lapsus  

Bedah Buku di Muktamar NU ke-35: Dari Siyasah Tanfidziyah Menuju Siyasah Peradaban

Liputan Khusus Muktamar ke-35 NU (8)

Avatar photo
Bedah buku NU Abad Kedua: Islam Nusantara dan Siyasah Peradaban karya Dr. Ahmad Suaedy dibahas dalam forum yang digelar secara daring melalui Zoom pada Jumat malam (28/08/2026).

Jombang, Warta NU Tegal

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak hanya menjadi momentum permusyawaratan organisasi, tetapi juga ruang bertemunya gagasan tentang masa depan NU. Salah satu diskusi yang menarik perhatian adalah kajian buku NU Abad Kedua: Islam Nusantara dan Siyasah Peradaban karya Dr. Ahmad Suaedy, yang membahas transformasi pemikiran dan orientasi perjuangan NU memasuki abad kedua.

Diskusi tersebut menempatkan NU dalam konteks perubahan dunia yang ditandai ketegangan geopolitik, krisis kemanusiaan, ketimpangan ekonomi, perkembangan teknologi, serta menguatnya berbagai ideologi transnasional. Dalam situasi tersebut, NU dinilai memiliki modal sosial, keagamaan, kebudayaan, dan kepesantrenan yang kuat untuk ikut menawarkan jalan perdamaian dan keadilan di tingkat global.

Pantauan Warta NU Tegal, gagasan tersebut dibahas dalam sebuah forum yang digelar secara daring melalui Zoom pada Jumat malam, Sabtu (28/8/2026). Forum tersebut diikuti oleh sejumlah akademisi, aktivis, serta peserta dari berbagai daerah.

Diskusi menghadirkan Dr. Ahmad Suaedy, M.A. selaku penulis buku, Eko Wahyudi bin Sagino, M.Hum. sebagai pembicara, serta Bon Randiwale, M.Hum. sebagai narasumber dan penanggap.

Sejumlah akademisi turut memberikan pandangan dalam forum tersebut, di antaranya Dr. Mustolih dari IAINU Kebumen, Dr. Kholidul Adib dari UIN Semarang, Dr. Ubaidillah dari UIN Banyumas, Yoseph dari Palembang yang tengah menempuh studi S3 di UNUSIA Jakarta, serta Yudha, alumni UI Jakarta.

Eko Wahyudi bin Sagino, M.Hum., alumni Fakultas Islam Nusantara, Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, mengangkat pemikiran mengenai posisi strategis NU dalam membangun peradaban global. Menurutnya, gagasan dalam buku tersebut menjadi relevan untuk membaca arah perjalanan NU di bawah kepemimpinan PBNU, khususnya dalam memperluas khidmah dari persoalan internal organisasi menuju agenda kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Dari Siyasah Tanfidziyah Menuju Siyasah Peradaban

Salah satu pokok pembahasan diskusi adalah perlunya memperluas makna siyasah atau politik. Politik tidak semestinya hanya dipahami sebagai siyasah tanfidziyah, yakni politik praktis yang berorientasi pada kekuasaan dan pemerintahan. NU didorong mengembangkan siyasah peradaban, yaitu politik yang menempatkan kemanusiaan, perdamaian, keadilan sosial, dan pembangunan tatanan dunia sebagai orientasi perjuangan.

Baca Lainnya  MDS Rijalul Ansor di Lebaksiu, Abdul Basir: Berkhidmah Harus Dijalani dengan Bahagia.

Gagasan tersebut menempatkan NU bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi sebagai kekuatan masyarakat sipil yang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola keberagaman. Nilai Islam Nusantara yang moderat, toleran, dan berakar pada kebudayaan lokal dipandang dapat menjadi kontribusi penting bagi dunia yang tengah menghadapi berbagai konflik dan ketegangan.

Dalam konteks internasional, diskusi juga menyoroti pentingnya pembaruan pemikiran fiqih siyasah agar mampu berdialog dengan realitas negara-bangsa modern dan tatanan internasional. Konsep nation-state serta keberadaan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perlu dibaca melalui perspektif keislaman yang kontekstual, sehingga Islam dapat terus memberikan jawaban terhadap persoalan kehidupan berbangsa dan hubungan antarnegara.

NU dan Tantangan Abad Kedua

Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Kemandirian organisasi menjadi salah satu isu yang dianggap penting, terutama dalam bidang ekonomi, penguatan komunitas pesantren, tata kelola kelembagaan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia Nahdliyin.

NU juga dituntut tidak tertinggal dalam perkembangan sains dan teknologi. Penguatan kapasitas warga Nahdliyin dalam bidang pendidikan, teknologi informasi, ekonomi modern, dan berbagai disiplin ilmu menjadi bagian penting untuk memastikan NU mampu mengambil peran dalam perubahan zaman.

Pada saat yang sama, Islam Nusantara dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadapi transnasionalisme dan berbagai ideologi ekstrem. Nilai keislaman yang tumbuh dari tradisi pesantren, kearifan lokal, serta prinsip Ahlussunnah wal Jamaah dapat menjadi kekuatan untuk menghadirkan Islam yang damai, inklusif, dan menghargai keberagaman.

Pesantren sebagai Akar Peradaban NU

Dalam pemaparan Eko Wahyudi, pembahasan mengenai masa depan NU tidak dapat dilepaskan dari sejarah pesantren. Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga salah satu akar penting pembentukan kebudayaan dan peradaban masyarakat Indonesia.

Pemikiran mengenai perjalanan Islam Nusantara dapat dilihat melalui proses panjang. Fase awal berlangsung secara kultural melalui jaringan ulama yang berinteraksi dengan kebudayaan Nusantara. Selanjutnya, Islam berkembang menjadi kekuatan kelembagaan melalui berbagai institusi pendidikan dan keagamaan, termasuk pesantren yang kemudian menjadi salah satu basis penting lahirnya Nahdlatul Ulama.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menjadi contoh konkret panjangnya perjalanan tradisi kepesantrenan. Pesantren yang menjadi lokasi Muktamar NU ke-35 tersebut telah melewati perjalanan sejarah selama lebih dari dua abad. Usia panjang tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi pesantren bahkan telah tumbuh jauh sebelum organisasi NU memasuki usia satu abad.

Baca Lainnya  Gus Yahya Tiba di Tambakberas, Muktamar NU ke-35 Memasuki Tahap Registrasi Peserta

Karena itu, NU dinilai tidak boleh kehilangan akar kepesantrenannya ketika bergerak menuju panggung global. Modernisasi dan internasionalisasi NU harus berjalan bersama dengan pelestarian tradisi keilmuan pesantren. Justru kekuatan lokal tersebut dapat menjadi modal untuk menawarkan nilai-nilai Islam Nusantara kepada masyarakat dunia.

Pemikiran Ahmad Suaedy dan Orientasi NU

Buku NU Abad Kedua: Islam Nusantara dan Siyasah Peradaban karya Dr. Ahmad Suaedy menjadi salah satu pijakan penting dalam diskusi. Buku tersebut menggambarkan evolusi pemikiran NU, dari upaya mempertahankan tradisi lokal hingga gagasan menjadikan NU sebagai aktor peradaban dunia.

Dalam perspektif tersebut, NU tidak cukup hanya mempertahankan tradisi yang telah diwariskan para ulama. Nilai-nilai tersebut perlu didiseminasikan dan dikembangkan menjadi gagasan yang mampu menjawab persoalan kemanusiaan global. Islam Nusantara dapat menjadi sumber inspirasi bagi terciptanya tatanan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

Bon Randiwale, M.Hum., salah seorang pembicara dalam forum, memiliki latar belakang akademik yang berkaitan dengan sejarah dan kebijakan publik. Ia merupakan alumni Program Magister Fakultas Islam Nusantara UNUSIA dengan tesis tentang Kiprah dan Ijtihad Kiai dalam Perumusan Dasar Negara. Ia juga pernah menempuh Magister Ilmu Lingkungan di Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia dengan kajian mengenai kebijakan ruang terbuka hijau di DKI Jakarta dan kini bekerja sebagai tenaga ahli DPR RI.

Kehadiran sejumlah akademisi dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai NU abad kedua membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Sejarah, agama, politik, lingkungan, pendidikan, teknologi, ekonomi, dan kebudayaan perlu ditempatkan dalam satu kerangka besar untuk membaca masa depan NU.

Rekomendasi: Sejarah NU Harus Terus Didiseminasikan

Dari diskusi tersebut muncul rekomendasi agar kajian mengenai sejarah kebudayaan Islam Nusantara tidak berhenti di ruang akademik. Pengetahuan tersebut perlu disosialisasikan secara lebih luas kepada warga Nahdliyin, termasuk melalui berbagai platform digital dan forum pendidikan.

Sosialisasi juga perlu memperhatikan kearifan lokal masing-masing daerah. Sejarah NU di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan berbagai wilayah Indonesia memiliki pengalaman yang beragam. Keragaman tersebut justru menjadi kekayaan yang memperkuat narasi besar Islam Nusantara.

Baca Lainnya  10 Nama Berebut Panggung Muktamar NU ke-35, Siapa Paling Kuat Jadi Ketum PBNU?

Bagi NU, memasuki abad kedua berarti memperluas medan pengabdian tanpa meninggalkan akar. Pesantren tetap menjadi fondasi, tradisi tetap dirawat, tetapi wawasan perjuangan harus mampu menjangkau persoalan global. Dari pesantren, NU dapat berbicara tentang perdamaian; dari tradisi lokal, NU dapat menawarkan Islam yang ramah; dan dari pengalaman kebangsaan Indonesia, NU dapat ikut membangun peradaban dunia.

Dari Tambakberas untuk Peradaban Dunia

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas akhirnya tidak hanya menghadirkan perdebatan mengenai agenda organisasi, tetapi juga memperlihatkan geliat pemikiran tentang arah perjalanan NU. Diskusi buku dan pertukaran gagasan menjadi bagian dari khidmah intelektual untuk memastikan bahwa NU terus mampu menjawab tantangan zaman.

Pantauan Warta NU Tegal mencatat, gagasan utama yang mengemuka adalah pentingnya menjadikan abad kedua sebagai fase perluasan peran NU. NU diharapkan mampu menjaga tradisi sekaligus mengembangkan siyasah peradaban yang berorientasi pada kemanusiaan, perdamaian, keadilan, dan kemaslahatan.

Dari Tambakberas Jombang, pesan tersebut menemukan konteks yang kuat. Pesantren menjadi akar, NU menjadi wadah pengabdian, Indonesia menjadi rumah kebangsaan, dan dunia menjadi ruang khidmah. Dengan tetap berpijak pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah dan nilai Islam Nusantara, NU memiliki peluang besar untuk terus mengambil bagian dalam membangun peradaban dunia yang damai, adil, inklusif, dan rahmatan lil ‘alamin.

Editor: Tahmid
Jombang, 28 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *