Opini  

Gus Yahya dan Ikhtiar Menguatkan Khidmah Keagamaan NU

Avatar photo
KH Zulfa Mustofa - Wakil Ketua Umum PBNU 2022–2026

Warta NU Tegal

Satu periode membersamai KH Yahya Cholil Staquf dalam kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2022-2026 memberikan banyak pengalaman dan pelajaran bagi saya. Setiap kepemimpinan tentu memiliki dinamika, tantangan, kekurangan, sekaligus capaian yang kelak akan dinilai secara lebih jernih oleh sejarah.

Sejak awal, ada satu hal yang saya tangkap dari Gus Yahya, yakni kesadarannya bahwa Nahdlatul Ulama merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, dengan dimensi diniyyah sebagai ruh utamanya. Karena itu, khidmah keagamaan menurut saya tidak boleh kehilangan tempat di tengah perkembangan NU dalam berbagai bidang kehidupan.

Saya masih mengingat ketika Gus Yahya meminta saya membantu beliau sebagai Wakil Ketua Umum PBNU. Dalam percakapan tersebut, beliau menekankan bahwa NU adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Bidang keagamaan, menurutnya, harus memperoleh perhatian sungguh-sungguh dan menjadi salah satu poros utama kerja PBNU.

Kepercayaan itu merupakan amanah yang berat sekaligus kesempatan untuk berkhidmah. Dalam menjalankan amanah tersebut, saya banyak berkoordinasi dengan para kiai, akademisi, dan kader yang memiliki perhatian terhadap khazanah keislaman, fikih, serta pemikiran keagamaan NU. Dari kerja bersama itulah lahir berbagai ikhtiar keagamaan, seperti Halaqah Fikih Peradaban, penguatan metodologi istinbath hukum, seminar keagamaan, penataan Peraturan Perkumpulan NU (Perkum), hingga penguatan tata kelola administrasi melalui Digdaya Persuratan.

Perhatian terhadap turats dan khazanah keislaman Nusantara juga menjadi bagian penting dari ikhtiar tersebut. Bersama Kiai Tajul Mafakhir dan sejumlah kiai serta kader lainnya, saya berkesempatan terlibat dalam upaya menggali, menghimpun, dan menghadirkan kembali warisan intelektual para ulama. Di antaranya penyusunan Majmu’ Mu’allafat Ulama Indonesia yang menghimpun karya ulama Nusantara serta penyusunan kitab Tsaquf al-Akhyar menjelang Seminar Internasional Fikih Peradaban.

Baca Lainnya  Darurat Pangan di Lumbung Tegal: Ketua LTN NU Warureja M. Nur Iskandar Fajri Sebut Kerusakan Bendungan Cipero Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Sosial

Bagi saya, ikhtiar semacam ini penting karena NU tidak boleh tercerabut dari akar keilmuannya. Membicarakan masa depan NU dan peradaban dunia harus berjalan beriringan dengan merawat sanad keilmuan, membaca kembali turats, dan mengenalkan karya para ulama Nusantara kepada generasi berikutnya. Berpikir tentang masa depan bukan berarti meninggalkan khazanah masa lalu, tetapi justru menjadikan akar keilmuan tersebut sebagai pijakan untuk menjawab berbagai persoalan baru.

Program-program tersebut tentu bukan karya satu atau dua orang. Semuanya lahir dari kerja kolektif banyak kiai, pengurus, lembaga, dan kader NU. Namun, menurut saya, patut dicatat bahwa Gus Yahya memberikan ruang sekaligus dukungan organisatoris sehingga berbagai ikhtiar di bidang keagamaan dan intelektual tersebut dapat berjalan serta berkembang.

Saya juga menyaksikan bagaimana Gus Yahya menempatkan bidang keagamaan dalam struktur kepengurusan. Ketika pernah muncul usulan agar Wakil Ketua Umum yang membidangi sektor lain ditempatkan di atas Wakil Ketua Umum bidang keagamaan, Gus Yahya tetap meminta agar Wakil Ketua Umum yang membidangi keagamaan ditempatkan pada urutan pertama dan langsung setelah Ketua Umum.

Bagi sebagian orang, urutan tersebut mungkin terlihat sebagai persoalan administratif sederhana. Namun bagi saya, keputusan itu menggambarkan cara pandang Gus Yahya mengenai identitas dasar NU. Sebesar apa pun NU berkembang dalam bidang sosial, ekonomi, politik kebangsaan, pendidikan, teknologi, dan bidang lainnya, ruh utama jam’iyyah tetaplah khidmah keagamaan.

Tentu kepemimpinan Gus Yahya selama satu periode tidak berlangsung tanpa perdebatan. Ada keputusan yang mendapatkan dukungan, ada pula yang mengundang kritik. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Saya sendiri tidak selalu memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Namun, perbedaan pandangan tidak semestinya membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengakui hal-hal baik yang telah dikerjakan.

Baca Lainnya  Pendidikan Karakter di NU: Dari Khidmah Menuju Insan Berakhlak

Karena itu, sejumlah warisan periode 2022-2026 menurut saya layak dijaga dan dikembangkan, antara lain Digdaya, Halaqah Fikih Peradaban, perhatian terhadap turats dan karya ulama Nusantara, penguatan sistem dan Perkum NU, serta pengembangan metodologi istinbath melalui berbagai seminar dan forum keilmuan. Apa yang sudah baik perlu diteruskan, yang masih kurang perlu disempurnakan, dan yang belum selesai perlu dituntaskan.

Secara pribadi, saya menyadari bahwa berbagai kepercayaan yang kemudian saya terima dari banyak kiai, pengurus, dan warga NU selama beberapa tahun terakhir tidak dapat dilepaskan dari keputusan Gus Yahya yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi Wakil Ketua Umum PBNU. Amanah tersebut memperluas ruang khidmah saya sekaligus mempertemukan saya dengan begitu banyak kiai, kader, dan jaringan NU di berbagai daerah.

Atas kepercayaan dan kesempatan berkhidmah tersebut, saya menyampaikan terima kasih kepada Gus Yahya. Kepercayaan seseorang sering kali membuka jalan bagi tumbuhnya kepercayaan dari banyak orang lainnya. Dalam perjalanan khidmah selama satu periode, saya tidak melupakan bahwa salah satu pintu tersebut dibukakan oleh Gus Yahya.

Pada akhirnya, jabatan dalam NU datang dan pergi, sedangkan khidmah kepada jam’iyyah harus terus berjalan. Setiap kepemimpinan menerima warisan dari pendahulunya dan mempunyai kewajiban untuk merawat yang baik, memperbaiki yang kurang, serta menghadirkan pembaruan sesuai kebutuhan zaman. Karena itu, kepada Gus Kikin, Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031, saya menaruh harapan besar agar dapat meneruskan hal-hal baik yang telah dibangun sekaligus menyempurnakan apa yang masih memerlukan perbaikan.

Terutama, saya berharap khidmah keagamaan tetap ditempatkan sebagai ruh utama PBNU, tradisi keilmuan dan turats para ulama terus diperkuat, serta seluruh potensi besar yang dimiliki NU dapat dirangkul untuk bekerja bersama. Setiap zaman mempunyai tantangannya dan setiap pemimpin mempunyai caranya. Yang tidak boleh berubah adalah tujuan kita: menjaga agama, merawat jam’iyyah, serta menghadirkan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Baca Lainnya  Tiada Sistem yang Sempurna, Integritas dan Ukhuwah Menjadi Kunci

KH Zulfa Mustofa
Wakil Ketua Umum PBNU 2022–2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *