lapsus  

Dari Slawi ke Jombang, Perjalanan Warta NU Tegal Menuju Muktamar NU ke-35 Diwarnai Nyanyian Indonesia Raya

Liputan Khusus Muktamar ke-35 NU (1)

Avatar photo
Stasiun KAI Slawi, Kabupaten Tegal, Ahad (23/8/2026).

Slawi, Warta NU Tegal

Suasana berbeda terlihat di Stasiun Slawi, Kabupaten Tegal, Ahad (23/8/2026) pagi. Sekitar pukul 09.55 WIB, atau beberapa menit sebelum Kereta Api Joglosemarkerto memasuki stasiun, suara dari pengeras pengumuman tiba-tiba terdengar. Para penumpang diminta berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum menaiki kereta.

Sebelum naik kereta api, kepada seluruh penumpang mohon untuk berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya,” demikian pengumuman yang terdengar dari pengeras suara Stasiun Slawi. Para penumpang pun berdiri dan mengikuti lantunan Indonesia Raya. Momen tersebut menjadi pemandangan menarik sekaligus menguatkan suasana kebangsaan di tengah perjalanan masyarakat menggunakan moda transportasi kereta api.

Bagi Warta NU Tegal, Eko Wahyudi, momen tersebut menjadi bagian penting dari catatan perjalanan menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Perjalanan tersebut sekaligus menjadi ikhtiar mengikuti rangkaian tugas kepanitiaan media Muktamar dan menyiapkan liputan langsung dari lokasi kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.

Catatan Perjalanan Warta NU Tegal Menuju Muktamar

Pantauan Warta NU Tegal, setelah menaiki KA Joglosemarkerto dari Stasiun Slawi, Eko Wahyudi melanjutkan perjalanan menuju Kebumen. Setibanya di Kebumen, ia menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam almarhum Sagino di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen. Ziarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan personal sebelum kembali melanjutkan tugas jurnalistik menuju Jombang.

Eko Wahyudi bukan kali pertama terlibat dalam kegiatan jurnalistik Muktamar NU. Lima tahun sebelumnya, ia juga tercatat menjadi bagian dari panitia media Muktamar NU di Lampung. Pada Muktamar ke-35 kali ini, ia kembali mengikuti proses seleksi dan bergabung dalam kepanitiaan media untuk mendukung publikasi berbagai agenda Muktamar NU kepada masyarakat luas.

Baca Lainnya  LF PBNU: Hilal Belum Penuhi Kriteria, Idulfitri 1447 H Berpotensi Jatuh 21 Maret 2026

Perjalanan menuju Jombang juga memperlihatkan bagaimana kereta api masih menjadi salah satu moda transportasi penting yang menghubungkan berbagai daerah di Pulau Jawa. Bagi Eko, KA Joglosemarkerto bukan moda yang asing. Kereta tersebut kerap digunakannya ketika melakukan perjalanan menuju sejumlah kota di Jawa Tengah. Kali ini, perjalanan dengan kereta menjadi bagian dari tugas jurnalistik menuju momentum besar organisasi Nahdlatul Ulama.

Dari Stasiun Slawi, perjalanan juga membawa ingatan pada sejarah Kabupaten Tegal. Slawi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Tegal berkembang dalam lingkungan agraris yang memiliki sejarah panjang perkebunan, terutama tebu dan teh. Pada masa kolonial, hasil pertanian dan perkebunan dari wilayah sekitar Tegal menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang terhubung dengan jalur transportasi dan perdagangan antarkota.

Kereta api kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan transportasi dan mobilitas masyarakat di wilayah Tegal. Jalur kereta tidak hanya menghubungkan pusat-pusat ekonomi, tetapi juga mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah. Dalam perjalanan menuju Muktamar, suasana tersebut terasa kembali ketika para penumpang dari berbagai latar belakang berdiri bersama menyanyikan Indonesia Raya di Stasiun Slawi.

Memasuki 23 Agustus 2026, atmosfer menuju Muktamar NU ke-35 juga mulai terasa. Tingginya minat masyarakat untuk melakukan perjalanan menuju Jawa Timur terlihat dari meningkatnya pemesanan tiket kereta api. Bahkan, berdasarkan catatan perjalanan penulis, tiket kereta jurusan Kebumen–Jombang pada waktu tertentu sudah sangat terbatas. Hal tersebut menjadi salah satu tanda bahwa mobilitas warga menuju lokasi Muktamar mulai meningkat.

Pada Senin (24/8/2026), perjalanan kemudian dilanjutkan dari Stasiun Kebumen menuju Jombang dengan kereta api pada pukul 10.08 WIB dan dijadwalkan tiba sekitar pukul 15.22 WIB. Perjalanan tersebut menjadi tahap berikutnya menuju pusat kegiatan Muktamar NU ke-35. Sebelum berangkat, penulis juga menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam orang tua sebagai bagian dari ikhtiar batin sebelum menjalankan tugas jurnalistik.

Baca Lainnya  KH Fakhrurozi: Semangat Gotong Royong dan Keikhlasan Jadi Kunci Kemandirian MWCNU Jatinegara

Setibanya di Stasiun Jombang, suasana penyambutan Muktamar langsung terasa. Sekitar 50 meter dari stasiun, terlihat bentangan spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang bagi peserta Muktamar, lengkap dengan bendera Nahdlatul Ulama dan Merah Putih. Pemandangan tersebut menjadi penanda bahwa Jombang telah bersiap menyambut kedatangan para peserta, penggembira, tamu, dan seluruh warga Nahdliyin dari berbagai daerah.

Dari Stasiun Jombang menuju kompleks Pondok Pesantren Tambakberas yang berjarak sekitar lima kilometer, perjalanan dilanjutkan menggunakan becak motor. Sepanjang perjalanan, bendera NU dan Merah Putih terlihat menghiasi sejumlah ruas jalan, kantor pemerintahan, serta perempatan. Sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta Muktamar NU ke-35 juga terpasang di berbagai titik.

Stan ekspo dan bazar memeriahkan Muktamar ke 35 Nahdlatul Ulama.

Di kawasan menuju Pondok Pesantren Tambakberas, aktivitas persiapan semakin tampak. Pantauan Warta NU Tegal melihat panitia pelaksana Muktamar mulai melakukan pengaturan lalu lintas dan menata berbagai kebutuhan kegiatan, termasuk persiapan stan ekspo dan bazar. Kesibukan tersebut menunjukkan bahwa seluruh unsur kepanitiaan tengah mematangkan berbagai fasilitas untuk menyambut agenda besar Nahdlatul Ulama.

Bagi Warta NU Tegal, perjalanan dari Slawi menuju Jombang bukan sekadar perjalanan fisik. Ia menjadi bagian dari catatan jurnalistik tentang bagaimana Muktamar NU ke-35 mulai terasa bahkan sejak perjalanan menuju lokasi. Nyanyian Indonesia Raya di Stasiun Slawi, ziarah di Kebumen, perjalanan kereta menuju Jombang, hingga semarak bendera NU dan Merah Putih di sepanjang jalan menjadi rangkaian cerita yang memperlihatkan perjumpaan antara semangat kebangsaan, tradisi keislaman, dan khidmah Nahdlatul Ulama.

Dari Stasiun Slawi hingga Tambakberas Jombang, perjalanan itu akhirnya bermuara pada satu tujuan: ikut mengabarkan denyut Muktamar NU ke-35 kepada masyarakat. Sebab bagi seorang wartawan NU, meliput Muktamar bukan hanya menjalankan pekerjaan jurnalistik, tetapi juga bagian dari ikhtiar menghadirkan informasi yang mencerahkan, menjaga tradisi tabayyun, serta menguatkan khidmah untuk umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.

Baca Lainnya  Ansor Jatinegara Terus Bergerak, Donasi Peduli Padasari Kembali Didistribusikan

Pantauan Warta NU Tegal akan terus menyajikan berbagai suasana dan dinamika Muktamar ke-35 NU dari lokasi kegiatan.

Pewarta: Eko Wahyudi Sagino – Warta NU Tegal
Slawi, 23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *