Warta  

Festival Muharam 1448 H di Kedungwungu Hadirkan Santunan Yatim, Bazar UMKM, dan Hadrah Al-Munsyidin

Avatar photo
Sambutan Ketua Panitia Festival Muharam 1448 Hijriah Desa Kedungwungu, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Kiai Muamar, pada acara Festival Muharam 1448 Hijriah yang berlangsung selama tiga hari, Selasa–Kamis (23–25 Juni 2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Semangat menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah terasa begitu hangat di Desa Kedungwungu, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Berbagai elemen masyarakat bersatu menyelenggarakan Festival Muharam 1448 H yang dipusatkan di Lapangan Sutawijaya selama tiga hari, Selasa–Kamis (23–25/6/2026), dengan mengusung semangat ukhuwah, kepedulian sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Festival tersebut menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari santunan anak yatim piatu, bazar dan pasar malam UMKM lokal, berbagai perlombaan Islami, hingga penampilan Grup Hadrah Al-Munsyidin Pekalongan yang menjadi puncak acara pada Kamis malam (25/6/2026). Kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan.

Acara ini mendapat dukungan penuh dari Kedungwungu Bersatu, Pemuda Kedungwungu Bersatu, Pemerintah Desa Kedungwungu, PKK Desa Kedungwungu, Karang Taruna Trisakti, Nahdlatul Ulama beserta badan otonomnya, serta seluruh masyarakat Desa Kedungwungu yang bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.

Festival Muharam sekaligus menjadi momentum tasyakuran atas selesainya pembangunan lapangan desa yang diberi nama Lapangan Sutawijaya, sebagai penghormatan kepada kepala desa pertama Kedungwungu. Kehadiran lapangan baru tersebut diharapkan menjadi pusat kegiatan olahraga, sosial, keagamaan, dan kebudayaan masyarakat.

Ketua Panitia Festival Muharam 1448 H, Kiai Muamar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi seluruh unsur masyarakat Desa Kedungwungu yang memiliki semangat bersama untuk menghadirkan kegiatan Islami yang bermanfaat bagi warga.

“Festival Muharam ini terselenggara berkat kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Pemuda Kedungwungu Bersatu, Pemerintah Desa, PKK, Karang Taruna, Nahdlatul Ulama beserta badan otonomnya, hingga masyarakat bergotong royong demi suksesnya acara ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Selasa dengan pembukaan bazar UMKM, perlombaan, serta santunan kepada anak-anak yatim piatu sebagai bentuk kepedulian sosial yang menjadi ruh utama peringatan Muharam.

Baca Lainnya  Gerak Cepat PRNU Lebaksiu Galang Donasi “NU Peduli” untuk Korban Tanah Bergerak

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi media dakwah, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim,” imbuh Kiai Muamar.

Kepala Desa Kedungwungu, Abdul Mukhit, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, relawan, pemuda, tokoh agama, serta masyarakat yang telah memberikan tenaga, pikiran, dan dukungan demi terselenggaranya Festival Muharam dengan lancar.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama. Semangat kebersamaan seperti inilah yang menjadi modal utama membangun Desa Kedungwungu yang maju, religius, dan harmonis,” katanya.

Menurutnya, Festival Muharam tahun ini memiliki makna istimewa karena sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur atas selesainya pembangunan lapangan desa yang kini diberi nama Lapangan Sutawijaya.

“Semoga lapangan ini menjadi pusat kegiatan masyarakat, baik olahraga, kegiatan sosial, maupun syiar keagamaan yang memberikan manfaat bagi seluruh warga,” ujar Abdul Mukhit.

Camat Jatinegara, H Muhammad Sugeng, yang hadir membuka kegiatan tersebut mengapresiasi kekompakan masyarakat Kedungwungu dalam menyelenggarakan festival bernuansa keagamaan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Semoga Desa Kedungwungu senantiasa menjadi desa yang diberkahi Allah SWT, masyarakatnya hidup rukun, serta terus menjaga tradisi keislaman yang telah diwariskan para ulama,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa nama Lapangan Sutawijaya dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Desa Kedungwungu. Nama tersebut diambil dari kepala desa pertama yang memimpin pada tahun 1929.

“Penamaan ini menjadi pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah perjuangan para pendahulu yang telah membangun Desa Kedungwungu hingga seperti sekarang,” jelas H Muhammad Sugeng.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *