Hikmah  

Hikmah Ramadhan (16): Memuliakan Guru, Jalan Melahirkan Generasi Alim dan Keturunan yang Penuh Berkah

Avatar photo

Tegal, Warta NU Tegal

Menjadi harapan setiap orang tua untuk memiliki anak yang saleh, alim, dan bermanfaat bagi agama. Namun, dalam tradisi pesantren, kecerdasan intelektual saja tidaklah cukup; diperlukan pancaran keberkahan yang hanya bisa diraih melalui satu pintu utama, yakni ta’dzim atau memuliakan para guru dan ulama.

Para masyayikh seringkali berpesan bahwa ilmu adalah cahaya, dan guru adalah perantara cahaya tersebut sampai ke hati murid. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai rahasia melahirkan generasi alim melalui penghormatan kepada ulama, sebagaimana disarikan dari kitab Hidayatul Muta’alim.

Rahasia Anak Menjadi Alim

وَمَنْ يُرِدْ كَوْنَ ابْنِهِ مِنْ عُلَمَا

Waman yurid kaunabnihi min ‘ulama

Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan anaknya menjadi bagian dari golongan ulama (orang alim)…”

Cita-cita memiliki anak kiai atau ilmuwan agama bukan sekadar soal menyekolahkan mereka di tempat terbaik. Ada “jalur langit” yang harus ditempuh oleh orang tuanya terlebih dahulu.

فَلْيُعْطِ شَيْئًا وَلْيُعَظِّمْ عُلَمَا

Falyu’thi syaian wal yu’adzim ‘ulama

Artinya: “Maka hendaklah ia memberikan sesuatu (hadiah/sedekah) dan mengagungkan para ulama.”

Memberi sesuatu kepada ulama bukan berarti menyuap atau membayar ilmu, melainkan bentuk khidmah (pengabdian). Saat orang tua memuliakan guru, maka rida guru tersebut akan mengalir kepada keturunan orang yang memuliakannya.

Janji Keberkahan bagi Keturunan

إِنْ لَمْ يَكُنْ ابْنُهُ عَالِمًا يَكُوْنُ

In lam yakun ibnuhu ‘aliman yakunu

Artinya: “Jika ternyata (setelah diusahakan) anaknya tetap tidak menjadi orang alim, maka…”

Terkadang muncul keraguan, “Saya sudah hormat pada kiai, tapi anak saya kok tidak jadi santri?” Di sinilah keadilan Allah bekerja melalui skema keberkahan waktu yang panjang.

حَافِدُهُ عَالِمًا اعْلَمَنْ فَصُنْ

Hafiduhu ‘aliman i’laman fashun

Artinya: “…Maka cucunya atau keturunannya bakal ada yang menjadi orang alim, ketahuilah dan jagalah hal ini.”

Baca Lainnya  Kajian Ramadhan: Menyelami Hikmah “Yuqro Qoblal Maulid” dalam Kitab Maulid Ad-Diba’i

Kebaikan memuliakan guru tidak pernah sia-sia. Jika tidak turun ke anak, maka ilmu itu akan “meledak” pada cucu atau cicit. Nasab orang yang mencintai ulama tidak akan dibiarkan kering dari cahaya ilmu oleh Allah SWT.

Mari kita renungkan kembali bahwa ilmu bukan sekadar kognisi, tapi nur (cahaya). Dan cahaya hanya akan singgah pada wadah yang dijaga dengan adab. Menghormati ulama adalah investasi abadi bagi masa depan nasab kita.

Semoga kita termasuk golongan orang tua yang gemar memuliakan guru, sehingga kelak dari rahim dan keturunan kita lahir pejuang-pejuang agama yang tulus mengabdi pada umat dan bangsa. Wallahu a’lam bisshowab.

Editor : Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *