Tokoh  

KH Zainal Arifin, Ulama Mubalig dari Suradadi yang Merawat Dakwah, Pendidikan, dan Pengabdian kepada Umat

Avatar photo
Foto KH. Zainal Arifin Suradadi Tegal.

Suradadi, Warta NU Tegal

Tidak semua ulama menyampaikan dakwah hanya melalui mimbar pengajian. Sebagian memilih jalan pengabdian yang lebih luas: mendirikan madrasah, membangun masjid, menghidupkan majelis taklim, menulis kitab, hingga memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui lembaga pemerintahan. Jalan pengabdian itulah yang ditempuh almaghfurlah KH Zainal Arifin, ulama asal Suradadi, Kabupaten Tegal, yang dikenal sebagai mubalig, pendidik, dan tokoh organisasi.

Semasa hidupnya, KH Zainal Arifin menempatkan pendidikan dan dakwah sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan umat. Pengabdiannya menjangkau wilayah Tegal dan Pemalang, dengan perhatian besar terhadap pendidikan agama, pembinaan masyarakat, serta penguatan pemahaman Islam yang berlandaskan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Perjalanan KH Zainal Arifin menjadi bagian dari sejarah dakwah Islam di wilayah Pantura Jawa Tengah. Rekam jejaknya memperlihatkan bahwa perjuangan seorang ulama tidak hanya diukur dari luasnya pengaruh, tetapi juga dari lembaga pendidikan, karya keilmuan, dan manfaat yang ditinggalkan bagi generasi penerus.

Zainal Arifin bin Afroni bin Abdussalam lahir di Suradadi, Kabupaten Tegal, pada Jumat Kliwon, 9 Rajab 1354 Hijriah atau 17 Juli 1935. Ayahnya, Haji Afroni, berasal dari Tanjungsari, Sugihwaras, Pemalang, sedangkan ibunya, Hj. Maryam binti KH Rais bin KH Abdul Ghofar, berasal dari Suradadi. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan kehidupan keagamaan dan pelayanan masyarakat.

Pendidikan agama pertama diperolehnya langsung dari sang ayah. Pendidikan formalnya ditempuh di Vervolk School Suradadi dan Sekolah Rendah Oemoem (SRO), disertai pembelajaran sore di Madrasah Islamiyyah Suradadi. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada 1949, ia melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada 1954, ia belajar di Kulliyatul Muballighin NU yang diasuh KH Saifuddin Zuhri.

Semangat menuntut ilmu membawanya melanjutkan tabarrukan kepada sejumlah ulama, antara lain KH Ma’mun dan KH Asnawi di Kudus, kemudian KH Ali Maksum di Krapyak, Yogyakarta. Pada 1957–1959, ia juga menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Perjalanan tersebut membentuk bekal keilmuan sekaligus kemampuan berkomunikasi yang kelak menjadi modal penting dalam aktivitas dakwahnya.

Kiprah organisasinya mulai terlihat ketika masih muda. Pada 1955, ia dipercaya menjadi Ketua Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Cabang Kudus. Pada masa itu, kemampuan berpidatonya mulai dikenal. Gaya ceramahnya sederhana, mudah dipahami, dan sesekali diselingi humor untuk mendekatkan pesan agama kepada masyarakat. Dalam dokumen biografinya, gaya pidatonya disebut banyak terinspirasi dari KH Bisri Mustofa, ulama kharismatik asal Rembang.

Baca Lainnya  Mbah Dongkol dan Mbah Munjul: Kisah Para Pembuka Alas di Balik Peradaban Sitail dan Sumbarang

Setelah menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta, KH Zainal Arifin aktif mengajar di wilayah Pemalang. Pengabdiannya sebagai pendidik berjalan seiring dengan aktivitas organisasi. Pada 1960, ia dipercaya memimpin Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Cabang Pemalang. Ia kemudian mengemban berbagai amanah organisasi, termasuk di Islamic Study Club, Gerakan Pemuda Ansor Cabang Tegal, dan Bagian Dakwah NU Cabang Tegal.

Perjalanan pengabdiannya di Nahdlatul Ulama terus berkembang. Ia tercatat memimpin Partai NU Cabang Tegal pada 1968–1972, menjadi Ketua Jam’iyyah NU Cabang Tegal pada 1972–1975, serta memimpin NU Cabang Tegal pada 1976–1986. Di tingkat wilayah, ia juga dipercaya menjadi Wakil Ketua NU Wilayah Jawa Tengah pada 1976–1980. Catatan tersebut menunjukkan besarnya peran KH Zainal Arifin dalam dinamika organisasi dan dakwah NU pada masanya.

Di tengah kesibukan organisasi, KH Zainal Arifin membangun keluarga bersama Sayyidah Maryam binti H Achmad, yang dinikahinya pada 1960. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak. Dalam kehidupan keluarga, ia dikenal mengutamakan komunikasi, pendidikan, dan keteladanan. Waktu makan bersama dimanfaatkan untuk mendengarkan pengalaman anak-anak, mengetahui kesulitan mereka, sekaligus memberikan nasihat dengan bahasa yang lembut dan mudah diterima.

Perhatian KH Zainal Arifin terhadap pendidikan diwujudkan melalui pendirian dan pengelolaan sejumlah madrasah. Ketika mengembangkan pendidikan diniyah, ia tidak sekadar menyediakan tempat belajar, tetapi juga menyusun bahan ajar berdasarkan ilmu yang diperolehnya di pesantren. Pada masa awal, ia mengajar secara langsung dan melibatkan murid-murid senior untuk membantu proses pembelajaran. Model tersebut menjadi cara membangun keberlanjutan pendidikan di tengah keterbatasan sarana.

Di antara karya tulisnya yang dikenal adalah kitab Al-Iṭmi’nān, yang membahas ilmu tauhid dan disusun dengan penjelasan berbahasa Jawa agar mudah dipahami masyarakat. Karya tersebut digunakan sebagai bahan pembelajaran di majelis taklim dan madrasah diniyah. Ia juga menyusun sejumlah materi ajar dengan mengadaptasi karya ulama terdahulu, sehingga pelajaran keagamaan dapat disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Baca Lainnya  Dari Tegal untuk Dunia Al-Qur'an: Jejak Keikhlasan KH Imron Ahmadi dalam Melahirkan Metode Tilawati

Wilayah dakwah KH Zainal Arifin tidak terbatas pada satu desa. Setelah membina pendidikan di sejumlah wilayah Pemalang, ia mengembangkan pengabdian di Demangharjo, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal. Di sana ia mendirikan Madrasah Diniyah Awwaliyah Miftahul Afkar. Ia juga mendirikan Madrasah Istiqamah di Suradadi serta membangun sarana pembelajaran bagi anak-anak dan masyarakat yang membutuhkan pendidikan agama.

Dakwahnya turut diperkuat melalui pembangunan majelis taklim dan masjid. Ia mendirikan aula pengajian bagi jamaah laki-laki dan perempuan, serta Masjid Tajul Arifin di Demangharjo. Aktivitas mengajar tetap dijalankannya di sela kesibukan lain. Pengajian di rumah, majelis taklim, dan masjid menjadi ruang pembinaan umat yang terus dihidupkan selama bertahun-tahun.

Menurut laporan penelitian Ali Fahrudin, KH Zainal Arifin menggunakan tiga pendekatan utama dalam berdakwah: mendirikan lembaga pendidikan dan terlibat langsung dalam pengajaran, membangun serta menghidupkan majelis taklim, dan memenuhi undangan pengajian di berbagai daerah. Ia berusaha menyampaikan pesan agama dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai kisah-kisah teladan dan humor yang sesuai dengan situasi jamaah.

Perhatian terhadap kehidupan masyarakat juga membawanya memasuki ranah politik. Ia pernah menjadi anggota DPRGR di Kabupaten Tegal pada 1968–1971, anggota DPRD Kabupaten Tegal pada 1971–1977, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah pada 1977–1982, serta Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal pada 1982–1987. Pada 1987, ia terpilih menjadi anggota MPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Baginya, keterlibatan dalam pemerintahan merupakan salah satu jalan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Kiprah politik KH Zainal Arifin berjalan berdampingan dengan identitasnya sebagai ulama yang tumbuh dari lingkungan Nahdlatul Ulama. Dalam sejarah perjalanan organisasinya, terdapat pula dinamika pemikiran dan perbedaan pandangan yang kemudian memengaruhi keterlibatannya dalam kepengurusan NU. Laporan biografi tersebut mencatat bahwa pada 1988 ia menyatakan keluar dari kepengurusan NU, meskipun secara keagamaan tetap menjalankan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya. Catatan ini menunjukkan bahwa sejarah tokoh perlu dipahami secara utuh, termasuk dinamika dan perbedaan yang menyertainya.

Baca Lainnya  Jejak Keilmuan KH Abdul Djalil Kalikangkung Pangkah, Mustasyar NU yang Menjadi Rujukan Para Kiai

Di luar aktivitas pendidikan dan politik, KH Zainal Arifin juga dikenal memiliki perhatian terhadap persoalan sosial, kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam salah satu tulisan yang disusunnya, ia mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab membangun kehidupan masyarakat yang sehat, rukun, dan sejahtera. Pemikiran tersebut memperlihatkan upayanya menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi pedoman praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Pada Selasa, 18 Juli 1991, KH Zainal Arifin wafat di Jakarta setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Kita. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, murid, jamaah, serta masyarakat yang selama bertahun-tahun menerima manfaat dari dakwah dan pengabdiannya. Jejaknya tetap dapat ditelusuri melalui lembaga pendidikan, masjid, majelis taklim, karya tulis, dan kesaksian orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.

Bagi generasi Nahdliyin, perjalanan KH Zainal Arifin memberikan pelajaran tentang pentingnya memadukan ilmu, dakwah, pendidikan, dan kepedulian sosial. Pengabdiannya mengingatkan bahwa khidmah kepada umat membutuhkan ketekunan, keluasan wawasan, dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat sesuai zamannya. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah almaghfurlah KH Zainal Arifin, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

Sumber: Ali Fahrudin, Laporan Penelitian Biografi Ulama: KH Zainal Arifin Tegal, Muballigh dan Politikus PPP, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, 2013. Data biografi juga merujuk pada wawancara keluarga dan murid yang dicantumkan dalam laporan tersebut.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *