Wayang Sadat Ki Walet di Pesantren Dzulfikarisalam Kedungwungu, Rawat Tradisi dan Teladankan Dakwah Sunan Kalijaga

Avatar photo
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW berlangsung di serambi Pondok Pesantren Dzulfikarisalam, Desa Kedungwungu, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Kamis (19/8/2026). Kegiatan diikuti para santri, wali santri, dan masyarakat sekitar dengan pagelaran Wayang Sadat Ki Walet.

Jatinegara, Warta NU Tegal

Suara lantunan Maulid Nabi Muhammad SAW menggema di serambi Pondok Pesantren Dzulfikarisalam, Desa Kedungwungu, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Kamis (19/8/2026). Lantunan shalawat tersebut mengiringi suasana kebersamaan santri, wali santri, dan warga sekitar yang mengikuti pagelaran Wayang Sadat Ki Walet.

Kegiatan dibuka oleh Pengasuh Pondok Pesantren Dzulfikarisalam, Kiai Mukarom, dengan pembacaan Shalawat Jibril secara bersama-sama. Pagelaran Wayang Sadat kemudian mengajak para penonton menyelami kisah Lokajaya yang dalam perjalanan hidupnya mengalami pergulatan moral hingga kemudian dikenal sebagai salah satu Wali Songo, Sunan Kalijaga. Pagelaran tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi santri untuk memahami sejarah dakwah Islam sekaligus nilai kebangsaan.

Menurut Kiai Mukarom, pagelaran seni tradisional di lingkungan pesantren dapat menjadi sarana dakwah sekaligus pendidikan bagi para santri. Wayang tidak hanya dipandang sebagai tontonan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan keagamaan dan nilai-nilai kehidupan secara lebih dekat dengan budaya masyarakat.

“Kegiatan seperti ini penting bagi santri karena dakwah Islam juga memiliki sejarah panjang dalam berinteraksi dengan budaya Nusantara. Melalui Wayang Sadat, santri dapat belajar bahwa nilai-nilai Islam dapat disampaikan dengan pendekatan budaya yang bijaksana,” ujar Kiai Mukarom.

Ia menambahkan, pembukaan acara dengan pembacaan Shalawat Jibril menjadi bagian dari ikhtiar menumbuhkan kecintaan santri kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, tradisi keagamaan dan kebudayaan dapat berjalan beriringan selama tetap mengedepankan nilai-nilai Islam dan kemaslahatan masyarakat.

“Kita awali dengan shalawat agar kegiatan ini mendapatkan keberkahan. Santri perlu dikenalkan dengan berbagai bentuk tradisi dan seni yang memiliki pesan pendidikan, sehingga mereka tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga mampu melihat nilai agama dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Baca Lainnya  MPLS SMP Ma'arif NU 3 Jatinegara Kenalkan IPNU-IPPNU, Ajak Pelajar Berkhidmah dan Berorganisasi Sejak Dini

Kiai Mukarom berharap pagelaran tersebut dapat menumbuhkan kecintaan santri terhadap sejarah, budaya, dan kehidupan kebangsaan. Terlebih, momentum kemerdekaan menjadi kesempatan untuk mengingat kembali kontribusi pesantren dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Dalam konteks HUT Kemerdekaan RI, santri dan santriwati adalah bagian dari warga bangsa. Mereka perlu mengetahui sejarah perjuangan para ulama, santri, dan masyarakat dalam mempertahankan serta merebut kemerdekaan Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, dalam pagelaran Wayang Sadat Ki Walet, kisah Lokajaya menggambarkan perjalanan seorang tokoh yang pada masa mudanya melakukan perampokan terhadap harta hasil upeti kerajaan. Harta tersebut kemudian diberikan kepada warga miskin yang mengalami tekanan akibat kekuasaan yang menindas. Kisah ini menjadi bagian dari penggambaran perjalanan hidup Lokajaya sebelum menemukan jalan dakwah sebagai Sunan Kalijaga.

Pagelaran Wayang Sadat Ki Walet mengemas kisah tersebut dengan pendekatan budaya yang komunikatif sehingga mudah diterima para santri dan masyarakat. Cerita Lokajaya tidak semata-mata ditampilkan sebagai kisah tentang tindakan merampok, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami kondisi sosial masyarakat pada masa itu, termasuk ketimpangan dan tekanan kekuasaan terhadap rakyat kecil.

Dalam konteks dakwah Wali Songo, perjalanan Sunan Kalijaga kemudian dikenal sebagai bagian penting dari sejarah Islamisasi tanah Jawa. Pendekatan dakwah melalui kebudayaan menjadi salah satu warisan yang terus dikenang hingga kini. Pagelaran Wayang Sadat di Pondok Pesantren Dzulfikarisalam pun menjadi ikhtiar untuk menghubungkan pesan keislaman, kearifan budaya lokal, sejarah perjuangan, dan semangat kebangsaan.

Melalui pagelaran tersebut, santri, wali santri, dan masyarakat diajak mengambil hikmah bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar, tetapi juga dapat hadir melalui seni dan budaya. Semangat menjaga tradisi, mengenalkan sejarah ulama, serta menanamkan kecintaan kepada bangsa menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam membentuk generasi santri yang religius, berbudaya, dan memiliki kesadaran kebangsaan.

Baca Lainnya  MTs Ma’arif NU Jatinegara Gelar Haul Pendiri dan Pelepasan Siswa Kelas IX, Tekankan Pentingnya Akhlak dan Jasa Guru

Editor : Tahmid
Kontributor: Eko Wahyu Sagino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *