Sosok  

KH Imamudin bin Karyadi, Sesepuh NU Cerih yang Dikenang karena Ketegasan, Keistiqamahan Mengaji, dan Pengabdiannya kepada Umat

Avatar photo
Foto KH. Imamudin bin Karyadi, Cerih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal (Dokumentasi).

Jatinegara, Warta NU Tegal

Kepergian KH Imamudin bin Karyadi, sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) dari Desa Cerih, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat yang mengenal perjuangannya. Almarhum wafat pada Sabtu, (10/10/2026), sekitar pukul 02.00 WIB, menjelang waktu Subuh, setelah puluhan tahun mengabdikan diri dalam pendidikan keagamaan dan perjuangan sosial kemasyarakatan.

Semasa hidupnya, KH Imamudin dikenal sebagai sosok ulama yang tegas, rendah hati, disiplin dalam mendidik anak-anak, serta istiqamah dalam mengajarkan ilmu agama. Kiprahnya tidak hanya tercermin dalam aktivitas mengaji dan membimbing masyarakat, tetapi juga dalam perjuangannya bersama Nahdlatul Ulama dan generasi muda Ansor pada masanya. Hingga usia senja, almarhum tetap berupaya menghadiri majelis taklim, termasuk pengajian di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syech Armia Cikura, Bojong, Kabupaten Tegal.

Perwakilan keluarga, Ustadzah Umi Atiqoh, saat dihubungi di kediamannya pada Senin (12/10/2026), menuturkan bahwa almarhum merupakan pribadi yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, ketegasan, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan melalui nasihat, tetapi juga dicontohkan secara langsung kepada keluarga dan masyarakat.

“Bapak itu sangat disiplin dalam mendidik anak-anak. Setiap selesai Maghrib, beliau mengajari anak-anak mengaji Al-Qur’an. Setelah Ashar, beliau mengajar kitab kepada anak-anak usia SMP dan SMA, sedangkan setelah Subuh juga digunakan untuk mengaji bersama anak-anak. Beliau benar-benar memberikan perhatian besar terhadap pendidikan agama,” ungkap Ustadzah Umi Atiqoh.

Menurutnya, KH Imamudin juga dikenal sebagai sosok yang berani dan tegas dalam menjaga kehidupan sosial masyarakat. Salah satu kenangan yang masih membekas di hati keluarga adalah kebiasaan almarhum berkeliling desa pada malam hari untuk mengingatkan warga agar tidak menghabiskan waktu dengan bermain kartu atau remi.

Baca Lainnya  Logat Tegalannya Viral di Tengah Duka, Pak RT Mankus Padasari Tetap Tegar Mengabdi untuk Warga

“Dulu, yang paling saya ingat, beliau berani berkeliling desa pada malam hari. Kalau ada warga yang bermain remi atau kartu, langsung dibubarkan. Beliau ingin masyarakat menjaga perilaku dan tidak terjerumus dalam kebiasaan yang kurang baik,” tuturnya.

Di balik ketegasannya, almarhum memiliki sikap yang lembut, rendah hati, dan sangat menghormati orang lain. Ia dikenal memuliakan tamu serta menyayangi istrinya. Bagi keluarga, ketegasan KH Imamudin bukan semata-mata sikap keras, melainkan bentuk tanggung jawab untuk mendidik keluarga dan menjaga kehidupan masyarakat agar tetap berada dalam nilai-nilai agama.

Salah satu pesan almarhum yang terus diingat keluarga adalah pentingnya membalas keburukan dengan kebaikan. Nasihat tersebut menjadi cerminan akhlak yang berusaha ia tanamkan kepada anak-anak dan orang-orang di sekitarnya.

“Beliau sering menyampaikan, ‘Berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita itu sudah biasa, tetapi berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita, itulah yang luar biasa.’ Kalimat itu masih sangat saya ingat sampai sekarang,” ujar Ustadzah Umi Atiqoh.

Dalam perjalanan pengabdiannya, KH Imamudin merupakan alumni Pondok Pesantren Ma’hadut Tholabah Babakan, Lebaksiu, Kabupaten Tegal, yang menempuh pendidikan pada 1954–1962. Pengalaman menimba ilmu di pesantren menjadi salah satu bekal penting dalam membentuk karakter dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Semangat dakwah almarhum juga terlihat dari perjuangannya mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat. Pada masa ketika sebagian warga masih belum memahami ajaran agama secara mendalam, ia rela berjalan kaki menuju Desa Padasari untuk mengajar mengaji. Pengabdian tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan sarana tidak menyurutkan semangatnya dalam menyebarkan ilmu agama.

Selain mengajar secara langsung, almarhum turut merintis kegiatan jam’iyah qiraah dan membentuk kelompok pengajian Welasan. Ia juga menghidupkan pengajian kitab setiap malam Sabtu di masjid. Berbagai kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat tradisi keagamaan, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap ilmu agama.

Baca Lainnya  Tak Pernah Mondok, Mbah Riyan Al Jawi Kudus Justru Menjadi Muhaqqiq Kitab-Kitab Klasik

Dalam bidang organisasi, KH Imamudin pernah aktif sebagai pengurus Gerakan Pemuda Ansor. Pada masa itu, ia turut berjuang bersama rekan-rekannya dalam menghadapi gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada periode 1965. Pengalaman perjuangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya dalam kehidupan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.

Di lingkungan kelembagaan, almarhum juga dikenal sebagai bagian dari keluarga besar Yayasan Al Falah Cerih. Hingga akhir hayatnya, ia mengemban amanah sebagai Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jatinegara. Posisi tersebut mencerminkan penghormatan warga NU terhadap pengalaman, keteladanan, dan kontribusinya selama bertahun-tahun.

Salah satu momen menjelang wafatnya yang membekas bagi keluarga adalah kunjungan KH Ahmad Saidi bin KH Said dari Giren, Talang, Kabupaten Tegal, sekitar lima jam sebelum almarhum meninggal dunia. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menjenguk KH Imamudin yang saat itu sedang dalam kondisi menjelang akhir hayatnya.

Menurut keterangan keluarga, dalam kesempatan tersebut Syechuna KH Ahmad Saidi menyampaikan ungkapan, “Kiai Imam min ahlil jannah,” yang berarti Kiai Imam termasuk golongan penghuni surga. Ungkapan itu menjadi kenangan yang menguatkan hati keluarga di tengah duka atas kepergian sosok yang mereka cintai.

Kepergian KH Imamudin bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, melainkan juga kehilangan bagi masyarakat dan warga Nahdliyin yang pernah merasakan pengabdian serta bimbingannya. Ketekunan mengajar, keberanian menegakkan nilai-nilai agama, penghormatan kepada sesama, dan kesetiaannya merawat tradisi pesantren menjadi teladan yang patut diteruskan oleh generasi berikutnya.

Kini, keluarga memohon doa dan keikhlasan masyarakat untuk menghadiahkan Surah Al-Fatihah bagi almarhum. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Baca Lainnya  KH Mahfudz Basori, Ulama Penggerak Kemandirian Ekonomi NU yang Mengabdikan Hidup untuk Dakwah dan Pendidikan

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *