KH Hasyim Asy’ari Pernah Iri kepada Guru Al-Qur’an, Ini Sebabnya

Avatar photo
Hadrotussyech KH. Hasyim As'ari.

Jombang, Warta NU Tegal.

Ada kalanya seseorang yang telah dikenal luas karena keilmuannya justru merasa iri kepada orang lain yang menjalani pengabdian dengan sangat sederhana. Bukan karena harta, jabatan, atau kedudukan, melainkan karena sebuah amal yang belum mampu ia istiqamahkan.

Kisah itu dituturkan tentang pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, ketika suatu hari beliau menyampaikan keinginannya kepada Kyai Nawawi untuk bertemu dengan seorang kiai kampung bernama KH Abdussalam, yang kelak dikenal sebagai ayahanda KH Abdullah Salam dan kakek KH Sahal Mahfudz, Kajen.

Dengan penuh ta’dhim, Kyai Nawawi mengantarkan KH Hasyim Asy’ari ke kediaman Kyai Abdussalam.

Namun, setibanya di sana, KH Hasyim Asy’ari mendapati Kyai Abdussalam sedang mengajar anak-anak kecil mengaji.

Alih-alih langsung menemui, KH Hasyim Asy’ari memilih menahan langkah. Beliau menyembunyikan diri dari pandangan Kyai Abdussalam dan menunggu hingga anak-anak tersebut menyelesaikan kegiatan mengajinya.

Setelah pengajian anak-anak selesai, barulah KH Hasyim Asy’ari mengucapkan salam. Kyai Abdussalam menyambut kedatangan beliau dengan suka cita. Keduanya kemudian berbincang dalam suasana akrab.

Ada ketulusan dan kecintaan yang terpancar dari pertemuan dua ulama tersebut.

Namun, perjalanan pulang menyisakan suasana berbeda.

Sebuah Cita-cita yang Belum Terwujud

Dalam perjalanan, KH Hasyim Asy’ari tampak tertunduk. Air mata mulai mengambang di matanya.

Kyai Nawawi yang melihat perubahan tersebut kemudian bertanya, “Ada apa Kyai?”

KH Hasyim Asy’ari menghela napas dan menjawab bahwa ada sebuah cita-cita yang telah lama beliau inginkan, tetapi hingga saat itu belum mampu dilaksanakan.

Sementara itu, apa yang menjadi cita-cita tersebut justru telah dilakukan secara istiqamah oleh Kyai Abdussalam.

“Aku iri,” ungkap KH Hasyim Asy’ari.

Kyai Nawawi kemudian bertanya dengan hati-hati mengenai cita-cita tersebut.

Jawabannya sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam:

“Ta’limush shibyaan,” yakni mengajar anak-anak kecil.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak bukanlah aktivitas yang sederhana jika dilihat dari perspektif khidmah.

Di mata sebagian orang, mengajar anak-anak kecil mungkin terlihat biasa. Namun bagi para ulama, aktivitas tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan dan keagamaan.

Baca Lainnya  MTs Al Falah Cerih Jatinegara Tembus Semifinal Olimpiade MA Al Hikmah 2 Brebes, Bukti Daya Saing Madrasah NU

Anak-anak yang hari ini belajar membaca basmalah, mengenal huruf hijaiyah, dan belajar Al-Fatihah, kelak akan membawa ilmu tersebut dalam kehidupan mereka.

Ketika Santri Memilih Berdagang

Semangat serupa juga tercermin dalam sebuah pengalaman seorang alumni santri Tambakberas ketika sowan kepada KH M. Jamaluddin Ahmad.

Dalam kesempatan tersebut, KH Jamaluddin Ahmad bertanya mengenai kegiatan sang alumni.

“Sekarang kegiatan sampean apa?” tanya beliau.

“Bisnis, Kyai. Saya buka konter HP,” jawab sang alumni sambil menunduk.

Ia kemudian menceritakan bahwa sebelumnya dirinya mengajar di TPQ. Namun setelah membuka usaha konter, ia tidak lagi mengajar.

“Rumiyin kulo mulang TPQ, tapi naliko sampun buka konter, kulo prei mboten mulang dateng TPQ maleh,” tuturnya.

Mendengar jawaban tersebut, KH Jamaluddin Ahmad terdiam sejenak.

Beliau kemudian mengingatkan bahwa mengajar di TPQ merupakan salah satu bentuk khidmah yang sangat berarti dalam kehidupan.

“Kamu mengajarkan anak TPQ bacaan Basmalah dan Al-Fatihah, maka pahala yang kamu terima akan terus mengalir. Ketika santri TPQ yang kamu didik membaca Basmalah saat hendak makan, belajar dan kegiatan apapun, maka kamu juga akan memperoleh pahalanya. Belum lagi saat santri TPQ itu bisa membaca Al-Fatihah dari shalat yang dikerjakan, berapa pahala yang kamu terima dari mengajarkan surat Al-Fatihah tersebut?” ujar KH Jamaluddin Ahmad.

Nasihat tersebut kemudian ditutup dengan sebuah pengingat agar para santri tidak hanya mengejar gengsi dalam kehidupan.

“Hidup itu jangan hanya memburu gengsi, apalagi kalian adalah santri Tambak Beras,” pesan beliau sambil menatap beberapa santri yang juga sedang sowan.

Mengajar Al-Qur’an di Tengah Kesederhanaan

Menjadi ustadz atau ustadzah TPQ mungkin tidak selalu dipandang sebagai pekerjaan yang menjanjikan secara materi.

Dibandingkan profesi atau jabatan tertentu yang menawarkan penghasilan dan prestise lebih besar, mengajar anak-anak mengaji terkadang dianggap sebagai aktivitas biasa.

Baca Lainnya  Haflah Muwadaah MTs NU Sitail Jatinegara, Bekali Siswa dengan Ilmu Umum dan Agama

Padahal, dari kisah KH Hasyim Asy’ari dan Kyai Abdussalam, terlihat bahwa ukuran sebuah pengabdian tidak selalu dapat dilihat dari kemegahan profesi atau besarnya imbalan.

Ada nilai yang jauh lebih panjang: ilmu yang terus diamalkan oleh orang yang pernah diajar.

Seorang guru TPQ mungkin hanya mengajarkan satu huruf hijaiyah kepada seorang anak. Bisa jadi hanya mengulang bacaan Al-Fatihah berkali-kali sampai anak tersebut mampu membacanya dengan benar.

Namun, ilmu yang sederhana itu dapat menemani sang anak sepanjang hidupnya.

Ketika ia membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat, mengajarkan kembali kepada orang lain, atau mendidik anak-anaknya kelak, ada mata rantai ilmu yang terus tersambung.

Pendidikan yang Melahirkan Kemanfaatan

Dari kisah tersebut, pendidikan tidak semestinya hanya dipahami sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan, atau penghasilan.

Pendidikan juga merupakan jalan untuk membentuk manusia yang mampu memberikan manfaat.

Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, ilmu memiliki hubungan erat dengan amal dan khidmah. Ilmu tidak berhenti pada pengetahuan pribadi, tetapi diharapkan dapat diteruskan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Guru TPQ menjadi salah satu bagian penting dari mata rantai tersebut.

Mereka berada di garis awal pendidikan keagamaan anak-anak. Dari ruang-ruang TPQ yang sederhana, anak-anak mengenal huruf Al-Qur’an, belajar membaca surat pendek, mengenal doa, serta mendapatkan dasar-dasar pendidikan agama.

Karena itu, keberadaan guru TPQ memiliki peran yang tidak kecil dalam menjaga tradisi keislaman di tengah masyarakat.

Jangan Hanya Mengukur Pengabdian dengan Materi

Kisah KH Hasyim Asy’ari yang merasa iri kepada Kyai Abdussalam memberikan sebuah pelajaran penting.

Seorang ulama besar saja dapat melihat kemuliaan dari aktivitas mengajar anak-anak kecil. Bahkan, beliau menjadikannya sebagai cita-cita yang ingin diwujudkan.

Maka, bagi siapa pun yang saat ini masih mengajar di TPQ, barangkali kisah tersebut dapat menjadi penguat untuk tetap istiqamah.

Tidak semua pengabdian langsung mendapatkan penghargaan.

Tidak semua guru akan dikenal namanya.

Tidak semua kebaikan harus menjadi perhatian banyak orang.

Baca Lainnya  Pendidikan Tak Boleh Mandek di Tengah Bencana, Tangis Wasmuri Menggugah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Tetapi ilmu yang diberikan kepada anak-anak dapat terus hidup melalui amal mereka.

Di sinilah pendidikan menemukan maknanya: bukan sekadar membuat seseorang menjadi pintar, melainkan membuat ilmu tersebut terus mengalir menjadi kemanfaatan.

Khidmah yang Layak Dipertahankan

Pada akhirnya, kisah KH Hasyim Asy’ari, KH Abdussalam, dan nasihat KH M. Jamaluddin Ahmad bertemu pada satu pesan: mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak adalah bentuk khidmah yang memiliki nilai besar.

Di tengah kehidupan yang semakin sering mengukur keberhasilan dari materi, jabatan, dan popularitas, guru TPQ mengingatkan kita pada bentuk keberhasilan yang lain—yakni ketika ilmu yang kita ajarkan tetap hidup dalam diri orang lain.

Mungkin seorang guru TPQ tidak memiliki ruang kelas yang megah. Mungkin ia mengajar dengan fasilitas seadanya. Bahkan, namanya mungkin tidak pernah dikenal luas.

Namun dari tangannya, seorang anak belajar mengucapkan basmalah.

Dari lisannya, seorang anak belajar Al-Fatihah.

Dan dari ketekunannya, sebuah mata rantai pendidikan Al-Qur’an terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Jika KH Hasyim Asy’ari saja merasa iri kepada orang yang istiqamah mengajar anak-anak kecil, sudah semestinya kita memandang khidmah para guru TPQ dengan penghormatan yang lebih tinggi. Sebab bisa jadi, amal yang tampak sederhana di mata manusia justru menjadi jalan kemanfaatan yang panjang di hadapan Allah.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *