa wilayah yang mengalami kekurangan air bersih,” katanya.
Berdasarkan hasil pendataan Pemerintah Desa Mokaha, wilayah terdampak berada di beberapa lingkungan. Di antaranya RW 01 RT 01, RW 02 RT 01, 03, 04, dan 05, serta RW 03 RT 03, 04, 05, 06, dan 07.
“Wilayah yang masuk dalam peta kekeringan antara lain Mokaha RT 01/01, kemudian RW 02 RT 1, 3, 4, 5, serta RW 03 RT 3, 4, 5, 6, dan 7,” terang Ahmad.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan organisasi kemasyarakatan seperti LAZISNU dapat terus diperkuat dalam menghadapi persoalan kekeringan. Menurutnya, gotong royong dan kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
“Kami berharap bantuan dan kepedulian dari berbagai pihak dapat terus terjalin sehingga kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi. Semangat gotong royong seperti ini sangat penting untuk meringankan beban warga,” pungkas Ahmad.
Editor : Tahmid
Kontributor: Eko Wahyu Sagino












