Lailatul Ijtima PRNU Sitail, Kiai Fatoni Ajak Warga Perbanyak Shalawat dan Meneladani Rasulullah

Avatar photo
Rais Syuriyah PRNU Desa Sitail, Kiai Fatoni.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Sitail, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, menggelar Lailatul Ijtima di Mushala Baiturrahman, Dukuh Kubanggereng RT 06 RW 02, Jumat malam Sabtu (21/8/2026). Kegiatan diisi dengan tahlil, istighotsah, serta kajian Kitab Maulid Ad-Diba’i bersama Ustadz Abdul Rozak Alhafidz.

Lailatul Ijtima yang dihadiri jajaran pengurus PRNU Desa Sitail tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi warga Nahdliyin sekaligus menyambut bulan Maulid dengan memperbanyak shalawat dan mengenang keteladanan Nabi Muhammad SAW. Rais Syuriyah PRNU Desa Sitail, Kiai Fatoni, dalam khutbah iftitah mengajak jamaah menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui shalawat dan pengamalan ilmu yang bermanfaat.

“Anak-anak yang saleh dan salehah semuanya, mudah-mudahan doa kita bersama dikabulkan oleh Allah SWT. Semoga kegiatan malam ini mendapatkan keberkahan dan seluruh yang kita panjatkan diijabah oleh Allah SWT. Amin ya Rabbal ‘Alamin,” tutur Kiai Fatoni.

“Ngaji hendaknya diawali dengan membaca Al-Fatihah. Anak-anak kita titipkan kepada para ustadz. Selagi urusan belum bertemu dengan berbagai kesibukan, mari kita manfaatkan waktu untuk ngaji. Siapa saja yang mengetahui dan hafal Al-Fatihah, semoga ilmunya menjadi bekal yang bermanfaat,” lanjutnya.

“Semoga kita semua diberikan ilmu yang bermanfaat. Ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga diamalkan. Mudah-mudahan apa yang kita pelajari menjadi bekal dalam menjalani kehidupan dan membawa keberkahan bagi keluarga serta masyarakat,” ujarnya.

“Kebetulan sekarang bulan Mulud, bulan kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Karena itu, pengajian malam ini kita gunakan untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Tujuannya adalah menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan membuat hati kita semakin rindu kepada beliau,” jelasnya.

“Kalau kita mencintai Rasulullah SAW, maka kita harus memperbanyak membaca shalawat. Shalawat bukan hanya bacaan di lisan, tetapi juga harus menjadi jalan untuk mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Baca Lainnya  Kajian Maulid Ad-Diba’i, Ustadz Abdul Rozak Alhafidz Uraikan Keistimewaan Nabi Muhammad

“Kita bisa belajar dari para sahabat Rasulullah SAW. Ada sahabat yang begitu besar rasa cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan ketika sakit bertahun-tahun, yang ada dalam pikirannya bukan hanya persoalan dirinya sendiri, tetapi bagaimana kelak ia dapat berkumpul kembali dengan Rasulullah SAW,” ungkap Kiai Fatoni.

“Ketika ditanya tentang apa yang dipikirkannya, ia menjawab bahwa yang menjadi kekhawatirannya adalah ketika Rasulullah SAW tidak lagi bersamanya. Ia ingin mengetahui apakah nanti di akhirat masih dapat berkumpul dan makan bersama dengan Rasulullah SAW. Inilah gambaran kecintaan sahabat kepada Kanjeng Nabi,” tuturnya.

“Karena itu, mari kita menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sejak dini. Semoga hati kita dipenuhi rasa cinta kepada Rosul. Jangan hanya mengenal nama Muhammad, tetapi mari mengenal ajaran, akhlak, perjuangan, dan sunnah beliau,” pesannya.

“Orang alim pernah berpesan, aktsiru minash shalati ‘ala nabiyyina Muhammadin fil kafi, perbanyaklah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Shalawat menjadi salah satu amalan yang dapat membersihkan hati dan menjadi jalan kebaikan bagi kehidupan kita,” terangnya.

“Barang siapa senang membaca shalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, insyaallah kuburnya akan mendapatkan cahaya. Ketika menghadapi berbagai keadaan, hati juga akan lebih mudah mengingat Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya,” jelasnya.

“Karena itu, mari kita membiasakan membaca Shalawat Jibril. Tidak harus langsung seribu kali dalam sehari. Kalau belum mampu, mulailah dari jumlah yang sedikit, misalnya seratus kali. Yang penting dilakukan secara istiqamah dan terus dilatih,” ajaknya.

“Bacalah, ‘Shallallahu ‘ala Muhammad, shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Kalau belum bisa banyak, sedikit pun tidak apa-apa. Yang penting hati dan lisan kita dibiasakan untuk bershalawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Baca Lainnya  Ijazah Kubro Manakib Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Babakan, Gus Aqib Malik Tegaskan Pentingnya Tradisi Aswaja Bersanad

“Manusia memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda-beda. Jangan merasa rendah diri karena belum mampu melakukan amalan dalam jumlah banyak. Sedikit tetapi istiqamah lebih baik daripada banyak tetapi hanya dilakukan sesekali. Mari kita terus belajar dan membiasakan diri,” ungkap Kiai Fatoni.

“Insyaallah, dengan memperbanyak shalawat, kehidupan dunia dan akhirat kita mendapatkan keberkahan. Semoga warga masyarakat selalu diberikan keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, dan keberkahan bersama kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW,” harapnya.

“Ketika kita berdoa, mari niatkan shalawat sebagai jalan memohon kepada Allah SWT agar kita diberikan tambahan kebaikan, kemudahan dalam kehidupan, serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Jangan lupa mendoakan orang tua, karena keberkahan hidup kita juga tidak lepas dari doa dan jasa mereka,” tuturnya.

“Kita juga berharap agar keluarga, anak-anak, dan masyarakat kita menjadi orang-orang saleh dan salehah. Orang yang saleh bukan hanya dilihat dari penampilan, tetapi dari akhlaknya. Bahkan orang yang secara fisik biasa saja, jika memiliki akhlak yang baik, akan terlihat menyejukkan ketika dipandang,” ujarnya.

“Perbanyaklah doa dan shalawat. Jangan pernah bosan berdoa kepada Allah SWT. Kita tidak tahu kapan pertolongan dan keberkahan itu datang. Banyak orang yang mendapatkan husnul khatimah karena istiqamah dalam beribadah, berdoa, dan menjaga hubungan baik dengan sesama,” pesannya.

“Karena itu, mari kita jadikan Lailatul Ijtima ini sebagai tatanan untuk terus memperkuat amalan warga Nahdliyin. Tahlil, istighotsah, membaca maulid, mengaji, dan bershalawat jangan hanya dilakukan ketika ada acara, tetapi hendaknya menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Kiai Fatoni.

“Mudah-mudahan kita semua dapat terus istiqamah dalam membaca shalawat, memperbanyak doa, menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, menjaga persaudaraan, dan mengikuti ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada keluarga kita, Desa Sitail, serta seluruh warga Nahdliyin. Amin ya Rabbal ‘Alamin,” pungkasnya.

Baca Lainnya  Musyawarah Fathul Qorib MWCNU Lebaksiu Perkuat Tradisi Fikih Pesantren dan Kaderisasi Ulama Nahdliyin

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *