Jatinegara, Warta NU Tegal
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara menggelar kegiatan Lailatul Ijtima’ yang dirangkai dengan sosialisasi kerja sama Klinik Pratama NU Jatinegara dengan BPJS Kesehatan di Gedung MWCNU Jatinegara, Ahad (5/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Pengurus MWCNU, Pengurus Ranting NU (PRNU) se-Kecamatan Jatinegara, serta Pengurus Anak Cabang (PAC) badan otonom NU se-Kecamatan Jatinegara.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Jatinegara, H. M. Ramdhan, memaparkan perjalanan panjang berdirinya Klinik Pratama NU hingga akhirnya resmi menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Ia juga mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk bersama-sama membesarkan amal usaha NU dengan memindahkan fasilitas kesehatan (faskes) BPJS ke Klinik Pratama NU Jatinegara.
“Beberapa waktu lalu ada salah satu ranting NU di Kabupaten Brebes datang melakukan study banding ke sini. Mereka ingin mendirikan klinik karena mendapat motivasi dari KH. Said Aqil Siroj. Kami heran karena ada ranting yang akan mendirikan klinik sendiri. Setelah kami telusuri, ternyata mereka memiliki koperasi yang anggotanya ribuan dengan aset miliaran rupiah sehingga memiliki modal yang kuat,” ungkapnya.
“Perjalanan mendirikan Klinik Pratama NU Jatinegara bukan sesuatu yang instan. Sejak proses pendirian hingga akhirnya resmi bekerja sama dengan BPJS memerlukan waktu sekitar 16 bulan. Itu bukan waktu yang singkat, tetapi membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan semangat berinfak dari seluruh warga Nahdliyin,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, pembangunan klinik dimulai dari pembelian tanah senilai sekitar Rp400 juta yang dilakukan secara gotong royong melalui infak warga. Setelah itu dilanjutkan pembangunan gedung dengan anggaran sekitar Rp1,2 miliar beserta pengadaan berbagai sarana dan prasarana pendukung pelayanan kesehatan.
“Perjuangan kami belum berhenti sampai di situ. Kami masih harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari akreditasi yang menghabiskan biaya puluhan juta rupiah hingga melengkapi alat kesehatan, termasuk pengadaan alat praktik dokter gigi yang nilainya mencapai sekitar Rp130 juta. Semua itu dilakukan secara bertahap melalui semangat kebersamaan,” katanya.
Menurutnya, proses menuju kerja sama dengan BPJS juga tidak mudah karena pihak BPJS melakukan berbagai tahapan asesmen terhadap fasilitas kesehatan, kelengkapan administrasi, hingga standar pelayanan sebelum akhirnya memberikan persetujuan kerja sama.
“Alhamdulillah, perjuangan panjang itu membuahkan hasil. Tidak semua klinik yang mengajukan kerja sama dengan BPJS langsung diterima. Berkali-kali tim BPJS datang melakukan penilaian. Semua ini merupakan hasil perjuangan bersama seluruh warga Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
H. M. Ramdhan menjelaskan bahwa saat ini mayoritas pendapatan fasilitas kesehatan berasal dari peserta BPJS. Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih menggunakan BPJS dibanding layanan umum karena biaya pengobatan menjadi jauh lebih ringan.
“Sudah saatnya warga NU kembali ke rumah sendiri. Selama ini banyak yang berobat ke rumah sakit atau klinik milik organisasi lain sehingga berkembang sangat pesat. Kini NU juga telah memiliki klinik yang menjadi amal usaha bersama, maka mari kita besarkan bersama-sama,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keberadaan klinik merupakan salah satu program strategis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yakni mendorong setiap MWCNU memiliki klinik sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat.
“Di Kabupaten Tegal, baru MWCNU Jatinegara yang telah memiliki klinik sendiri. Ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah yang harus kita jaga agar terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut ia menerangkan, setiap peserta BPJS yang memindahkan fasilitas kesehatan tingkat pertama ke Klinik Pratama NU akan memberikan dampak besar terhadap pengembangan pelayanan karena klinik memperoleh dana kapitasi dari BPJS berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar.
“Target kami secara bertahap adalah lima ribu hingga sepuluh ribu peserta BPJS berpindah ke Klinik Pratama NU. Jika jumlah peserta terus bertambah, dana kapitasi yang diterima klinik juga meningkat sehingga pelayanan, kesejahteraan tenaga kesehatan, serta pengembangan sarana prasarana dapat berjalan semakin baik,” jelasnya.
Ia mengimbau seluruh pengurus NU hingga tingkat ranting agar turut mengajak keluarga dan masyarakat memanfaatkan aplikasi Mobile JKN untuk melakukan perpindahan fasilitas kesehatan secara mandiri sehingga prosesnya menjadi lebih mudah.
“Kalau perpindahan dilakukan sekarang, maka kepesertaannya akan aktif pada bulan berikutnya. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir karena selama masa transisi masih dapat menggunakan fasilitas kesehatan sebelumnya,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa Klinik Pratama NU Jatinegara terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang domisili. Peserta BPJS dari kecamatan lain pun dapat memilih Klinik Pratama NU Jatinegara sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Walaupun klinik kita belum memiliki layanan rawat inap maupun persalinan, peserta BPJS tetap dapat dirujuk ke puskesmas, klinik lain, maupun rumah sakit sesuai ketentuan BPJS. Hak pelayanan masyarakat tetap terjamin,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, Klinik Pratama NU juga telah menyediakan pelayanan dokter umum, dokter gigi, serta berbagai tindakan kesehatan dasar yang dijamin BPJS sesuai ketentuan yang berlaku. Pelayanan tersebut akan terus ditingkatkan agar masyarakat memperoleh layanan yang cepat, nyaman, dan profesional.
“Kami berharap seluruh warga Nahdliyin benar-benar memiliki rasa memiliki terhadap Klinik Pratama NU. Semakin banyak warga yang memanfaatkan layanan di klinik ini, maka semakin kuat pula kemandirian ekonomi jam’iyah dan semakin besar manfaat yang dapat dirasakan umat,” pungkasnya.
Kegiatan sosialisasi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab seputar mekanisme perpindahan fasilitas kesehatan BPJS, pelayanan Klinik Pratama NU Jatinegara, hingga berbagai manfaat yang dapat diperoleh peserta. Melalui kegiatan ini, MWCNU Jatinegara berharap terbangun kesadaran kolektif warga Nahdliyin untuk memperkuat amal usaha NU di bidang kesehatan sebagai bentuk khidmah kepada umat.
Editor: Tahmid












