Opini  

Sering Bicara Sendiri Saat Sendirian, Benarkah Tanda Gangguan Jiwa? Ini 7 Penjelasan Psikologi

Avatar photo
Ciri Orang yang Sering Berbicara Sendiri Saat Sendirian Menurut Psikologi. Foto: AI Generated

Warta NU Tegal

Berbicara sendiri ketika sedang sendirian kerap dipandang sebelah mata. Sebagian orang bahkan menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang aneh atau dikaitkan dengan gangguan kejiwaan. Padahal, dalam perspektif psikologi, self-talk atau berbicara kepada diri sendiri merupakan perilaku yang umum dan dapat menjadi bagian dari proses manusia dalam mengatur pikiran, emosi, serta perilaku.

Kebiasaan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mengucapkan rencana dengan suara keras, memotivasi diri, mengingat sesuatu yang hilang, hingga mengungkapkan kekesalan. Dalam konteks tertentu, berbicara sendiri justru dapat membantu seseorang mengurai persoalan yang rumit sehingga pikiran menjadi lebih teratur dan mudah dipahami.

Sebagaimana dirangkum dari sumber Liputan6.com, kebiasaan berbicara sendiri dapat berkaitan dengan kemampuan seseorang memproses informasi secara verbal, tingkat kesadaran diri, regulasi emosi, hingga cara tubuh merespons tekanan. Karena itu, perilaku tersebut tidak semestinya langsung diberi label negatif tanpa melihat konteks dan kondisi yang menyertainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, terlebih ketika seseorang sedang menghadapi banyak persoalan, self-talk dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan refleksi dan menenangkan diri. Dalam tradisi kehidupan pesantren dan masyarakat Nahdliyin sendiri, proses berbicara kepada diri dapat ditempatkan sebagai bagian dari muhasabah, selama dilakukan secara sehat dan tidak disertai gejala yang mengarah pada gangguan psikologis.

1. Pemroses verbal yang kuat. Orang yang sering berbicara sendiri dapat memiliki kecenderungan memproses informasi secara verbal. Mengucapkan pikiran dengan suara keras membantu menyusun gagasan abstrak menjadi lebih terstruktur. Dengan mendengar kembali apa yang diucapkan, seseorang juga dapat mengevaluasi jalan pikirannya secara lebih objektif. Dalam kondisi tertentu, suara menjadi jembatan antara gagasan yang masih berantakan di dalam pikiran dengan solusi yang lebih konkret.

Baca Lainnya  Darurat Pangan di Lumbung Tegal: Ketua LTN NU Warureja M. Nur Iskandar Fajri Sebut Kerusakan Bendungan Cipero Ancam Ketahanan Pangan dan Stabilitas Sosial

2. Memiliki kesadaran diri yang baik. Self-directed speech juga dapat menjadi sarana untuk meningkatkan fokus, membantu memecahkan masalah, sekaligus mengenali kondisi emosional. Seseorang dapat menggunakan dialog dengan dirinya untuk merencanakan tindakan, memahami keadaan, serta memperlambat respons agar tidak terburu-buru mengambil keputusan. Dalam pengertian ini, berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi bentuk refleksi sebelum bertindak.

3. Membantu regulasi emosi melalui distanced self-talk. Sebagian orang berbicara kepada dirinya menggunakan kata “kamu” atau menyebut dirinya sendiri, misalnya, “Ayo, kamu bisa,” atau “Mengapa kamu melakukan itu?” Cara tersebut dikenal sebagai distanced self-talk. Dengan mengambil posisi seolah-olah menjadi pengamat terhadap diri sendiri, seseorang dapat menciptakan jarak psikologis dari tekanan yang sedang dihadapi. Teknik ini dapat membantu seseorang menenangkan diri, memotivasi diri, sekaligus melihat persoalan dengan lebih jernih.

4. Membantu fokus dan menguatkan ingatan. Mengucapkan nama benda yang sedang dicari, seperti “kunci” atau “telepon”, dapat membantu mengarahkan perhatian pada objek yang dimaksud. Demikian pula membaca atau mengucapkan informasi dengan suara keras dapat memperkuat jejak ingatan melalui apa yang dikenal sebagai production effect. Dengan demikian, berbicara sendiri tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami persoalan psikologis; dalam situasi tertentu, perilaku tersebut justru menjadi strategi kognitif untuk membantu konsentrasi dan mengingat informasi.

5. Mencerminkan kepribadian yang multifaset. Dalam penjelasan psikoterapi, dialog dengan diri sendiri terkadang mencerminkan adanya berbagai “bagian” dalam diri yang sedang merespons keadaan. Ketika menghadapi tekanan atau kerentanan, seseorang dapat berbicara kepada dirinya sebagai bentuk peringatan, bimbingan, kritik, maupun pemberian dukungan. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah nada dan isi pembicaraan tersebut. Dialog yang konstruktif dapat membantu, sedangkan kritik diri yang berlebihan justru berpotensi memperburuk beban psikologis.

Baca Lainnya  Motivasi Berdirinya MDTA Miftahuttholabah Penyalahan dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam: Menjaga Warisan Keilmuan Ulama NU

6. Dapat meningkat ketika menghadapi stres dan kecemasan. Ketika berada dalam kondisi tertekan atau kewalahan, seseorang bisa lebih sering mengeluarkan ungkapan spontan seperti “Tidak mungkin!” atau “Apa yang sedang kupikirkan?” Ekspresi verbal semacam ini dapat menjadi cara untuk menyalurkan frustrasi, memahami situasi, sekaligus menenangkan diri. Karena itu, frekuensi berbicara sendiri perlu dilihat bersama kondisi emosional dan perilaku lainnya, bukan dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai kesehatan mental seseorang.

7. Corak self-talk perlu diperhatikan. Berbicara kepada diri sendiri dapat menjadi sarana membangun kembali rasa aman dan memberikan dukungan kepada diri, termasuk melalui dialog yang positif. Sebaliknya, self-talk yang terus-menerus keras, menghukum, dan merendahkan diri dapat berkaitan dengan kecemasan, kelelahan mental, maupun suasana hati yang buruk. Dalam perspektif yang lebih sehat, seseorang perlu belajar menjadikan dialog dengan dirinya sebagai ruang muhasabah dan penguatan, bukan sebagai tempat untuk terus-menerus menyalahkan diri. Secara umum, berbicara sendiri merupakan hal yang normal selama masih berada dalam konteks yang disadari dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Perhatian lebih lanjut diperlukan apabila perilaku tersebut disertai pengalaman seperti mendengar suara yang seolah berasal dari luar diri, ucapan yang tidak terarah, kehilangan kendali, atau gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari. Jika kondisi demikian muncul, berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental merupakan langkah yang lebih tepat daripada memberikan stigma.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *