Opini  

Memaafkan Bukan Membebaskan Mereka, tetapi Membebaskan Diri dari Belenggu Dendam

Avatar photo
Ustadz Ahmad Jabidin, Pengasuh Majlis Miftahul Huda Sitail / Kepala Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Ranting Sitail

Warta NU Tegal

Dendam yang disimpan bertahun-tahun sering kali membuat seseorang merasa sedang menghukum orang yang pernah menyakitinya. Padahal, orang yang dibenci belum tentu masih mengingat peristiwa tersebut. Bisa jadi ia telah melanjutkan kehidupannya, sementara luka itu justru terus dibawa oleh orang yang merasa menjadi korban.

Dalam pandangan tasawuf, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan atau membebaskan seseorang dari tanggung jawab atas perbuatannya. Memaafkan merupakan ikhtiar untuk membebaskan hati dari beban kebencian dan menyerahkan persoalan keadilan kepada Allah SWT yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

“Memafkan bukan membebaskan mereka, tetapi membebaskan dirimu,” demikian pesan yang menjadi renungan penting dalam kehidupan. Sebab, ketika seseorang terus menyimpan dendam, ia sebenarnya sedang mempertahankan orang yang menyakitinya tetap hidup di dalam pikirannya, bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu.

Dendam membuat seseorang terus mengulang kejadian masa lalu dalam pikirannya. Sementara orang yang menjadi sasaran kebencian bisa jadi telah tidur dengan tenang, tertawa, bahagia, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Justru orang yang menyimpan dendamlah yang setiap malam kembali merasakan luka tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, keadaan itu dapat membuat hati seolah-olah menjadi penjara. Setiap kali nama orang yang pernah menyakiti disebut, luka lama kembali terasa. Kebahagiaan pun sulit dirasakan karena hati masih dipenuhi amarah dan ingatan terhadap masa lalu. Pada titik inilah seseorang perlu menyadari bahwa dendam tidak selalu menghukum orang lain, tetapi justru dapat menghabiskan ketenangan dirinya sendiri.

Dendam dapat diibaratkan seperti meminum racun sambil berharap orang lain yang mati. Racun itu diminum sendiri melalui ingatan, kemarahan, dan kebencian yang terus dipelihara. Seseorang berharap orang yang menyakitinya mengalami kehancuran, sementara dirinya sendiri perlahan kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupan yang lebih damai.

Baca Lainnya  Tiada Sistem yang Sempurna, Integritas dan Ukhuwah Menjadi Kunci

Karena itu, menunggu waktu untuk menghukum orang lain bukanlah jalan keluar. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencintai, beribadah, memperbaiki diri, dan membangun masa depan justru habis untuk mengutuk masa lalu. Tanpa disadari, seseorang telah menyerahkan bagian penting kehidupannya kepada peristiwa yang sebenarnya sudah berlalu.

Lantas, apa makna memaafkan dalam perspektif tasawuf? Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan kepada kita adalah sesuatu yang benar. Jika seseorang melakukan kezaliman, maka kezaliman tetap merupakan kesalahan. Allah SWT Maha Melihat setiap perbuatan manusia dan mengetahui setiap luka yang dialami hamba-Nya.

Memaafkan berarti mengambil keputusan untuk tidak lagi menjadikan kebencian sebagai penghuni tetap di dalam hati. Seseorang dapat berkata dalam dirinya, “Cukup. Aku tidak ingin lagi membawa kamu di dalam hatiku. Aku kembalikan urusanmu kepada Allah. Aku bebaskan hatiku untuk kembali pulang.” Sikap tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan ikhtiar untuk menemukan kembali ketenangan batin.

Memaafkan juga bukan berarti membebaskan seseorang dari pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Setiap manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, orang yang memaafkan memilih untuk tidak mengambil alih urusan keadilan dengan terus memelihara kebencian. Ia menyerahkan perkara tersebut kepada Allah, sementara dirinya berusaha menyembuhkan hati.

Setidaknya ada dua kebebasan yang dapat dirasakan ketika seseorang mulai belajar memaafkan. Pertama, bebas dari identitas sebagai korban selamanya. Selama dendam terus dipelihara, seseorang cenderung hidup dengan identitas “orang yang pernah disakiti”. Ketika mampu memaafkan, ia mulai melihat dirinya kembali sebagai hamba Allah yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan kehidupan.

Kedua, bebas dari doa yang dipenuhi keinginan pembalasan. Dahulu mungkin doa yang muncul adalah, “Ya Allah, balaslah dia.” Namun setelah hati mulai belajar melepaskan, doa dapat berubah menjadi, “Ya Allah, sembuhkanlah aku dan berilah dia hidayah.” Perubahan doa tersebut menunjukkan bahwa seseorang mulai mengutamakan kesembuhan hati daripada keinginan untuk membalas.

Baca Lainnya  Krisis Mendengar di Era Digital, Ketika Ledakan Informasi Menggerus Kemampuan Memahami

Jalaluddin Rumi juga dikenal dengan pesan tentang pentingnya memaafkan, bahkan ketika orang yang bersalah tidak pernah meminta maaf. Pesan tersebut mengingatkan bahwa kedamaian hati merupakan kebutuhan orang yang terluka. Dengan demikian, memaafkan tidak harus menunggu permintaan maaf dari orang lain. Ia dapat menjadi keputusan pribadi untuk tidak lagi membiarkan luka mengendalikan kehidupan.

Karena itu, ada satu latihan batin yang dapat dilakukan ketika seseorang merasa siap melepaskan dendam. Sebutlah nama orang yang paling menyakitkan hati, kemudian berdoalah kepada Allah SWT dengan tulus: “Ya Allah, hari ini aku melepaskan dia. Bukan karena dia layak, tetapi karena aku layak untuk tenang. Aku serahkan keadilan kepada-Mu, karena keadilan-Mu jauh lebih sempurna daripada dendamku. Aku bebaskan diriku.”

Jika dalam proses tersebut air mata jatuh, tidak perlu merasa kalah. Tangisan bisa menjadi bagian dari proses menerima kenyataan, mengakui luka, dan melepaskan beban yang selama ini dipikul. Memaafkan memang tidak selalu mudah, tetapi ketika hati mulai menyerahkan persoalan kepada Allah SWT, seseorang sedang membuka ruang bagi ketenangan, kasih sayang, dan kehidupan yang lebih bermakna. Sebab, memaafkan bukan tentang membebaskan orang yang pernah menyakiti kita dari tanggung jawabnya, melainkan membebaskan diri sendiri agar tidak selamanya menjadi tawanan dendam.

Ustadz Ahmad Jabidin
Pengasuh Majlis Miftahul Huda Sitail / Kepala Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Ranting Sitail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *