Jatinegara, Warta NU Tegal
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad ke-10 Pondok Pesantren Hidayatur Rohman, Dukuh Sampe, Desa Sitail, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, menjadi momentum untuk meneguhkan kembali kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu malam Ahad, (29/08/2026) bertepatan dengan 17 Rabiul Awal 1448 H di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatur Rohman Sitail.
Dalam kesempatan tersebut, Habib Umar bin Husein Al Attas dari Pemalang menyampaikan tausiyah di hadapan jamaah. Ia mengajak umat untuk tidak sekadar memperingati Maulid Nabi, tetapi menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai jalan untuk memperoleh keberkahan, meneladani akhlaknya, memperbanyak shalawat, serta memperkuat iman kepada Nabi Muhammad SAW.
“Keberkahan itu salah satunya dapat kita lihat dari Rasulullah SAW. Ketika tangan beliau memegang makanan atau minuman, dengan izin Allah, makanan dan minuman tersebut menjadi penuh berkah. Bahkan sesuatu yang secara lahiriah sedikit dapat mencukupi banyak orang,” tutur Habib Umar bin Husein Al Attas.
Ia kemudian mengisahkan sahabat Abu Hurairah RA yang pernah mengalami keadaan sangat lapar. Sebagai bagian dari Ahlus Suffah, Abu Hurairah RA hidup dalam kesederhanaan dan pada suatu ketika tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari.
“Abu Hurairah sampai menunggu orang yang lewat dengan harapan ada sahabat yang mengajaknya makan. Namun yang diharapkan belum juga datang,” jelasnya.
Menurut Habib Umar, Abu Hurairah kemudian bertemu dengan Sayyidina Umar bin Khattab RA dan Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Namun, keduanya belum mengajaknya makan. Hingga akhirnya Abu Hurairah bertemu Rasulullah SAW.
“Ketika Rasulullah bertemu Abu Hurairah, beliau bertanya tentang keadaannya. Kemudian Nabi mengajaknya untuk ikut bersama beliau, padahal Rasulullah sendiri belum memiliki makanan,” katanya.
Habib Umar melanjutkan kisah tersebut dengan menggambarkan sifat dermawan Rasulullah SAW. Ketika sampai di rumah, Rasulullah SAW mendapati sebuah wadah berisi susu.
“Rasulullah kemudian bertanya, susu itu milik siapa. Setelah diketahui bahwa susu tersebut merupakan pemberian untuk beliau, Rasulullah meminta Abu Hurairah memanggil para sahabat Ahlus Suffah,” ungkapnya.
“Abu Hurairah merasa bingung karena susu itu hanya satu wadah, sementara sahabat Ahlus Suffah yang dipanggil jumlahnya sekitar 70 orang. Dalam pikirannya, bagaimana mungkin susu sebanyak itu cukup untuk diminum puluhan orang. Tetapi para sahabat tetap yakin kepada Rasulullah SAW,” ujar Habib Umar.
Ia menjelaskan, Rasulullah SAW kemudian meminta para sahabat minum susu tersebut secara bergantian. Satu demi satu sahabat meminumnya hingga merasa kenyang.
“Satu orang minum, kemudian orang berikutnya minum, terus demikian sampai sekitar 70 orang. Setelah semuanya minum, susu tersebut masih ada,” tuturnya.
Menurut Habib Umar, peristiwa tersebut merupakan salah satu gambaran keberkahan yang Allah SWT berikan kepada Rasulullah SAW.
“Ini adalah keberkahan dari Rasulullah SAW. Sesuatu yang secara hitungan manusia tidak mencukupi, dengan keberkahan Nabi justru dapat mencukupi banyak orang,” tegasnya.
Ia berharap kisah tersebut menjadi teladan bagi para ulama, kiai, ustadz, dan seluruh umat Islam agar terus berusaha mengikuti akhlak Rasulullah SAW.
“Kita berharap para ulama, para kiai, dan para ustadz senantiasa meneladani Rasulullah, terutama dalam hal akhlak, kepedulian, pelayanan kepada umat, dan usaha mengurangi kesulitan masyarakat,” katanya.
Habib Umar kemudian mengingatkan jamaah bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir manusia. Menurutnya, kehidupan dunia pada akhirnya akan berakhir, sedangkan kehidupan akhirat berlangsung selamanya.
“Jangan sampai kita menganggap dunia ini seakan-akan akan hidup selamanya. Kita hidup di dunia untuk mempersiapkan kehidupan akhirat,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa salah satu syarat penting untuk memperoleh keselamatan di akhirat adalah memiliki iman kepada Rasulullah SAW.
“Kalau kita ingin selamat dunia dan akhirat, maka iman kepada Rasulullah harus kita kuatkan. Cinta kepada Muhammad, beriman kepada Muhammad, dan taat kepada Muhammad merupakan bagian penting dari jalan keselamatan,” jelas Habib Umar.
Untuk menguatkan pesan tersebut, Habib Umar mengisahkan peristiwa Perang Khandaq ketika Salman Al-Farisi RA memberikan gagasan kepada Rasulullah SAW untuk membuat parit sebagai strategi menghadapi pasukan musuh.
“Pendapat Salman Al-Farisi diterima oleh Rasulullah SAW. Parit kemudian dibuat sebagai bagian dari strategi pertahanan kaum Muslimin,” tuturnya.
Dalam kisah tersebut, lanjut Habib Umar, muncul seorang pendekar Quraisy bernama Amr bin Wud yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam peperangan. Ia berhasil melompati parit dan kemudian menantang kaum Muslimin untuk melakukan duel.
“Amr bin Wud menantang Rasulullah dan para sahabat. Ia mengatakan, siapa yang berani menghadapi dirinya,” ungkapnya.
Habib Umar menyampaikan bahwa para sahabat terdiam karena mengetahui reputasi Amr bin Wud sebagai seorang petarung yang sangat tangguh. Namun, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA kemudian berdiri dan meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk menghadapinya.
“Ali berkata kepada Rasulullah, izinkan saya menghadapi orang itu. Saya yang akan menghadapinya,” ujarnya.
Rasulullah SAW sempat meminta Sayyidina Ali RA untuk kembali duduk karena Amr bin Wud bukan lawan sembarangan.
“Rasulullah mengetahui bahwa Ali masih muda, sedangkan Amr bin Wud merupakan seorang jagoan yang sangat terkenal. Tetapi Ali terus meminta izin kepada Rasulullah,” kata Habib Umar.
Menurutnya, keberanian Sayyidina Ali RA bukan semata-mata karena kekuatan fisik, tetapi karena keimanan dan kecintaannya kepada Rasulullah SAW.
“Ali tidak menghitung apakah dirinya akan menang atau kalah, hidup atau mati. Yang ada dalam hatinya adalah membela Rasulullah dan membela agama Allah,” tegasnya.
Habib Umar menilai kisah Sayyidina Ali RA tersebut memberikan pelajaran penting bagi umat Islam.
“Kita mungkin tidak berada dalam peperangan seperti para sahabat dahulu. Tetapi kita dapat menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah dengan mengikuti ajarannya, menghadiri majelis ilmu, memperbanyak shalawat, serta menghidupkan sunnah dan akhlak beliau,” tuturnya.
Ia juga mengajak jamaah untuk tidak meremehkan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, berkumpul dalam majelis Maulid, membaca shalawat, dan mendengarkan kisah Rasulullah merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi.
“Jangan meremehkan shalawat dan jangan meremehkan majelis Maulid. Kita berkumpul untuk mengingat Rasulullah dan memperbanyak shalawat, insyaallah menjadi amal yang penuh keberkahan,” ujarnya.
Habib Umar menjelaskan bahwa salah satu alasan seseorang kurang bersemangat membaca shalawat adalah karena belum mengenal Rasulullah SAW secara mendalam.
“Orang yang benar-benar mengenal Rasulullah akan mencintai beliau. Kalau cinta sudah tumbuh, shalawat tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi menjadi kebutuhan hati,” katanya.
Ia kemudian mengingatkan kembali bagaimana para sahabat memandang Rasulullah SAW dengan kecintaan yang sangat tinggi.
“Para sahabat dahulu menganggap dunia, harta, bahkan nyawa mereka tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan kecintaan kepada Rasulullah dan perjuangan di jalan Allah,” ungkap Habib Umar.
Habib Umar juga mengisahkan semangat para sahabat dalam Perang Badar yang jumlahnya sekitar 313 orang ketika menghadapi pasukan yang jauh lebih besar. Menurutnya, Rasulullah SAW memberikan motivasi dan menguatkan keyakinan para sahabat.
“Rasulullah mengajarkan kepada mereka bahwa surga berada di bawah naungan pedang. Mendengar itu, semangat para sahabat kembali bangkit,” tuturnya.
Ia menceritakan salah seorang sahabat yang ketika itu sedang lapar dan menemukan sebutir kurma. Ketika Rasulullah SAW menyampaikan kabar tentang keutamaan syahid dan surga, sahabat tersebut tidak ingin waktunya terhambat hanya karena memakan kurma.
“Ia berkata dalam hatinya, alangkah lamanya jika harus menunggu sampai selesai makan kurma untuk masuk surga. Kurma itu kemudian ia lepaskan dan ia maju berjuang hingga akhirnya memperoleh kesyahidan,” jelasnya.
Dari berbagai kisah tersebut, Habib Umar menekankan bahwa ukuran kecintaan kepada Rasulullah SAW bukan sekadar ucapan, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai kita hanya mengatakan cinta Nabi, tetapi tidak mau mengikuti Nabi. Cinta harus dibuktikan dengan memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah, meneladani akhlaknya, serta menghadiri majelis yang mengingatkan kita kepada Rasulullah,” pesannya.
Ia kemudian mengajak jamaah PP Hidayatur Rohman dan seluruh umat Islam untuk menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat kembali posisi Rasulullah SAW di dalam hati.
“Pulang dari majelis ini, mari kita letakkan Nabi Muhammad di dalam dada kita. Jadikan Rasulullah sebagai idola yang paling utama. Jangan sampai hati kita lebih mengidolakan seseorang tetapi melupakan manusia paling mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW,” tegas Habib Umar.
Habib Umar menutup tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW diharapkan menjadi jalan memperoleh syafaat beliau kelak di akhirat.
“Kalau kita mencintai Rasulullah, mengikuti Rasulullah, dan berusaha hidup sesuai dengan ajaran Rasulullah, insyaallah kita berharap mendapatkan syafaat beliau. Karena itu, perbanyaklah shalawat, jangan meremehkan Maulid, dan terus hidupkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW,” pungkasnya.
Editor: Tahmid












