KH. Tasrifin Salim: Orang Tua Wajib Menanamkan Agama Sejak Dini, Bukan Sekadar Mengajarkan Membaca Al-Qur’an

Avatar photo
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Adalah, Padasari, Capar, Jatinegara, Tegal, KH. Tasrifin Salim.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren dan Mustasyar MWCNU Jatinegara, KH. Tasrifin Salim, menegaskan bahwa pendidikan agama merupakan kewajiban utama orang tua yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Hal itu disampaikannya saat menyampaikan tausiyah pada acara Walimatul Khitan Ananda Muhammad Arkan, putra Bapak Slamet sekeluarga, di Desa Argatawang, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Sabtu malam Ahad, (19/10/2025)

Di hadapan para kiai, asatidz, tokoh masyarakat, jajaran pemerintah desa, serta ratusan jamaah yang hadir, KH. Tasrifin Salim mengajak umat Islam menjadikan momentum walimatul khitan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus pengingat bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak agar menjadi pribadi saleh, berilmu, dan berakhlak mulia.

Menurut KH. Tasrifin Salim, menghadiri undangan walimah merupakan bagian dari tuntunan syariat yang memiliki nilai ibadah. Selain memenuhi hak sesama muslim, kehadiran tamu juga menjadi bentuk sedekah karena mampu menghadirkan kebahagiaan bagi tuan rumah.

“Membahagiakan hati seorang muslim merupakan amal yang bernilai sedekah. Karena itu, yang mengundang bersedekah dengan jamuannya, sedangkan yang hadir juga bersedekah dengan menghadirkan kegembiraan bagi sahibul hajat,” tuturnya.

Beliau menjelaskan bahwa walimatul khitan bukan sekadar tradisi atau perayaan keluarga, melainkan ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT karena orang tua telah mampu melaksanakan salah satu amanah dalam mendidik anak menuju kedewasaan sesuai tuntunan agama.

Mengawali materi tausiyahnya, KH. Tasrifin Salim mengutip hadis Rasulullah SAW tentang kewajiban orang tua terhadap anak. Menurutnya, salah satu amanah pertama yang harus ditunaikan ialah memberikan nama yang baik sejak anak dilahirkan. Nama, kata beliau, bukan hanya identitas, tetapi juga doa yang akan terus menyertai perjalanan hidup seorang anak.

“Rasulullah SAW mengajarkan agar anak diberi nama yang baik. Nama adalah doa. Orang Jawa pun mengenal ungkapan aran iku japa, artinya nama merupakan harapan dan doa orang tua kepada anaknya. Karena itu, jangan asal memberi nama,” ungkapnya.

Beliau kemudian mengisahkan beberapa riwayat pada masa Rasulullah SAW ketika nama-nama yang bermakna kurang baik diganti dengan nama yang lebih baik agar menjadi doa yang positif bagi pemiliknya. Menurutnya, perubahan nama bukan sekadar perubahan sebutan, tetapi juga bagian dari ikhtiar membangun karakter dan harapan yang baik.

“Kalau ada nama yang maknanya tidak baik, Rasulullah menggantinya dengan nama yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan pendidikan anak bahkan sejak awal kehidupannya,” jelasnya.

Memasuki pokok pembahasan, KH. Tasrifin Salim menegaskan bahwa tugas besar orang tua setelah memberi nama yang baik adalah mendidik anak agar memahami agama secara benar. Pendidikan agama, menurutnya, harus dimulai sejak dini, dimulai dari belajar membaca Al-Qur’an, menulis Al-Qur’an, memahami kandungannya, hingga mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Lainnya  Ustadz Arindra Bagus Santoso: Haji dan Umroh Adalah Perjalanan Hati Menuju Kedekatan dengan Allah SWT

“Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak bisa membaca Al-Qur’an. Anak harus dididik agar memahami isi Al-Qur’an, mengamalkan kandungannya, dan menjadikan Al-Qur’an serta hadis Rasulullah SAW sebagai pedoman hidup. Itulah tujuan utama pendidikan Islam,” tegas KH. Tasrifin Salim.

Menurut KH. Tasrifin Salim, mengajarkan anak membaca Al-Qur’an di lingkungan keluarga atau melalui guru ngaji di kampung merupakan langkah yang sangat baik. Namun, kemampuan membaca dan memperbaiki tajwid saja belum cukup untuk mengantarkan seseorang memahami pesan-pesan Allah SWT yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

“Di kampung kita banyak ustaz dan ustazah yang mampu mengajarkan anak membaca Al-Qur’an dengan baik. Itu harus disyukuri. Akan tetapi, untuk memahami isi kandungan Al-Qur’an diperlukan ilmu yang jauh lebih luas dan waktu belajar yang panjang,” tuturnya.

Beliau menjelaskan bahwa memahami Al-Qur’an membutuhkan penguasaan berbagai disiplin ilmu, mulai dari nahwu, sharaf, balaghah, ilmu ma’ani, ilmu bayan, hingga ulumul Qur’an dan ulumul hadis. Seluruh ilmu tersebut menjadi perangkat penting agar seseorang tidak keliru dalam memahami makna ayat-ayat suci.

“Memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya membaca terjemahan. Ada ilmu alat yang harus dipelajari dengan sungguh-sungguh. Karena itulah para ulama menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendalami tafsir sehingga mampu menjelaskan kandungan Al-Qur’an secara benar,” jelasnya.

Atas dasar itu, KH. Tasrifin Salim menganjurkan para orang tua yang menginginkan anaknya benar-benar memahami ajaran Islam agar mempertimbangkan pendidikan pesantren. Menurutnya, pesantren merupakan tempat yang paling tepat untuk membentuk pemahaman agama secara menyeluruh karena proses belajarnya berlangsung intensif di bawah bimbingan para kiai.

“Kalau orang tua berharap anaknya benar-benar memahami Al-Qur’an, maka mondok di pesantren menjadi ikhtiar yang sangat penting. Di sana anak belajar ilmu alat, tafsir, fikih, hadis, akhlak, dan adab secara bertahap di bawah bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan,” katanya.

Meski demikian, beliau juga mengingatkan agar orang tua menentukan orientasi pendidikan anak dengan tepat. Apabila tujuan utamanya agar anak menjadi hafiz Al-Qur’an, maka pesantren tahfiz merupakan pilihan yang sesuai. Namun, apabila yang diharapkan adalah pemahaman mendalam terhadap kandungan Al-Qur’an, maka orang tua perlu memilih pesantren yang memberikan perhatian besar terhadap kajian tafsir dan pendalaman ilmu-ilmu syariat.

“Kalau ingin anak hafal Al-Qur’an, silakan ke pesantren tahfiz. Akan tetapi, kalau ingin anak memahami isi Al-Qur’an, carilah pesantren yang mengajarkan tafsir dan ilmu-ilmu pendukungnya. Hafal itu sangat mulia, tetapi memahami isi Al-Qur’an juga merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting,” tegasnya.

Baca Lainnya  Malam Nisfu Sya’ban 1447 H Jatuh pada Senin Malam Selasa Ini

KH. Tasrifin Salim mengungkapkan pengamatannya bahwa sebagian besar waktu di pesantren tahfiz memang difokuskan untuk proses menghafal dan murojaah. Akibatnya, kesempatan mempelajari tafsir secara mendalam sering kali menjadi terbatas. Karena itu, beliau menyarankan agar para hafiz Al-Qur’an tetap melanjutkan pendidikan ke pesantren yang mengkaji tafsir sehingga hafalan yang dimiliki dapat diiringi dengan pemahaman yang utuh.

“Saya memiliki banyak keponakan yang menjadi hafiz Al-Qur’an. Saya memahami bagaimana beratnya proses menghafal dan murojaah. Karena itu, setelah hafal, alangkah baiknya mereka melanjutkan belajar tafsir agar hafalannya tidak hanya tersimpan di lisan, tetapi juga dipahami makna dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

KH. Tasrifin Salim kemudian mengingatkan bahwa memahami Al-Qur’an harus dilakukan melalui bimbingan ulama yang memiliki kompetensi keilmuan dan sanad yang jelas. Menurutnya, membaca terjemahan semata tanpa bekal ilmu alat dapat menimbulkan kesalahan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, bahkan berpotensi melahirkan pemahaman yang menyimpang.

“Jangan belajar tafsir hanya bermodal terjemahan. Al-Qur’an harus dipahami melalui ilmu yang benar, dibimbing para ulama yang menguasai nahwu, sharaf, balaghah, ushul fikih, ulumul Qur’an, dan ulumul hadis. Jika tidak, seseorang bisa keliru mengambil hukum dari ayat yang dibacanya,” jelasnya.

Sebagai ilustrasi, beliau menyinggung adanya kelompok yang memahami ayat Al-Qur’an secara tekstual tanpa memperhatikan kaidah bahasa Arab maupun penjelasan para ulama. Akibatnya, lahirlah kesimpulan hukum yang tidak sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah. Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar selalu belajar agama kepada para kiai dan guru yang memiliki sanad keilmuan.

“Belajar agama itu harus berguru. Jangan merasa cukup membaca sendiri lalu berani menyimpulkan hukum. Para ulama telah mewariskan metodologi keilmuan yang harus dijaga agar umat tidak mudah tersesat oleh pemahaman yang keliru,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Tasrifin Salim juga mengisahkan hikmah dari Luqman Al-Hakim sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, nasihat Luqman kepada putranya menjadi teladan sepanjang zaman, dimulai dari larangan berbuat syirik, perintah berbakti kepada Allah SWT, menjaga akhlak, tidak bersikap sombong, hingga menghormati sesama manusia.

“Nasihat Luqman menunjukkan bahwa pendidikan anak bukan hanya soal ilmu, tetapi juga pembentukan akidah, akhlak, dan adab. Anak harus dibimbing agar mengenal Tuhannya, menghormati orang lain, serta hidup dengan kerendahan hati,” ujarnya.

Beliau juga mengangkat kisah Luqman Al-Hakim yang selalu menjadi sasaran komentar masyarakat, apa pun yang dilakukannya. Dari kisah itu, KH. Tasrifin Salim mengajak jamaah agar tidak mudah terpengaruh oleh penilaian manusia selama berada di jalan yang benar. Menurutnya, komentar manusia tidak akan pernah habis, sehingga seorang muslim harus tetap istiqamah dalam kebaikan.

Baca Lainnya  Mengenal Akhlak Nabi Menumbuhkan Mahabbah, KH Muhammad Khasani: Rasulullah Selalu Mengutamakan Umat

“Kalau hidup hanya mengikuti komentar orang, kita tidak akan pernah selesai. Yang penting adalah menjalankan kebenaran sesuai tuntunan syariat dan tetap ikhlas karena Allah SWT,” pesannya.

Selanjutnya, KH. Tasrifin Salim menekankan pentingnya khidmah kepada guru sebagai salah satu sebab datangnya keberkahan ilmu. Ia menjelaskan bahwa ilmu bukan hanya diperoleh melalui kecerdasan, tetapi juga melalui adab, ketawadukan, serta kerelaan melayani dan menghormati guru.

“Ilmu yang bermanfaat lahir dari adab kepada guru. Ridha guru menjadi sebab datangnya keberkahan ilmu. Karena itu, jangan tergesa-gesa memulangkan anak dari pesantren. Biarkan mereka belajar dengan sabar, berkhidmah, dan memperoleh restu dari para masyayikh,” ungkapnya.

Beliau mengajak para orang tua untuk terus memberikan semangat kepada anak-anak yang sedang menuntut ilmu di pesantren agar tetap istiqamah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari cepatnya menyelesaikan masa belajar, melainkan dari manfaat dan keberkahan ilmu yang kelak diamalkan di tengah masyarakat.

“Sedikit ilmu yang berkah jauh lebih berharga daripada banyak ilmu tetapi tidak diamalkan. Yang kita harapkan bukan hanya anak menjadi pintar, melainkan menjadi alim, tawaduk, bermanfaat, dan mampu mengabdi kepada agama, masyarakat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Mengakhiri tausiyahnya, KH. Tasrifin Salim mengingatkan jamaah agar senantiasa menjaga salat lima waktu, memperbanyak sedekah, memudahkan urusan sesama, dan mengikhlaskan seluruh amal hanya karena Allah SWT. Menurutnya, salah satu tanda diterimanya amal ialah ketika Allah memperlihatkan buah dari amal tersebut dalam kehidupan, seperti ketenangan hati, kemudahan rezeki, serta bertambahnya semangat untuk terus berbuat baik.

“Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai orang tua yang mampu mendidik anak-anak dengan agama yang benar, mencintai Al-Qur’an, menghormati guru, memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah, serta mengumpulkan kita kelak bersama Rasulullah SAW, para ulama, dan orang-orang saleh. Amin ya Rabbal ‘alamin,” pungkas KH. Tasrifin Salim yang diamini seluruh jamaah.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *