KH Nawawi Azhari: Kanjeng Nabi Muhammad SAW Itu Senyum, Tidak Mudah Mrengut

Avatar photo
Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal, KH Nawawi Azhari, menyampaikan tausiyah dalam Peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW yang digelar Jamiyyah Maulid Hubbun Nabi bersama masyarakat Dukuh Kalimanggis, Desa Sitail, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Sabtu malam Ahad (12/9/2026).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW yang digelar Jamaah Maulid Hubbun Nabi Sitail bersama masyarakat Dukuh Kalimanggis, Desa Sitail, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, menjadi momentum untuk kembali meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam Ahad (12/9/2026) tersebut diisi dengan pengajian dan shalawat, serta dihadiri sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama dan para pecinta Rasulullah SAW.

Dalam kesempatan tersebut, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal, KH Nawawi Azhari, mengajak jamaah untuk menjadikan majelis maulid dan shalawat sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW. Ia juga mengangkat sisi kemanusiaan Rasulullah SAW yang penuh kasih, termasuk kisah kerinduan Nabi kepada umatnya yang belum pernah beliau jumpai.

KH Nawawi Azhari mengawali tausiyah dengan mengajak jamaah mensyukuri kesempatan dapat berkumpul dalam majelis yang dinilai sebagai kesempatan mulia. Menurutnya, pertemuan dalam majelis ilmu, shalawat, dan peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi wasilah agar umat memperoleh kemuliaan di akhirat.

“Kesempatan yang mulia ini mudah-mudahan dapat menghantarkan kita besok di akhirat, menjadi wasilah kita ditempatkan di tempat yang mulia, yakni surganya Allah,” tuturnya.

Ia kemudian mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, bentuk shalawat yang dibaca boleh beragam sesuai kebiasaan dan kemampuan masing-masing, selama tujuan utamanya adalah menghadirkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“Yang senang membaca shalawat Nariyah, monggo dibaca. Yang senang membaca shalawat Fatih, monggo dibaca. Yang senang membaca shalawat Tibbil Qulub atau shalawat Jibril, monggo dibaca. Yang penting kita membaca shalawat,” ujarnya.

KH Nawawi juga mendoakan agar keberkahan shalawat yang dilantunkan jamaah membawa kebaikan dalam kehidupan. Ia berharap jamaah diberi umur panjang dalam keberkahan, dimudahkan rezekinya, dikabulkan hajatnya, dijauhkan dari bala dan musibah, diberikan kesehatan, serta dimudahkan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

Baca Lainnya  KH Fahrurozi: Membaca Shalawat Nariyah Ada Tingkatannya, Begini Penjelasannya

“Mudah-mudahan berkahnya shalawat, kita diberi panjang umur, dimudahkan rezekinya, dikabulkan hajatnya, dijauhkan dari bala dan musibah, disehatkan keturunannya dan dilunasi utang-utangnya,” katanya.

Memasuki pokok tausiyah, KH Nawawi mengajak jamaah melihat Nabi Muhammad SAW tidak hanya sebagai sosok yang harus dicintai dan diteladani, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki sisi kemanusiaan. Ia menyebut Rasulullah SAW sebagai sosok yang dikenal penuh senyum dan tidak mudah menunjukkan kemarahan.

“Kanjeng Nabi Muhammad ini piantune full senyum, tidak mudah mrengut. Ini salah satu sisi kemanusiaan beliau, Baginda Rasulullah SAW,” jelasnya.

Menurut KH Nawawi, ekspresi wajah dan sikap seseorang sering kali berkaitan dengan kondisi batin yang sedang dialaminya. Karena itu, ia mengajak jamaah memahami bahwa menangis bukan semata-mata tanda kesedihan, tetapi juga dapat muncul karena rasa haru, bahagia, atau kerinduan yang mendalam.

“Orang menangis itu sebabnya macam-macam. Bisa karena sedih, bisa karena gembira, terharu, bahagia, dan bisa juga karena rindu,” ungkapnya.

Ia kemudian mengisahkan sebuah peristiwa ketika para sahabat melihat Rasulullah SAW dalam keadaan menangis. Para sahabat merasa heran sekaligus penasaran dengan keadaan Nabi sehingga kemudian menanyakan penyebab tangisan tersebut.

“Suatu saat sahabat menjumpai beliau dalam keadaan menangis. Sahabat kemudian bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang menjadikan panjenengan kemudian menangis?’” tutur KH Nawawi.

Dalam kisah tersebut, Rasulullah SAW menjawab bahwa beliau sedang merindukan orang-orang yang beliau cintai.

“Rasulullah menjawab, ‘Astuli ahbabi’, saya rindu kepada orang-orang yang saya cintai, kepada orang-orang yang saya sayangi,” kata KH Nawawi. Kisah tersebut, lanjutnya, menunjukkan betapa besar kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya, bahkan kepada mereka yang belum pernah berjumpa secara langsung dengan beliau.

KH Nawawi kemudian mengajak jamaah merefleksikan makna kerinduan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan bahwa setiap orang tentu pernah merasakan rindu kepada orang yang dicintainya. Dengan gaya khas yang komunikatif dan diselingi guyonan khas masyarakat Tegal, ia mengajak jamaah memahami bahwa cinta dan rindu merupakan bagian dari perasaan manusia yang dapat menguatkan hubungan antarsesama.

Baca Lainnya  KH. Idris Salis: MDS Rijalul Ansor Menjadi Jalan Kader Mengenal Allah dan Meneguhkan Khidmah NU

Dalam kisah tersebut, para sahabat kemudian menyampaikan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka adalah orang-orang yang mencintai beliau. Mereka seakan merasa bahwa dirinya termasuk orang-orang yang dirindukan Nabi. Namun, Rasulullah SAW kemudian memberikan penjelasan yang memiliki makna mendalam tentang siapa yang dimaksud sebagai “ahbabi” atau orang-orang yang beliau cintai.

“Para sahabat mengatakan, ‘Bukankah kami ini adalah kekasih-kekasihmu, wahai Rasulullah?’” ujar KH Nawawi.

Rasulullah SAW kemudian menjawab, “La antum ashabi,” yang bermakna bahwa mereka adalah sahabat-sahabat beliau. KH Nawawi menjelaskan, setelah itu Nabi menyebut kelompok umat yang justru lebih mengharukan, yakni orang-orang yang hidup setelah masa beliau, tidak pernah melihat dan tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW, tetapi tetap beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Rasulullah mengatakan bahwa orang-orang yang beliau rindukan adalah mereka yang hidup setelah beliau, yang tidak pernah melihat beliau dan tidak pernah bertemu dengan beliau, tetapi mereka mau beriman kepada Rasulullah dan kepada Allah,” terang KH Nawawi. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan betapa agungnya kasih sayang Nabi Muhammad SAW kepada umat yang datang jauh setelah masa kenabian.

KH Nawawi kemudian mengajak jamaah mengambil pelajaran bahwa umat Islam pada masa kini, meskipun tidak pernah bertemu Rasulullah SAW secara langsung, tetap memiliki hubungan mahabbah melalui iman, shalawat, mengikuti sunnah, dan meneladani akhlak beliau.

“Walaupun model kita seperti ini, ternyata beliau, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sudah pernah rindu kepada kita,” ujarnya yang disambut haru dan doa jamaah.

Ia berharap kecintaan umat kepada Rasulullah SAW tidak berhenti dalam bentuk ucapan, tetapi diwujudkan dengan menghadiri majelis shalawat, memperbanyak membaca shalawat, serta berusaha mengikuti ajaran dan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Baca Lainnya  Rijalul Ansor Penyalahan: Istiqamah Bershalawat, Ustadz Mirkon Tekankan Kunci Dikabulkannya Doa

“Mudah-mudahan cintanya panjenengan kepada Kanjeng Nabi dan rindunya Kanjeng Nabi kepada panjenengan dapat menghantarkan kita besok di akhirat dikumpulkan bersama Kanjeng Nabi,” harapnya.

KH Nawawi kemudian mengingatkan jamaah tentang hadis yang masyhur, al-mar’u ma’a man ahabba, bahwa seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Ia menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW merupakan harapan besar bagi umat Islam agar kelak memperoleh kebersamaan dengan beliau di akhirat.

“Seseorang itu besok akan dikumpulkan dengan siapa? Dengan mereka yang panjenengan cintai ketika berada di alam dunia,” jelasnya.

Karena itu, menurut KH Nawawi, kehadiran jamaah dalam majelis maulid dan shalawat hendaknya dilandasi niat untuk mencari keberkahan dan menghidupkan mahabbah kepada Rasulullah SAW. Ia menyebut bahwa jamaah yang hadir malam itu tentu memiliki harapan memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW.

“Saya yakin panjenengan hadir di majelis ini ingin besok memperoleh syafaat Kanjeng Nabi. Mudah-mudahan kita semua mendapatkan syafaat beliau,” ungkapnya.

KH Nawawi menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, majelis shalawat merupakan salah satu ruang penting bagi umat untuk memperbarui kecintaan kepada Nabi, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan semangat mengikuti teladan beliau.

“Mudah-mudahan di alam dunia kita bisa berkumpul, dan besok di akhirat insyaallah dikumpulkan bersama-sama sebagai umat Kanjeng Nabi yang mendapatkan syafaat,” pungkasnya.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *