Cegah Kenakalan Remaja, KH Solihin Tekankan Tiga Hak Anak yang Wajib Dipenuhi Orang Tua

Avatar photo
SMP Negeri 2 Bojong, Kabupaten Tegal menyelenggarakan Kegiatan Parenting bagi Orang Tua/Wali Murid Kelas VIII dengan tema “Strategi Mencegah Kenakalan Remaja (Gadget, Pergaulan, dan Batas)” pada Sabtu, (12/09/2026), bertempat di SMP Negeri 2 Bojong.

Bojong, Warta NU Tegal

Upaya mencegah kenakalan remaja tidak cukup hanya dilakukan melalui pengawasan terhadap anak. Peran orang tua dalam memberikan keteladanan, perhatian, nama yang baik, serta pendidikan yang tepat menjadi bagian penting dalam membentuk karakter anak di tengah tantangan penggunaan gadget, pergaulan, dan perkembangan lingkungan sosial.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Komite SMP Negeri 2 Bojong yang juga Mustasyar MWCNU Kecamatan Bojong, KH Solihin, dalam kegiatan Parenting bagi Orang Tua/Wali Murid Kelas VIII SMP Negeri 2 Bojong, Kabupaten Tegal, yang mengangkat tema “Strategi Mencegah Kenakalan Remaja (Gadget, Pergaulan, dan Batas)”. Kegiatan yang digelar di SMP Negeri 2 Bojong pada Sabtu (12/9/2026) tersebut menjadi ruang refleksi bagi para orang tua untuk memperkuat peran pendampingan, pengawasan, dan pembinaan terhadap anak di tengah berbagai tantangan perkembangan remaja.

Dalam sambutannya, KH Solihin mengawali dengan mengisahkan sebuah cerita tentang seorang anak yang dibawa orang tuanya menghadap Sayyidina Umar bin Khattab.

“Suatu ketika, sahabat Umar bin Khattab kedatangan orang tua yang membawa anaknya. Orang tua tersebut mengadu bahwa anaknya sangat bandel. Diomongi bapaknya tidak mempan, diomongi ibunya tidak mempan, bahkan dinasihati gurunya juga tidak mempan,” tuturnya.

Menurut KH Solihin, orang tua tersebut berharap Sayyidina Umar dapat memarahi anaknya agar berubah. Namun, ketika Sayyidina Umar hendak menegur anak tersebut, sang anak justru mengajukan pertanyaan tentang hak anak yang wajib ditunaikan orang tua.

“Anak itu berkata, ‘Ngampunten, Amirul Mukminin, sebetulnya apa hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua?’ Kemudian Sayyidina Umar menjawab bahwa ada tiga kewajiban orang tua kepada anak,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan tiga kewajiban tersebut, yakni memberikan ibu yang baik, memberikan nama yang baik, dan memberikan pendidikan yang baik.

Baca Lainnya  KH. Muslim Komari Pemalang Ajak Jamaah Memahami Karomah Wali dan Menjaga Marwah Nahdlatul Ulama

“Yang pertama, orang tua berkewajiban memberikan ibu yang baik. Yang kedua, memberikan nama yang baik. Dan yang ketiga, memberikan pendidikan yang baik,” kata KH Solihin di hadapan para orang tua dan wali murid.

KH Solihin melanjutkan kisah tersebut. Sang anak ternyata merasa tidak mendapatkan ketiga hak tersebut dari orang tuanya. Ia mengaku memiliki ibu yang tidak memberikan perhatian dan pendidikan yang baik, kemudian mendapatkan nama yang kurang baik, serta tidak memperoleh pendidikan sebagaimana mestinya.

“Anak itu kemudian mengatakan kepada Sayyidina Umar, ‘Saya sebagai anak tidak mendapatkan ketiga hak tersebut. Saya tidak mendapatkan ibu yang baik, tidak mendapatkan nama yang baik, dan tidak mendapatkan pendidikan yang baik,’” ungkapnya.

Dari kisah tersebut, KH Solihin mengajak para orang tua untuk tidak terburu-buru menyalahkan anak ketika menghadapi persoalan kenakalan remaja. Orang tua perlu terlebih dahulu melakukan introspeksi terhadap pola pengasuhan, perhatian, komunikasi, dan pendidikan yang telah diberikan.

“Setelah mendengar jawaban anak itu, Sayyidina Umar berdiri dan menatap ayahnya. Kemudian beliau mengatakan, ‘Kalau begitu, yang durhaka bukan kamu, Nak, tetapi yang durhaka adalah ayahmu, orang tuamu,’” jelasnya.

Menurutnya, pesan utama dari kisah tersebut sangat relevan dengan tantangan pendidikan anak saat ini. Anak yang baik tidak lahir begitu saja, tetapi membutuhkan lingkungan keluarga yang baik dan pendidikan yang berkesinambungan.

“Untuk melahirkan anak yang baik, anak yang saleh dan salehah, diperlukan tiga hal. Pertama, orang tua yang baik. Kedua, nama yang baik. Ketiga, pendidikan yang baik,” tegas KH Solihin.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Orang tua tidak dapat sepenuhnya menyerahkan pembentukan karakter anak kepada sekolah.

Baca Lainnya  Lailatul Ijtima PRNU Sitail, Kiai Fatoni Ajak Warga Perbanyak Shalawat dan Meneladani Rasulullah

“Kalau orang tua sudah menjalankan tiga hal tersebut, menjadi orang tua yang baik, memberikan nama yang baik, dan memberikan pendidikan yang baik, maka itu menjadi ikhtiar besar dalam membentuk anak yang baik,” ujarnya.

KH Solihin mencontohkan, perhatian dan keteladanan orang tua dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak. Karena itu, orang tua perlu hadir bukan hanya dalam kebutuhan materi, tetapi juga dalam membangun kedekatan emosional, memberikan batasan penggunaan gadget, mengawasi pergaulan, serta memastikan anak mendapatkan pendidikan agama dan karakter.

“Jangan sampai orang tua hanya menyalahkan anak ketika anak bermasalah. Orang tua harus ikut melihat bagaimana perhatian, pengawasan, dan pendidikan yang diberikan kepada anak,” pesannya.

Mengakhiri sambutannya, KH Solihin berharap kegiatan parenting tersebut menjadi momentum bagi orang tua/wali murid SMP Negeri 2 Bojong untuk memperkuat sinergi dengan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Hari ini sengaja kita semua diundang mengikuti parenting agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang baik, anak-anak yang saleh dan salehah. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita dalam mendidik dan mendampingi anak-anak. Allahumma amin ya Rabbal ‘alamin,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *