Sosok  

Tak Pernah Mondok, Mbah Riyan Al Jawi Kudus Justru Menjadi Muhaqqiq Kitab-Kitab Klasik

Avatar photo
Muhaqqiq (peneliti dan penyunting naskah klasik) asal Kudus, Mbah Riyan Ibnu Harjo Al Jawi.

Jombang, Warta NU Tegal

Muhaqqiq (peneliti dan penyunting naskah klasik) asal Kudus, Mbah Riyan Ibnu Harjo Al Jawi, membagikan kisah perjalanan intelektualnya di hadapan para kiai, masyayikh, santri, dan jamaah dalam sebuah forum keilmuan di Jombang. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren secara mukim, tetapi Allah SWT membukakan jalan baginya untuk mendalami khazanah turats melalui pendidikan formal, bimbingan para guru, serta ketekunannya meneliti kitab-kitab klasik.

Dalam penyampaiannya, Mbah Riyan menegaskan bahwa perjalanan keilmuannya bukanlah sesuatu yang instan. Ia menyebut keberhasilan menekuni dunia tahkik kitab merupakan buah dari bimbingan guru, kecintaan terhadap literatur klasik, serta pertolongan Allah SWT yang mengantarkannya hingga dikenal sebagai peneliti naskah-naskah turats.

Mengawali penjelasannya, Mbah Riyan mengaku merasa tidak pantas berada di tengah para ulama dan santri. Bahkan ketika memasuki Jombang yang dikenal sebagai Kota Santri, ia sempat merasa malu karena dirinya tidak pernah menjalani kehidupan sebagai santri mukim di pesantren.

“Sebenarnya saya malu dengan antum semua, para masyayikh, para kiai, para gus, dan para santri. Terus terang saya itu tidak pernah mondok. Tidak pernah mondok. Kalau ngaji memang sering ngaji kalong, tetapi kalau mondok benar-benar tidak pernah,” ungkapnya.

Ia kemudian menceritakan riwayat pendidikannya yang dimulai dari SD, kemudian melanjutkan ke MTs Nahdlatul Muslimin Kudus dan MA Nahdlatul Muslimin Kudus. Setelah lulus aliyah, ia memperoleh isyarat dari salah seorang gurunya untuk memperdalam bahasa Arab di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta.

Menurut Mbah Riyan, keputusan melanjutkan studi ke LIPIA bukan semata-mata karena keinginannya sendiri, melainkan dorongan dari guru yang melihat potensi dirinya. Berbekal arahan tersebut, ia memberanikan diri mengikuti seleksi hingga akhirnya diterima sebagai mahasiswa.

Baca Lainnya  Dari Desa Tuwel Menuju Pendapa: Jejak Pengabdian Umi Azizah, Kader Muslimat NU yang Mengabdi untuk Umat dan Kabupaten Tegal

“Saya berangkat ke LIPIA karena mendapat isyarat dari guru saya. Beliau menyarankan agar saya belajar bahasa Arab lebih dalam. Alhamdulillah saya mendaftar dan diterima,” tuturnya.

Selama menempuh pendidikan di LIPIA, Mbah Riyan belajar selama tujuh tahun, terdiri atas dua tahun program persiapan, satu tahun takmili, dan empat tahun program syariah. Selain mengikuti perkuliahan, ia juga mempelajari berbagai kitab fikih, hadis, ushul fikih, dan literatur klasik Islam.

Ia mengakui terdapat perbedaan corak pemikiran akidah yang diajarkan di kampus tersebut. Namun demikian, menurutnya, perbedaan itu justru menjadi pengalaman intelektual yang memperluas wawasan tanpa mengurangi semangatnya untuk terus mengkaji khazanah ulama Nusantara.

Momentum penting dalam perjalanan akademiknya terjadi ketika memasuki semester akhir. Pada saat itu setiap mahasiswa diwajibkan menyusun karya ilmiah, dan ia mendapatkan dosen pembimbing seorang ulama alumnus Al-Azhar Mesir, Dr. Muhammad Al-Jazazi, yang memiliki keahlian di bidang ushul fikih.

“Dari beliau saya mulai mengenal dunia tahkik kitab. Saya kemudian membawa kitab karya ulama Kudus, yaitu Al-Faraidh as-Saniyyah wa ad-Durar al-Bahiyyah karya Syekh Sya’roni Ahmadi. Beliau menyarankan agar kitab itu saya tahkik,” jelasnya.

Atas arahan gurunya tersebut, Mbah Riyan mulai menekuni dunia tahkik secara serius. Ia menyelesaikan penelitian terhadap kitab tersebut dengan metode tahkik kontemporer yang dilengkapi catatan ilmiah, takhrij, dan berbagai keterangan akademik sebagai latihan penelitian naskah klasik.

Usai menamatkan pendidikan di LIPIA, Mbah Riyan tidak langsung melanjutkan studi, melainkan diminta mengajar di Sukabumi selama lima tahun. Di tempat itulah ia dipercaya menjadi Aminul Maktabah atau pengelola perpustakaan yang menyimpan ribuan kitab berbahasa Arab.

Ia menceritakan bahwa perpustakaan tersebut memiliki sekitar 15.000 jilid kitab dengan lebih dari 8.000 judul. Seluruh koleksi harus didata secara rinci, mulai dari nama kitab, pengarang, bidang keilmuan, jumlah jilid, hingga sistem katalog digital sehingga seluruh kitab mudah ditelusuri.

Baca Lainnya  Logat Tegalannya Viral di Tengah Duka, Pak RT Mankus Padasari Tetap Tegar Mengabdi untuk Warga

“Setiap hari saya bergumul dengan kitab. Mulai dari menyusun rak, memberi kode, membuat katalog, sampai mencatat seluruh identitas kitab. Mungkin dari situlah saya mendapatkan keberkahan karena setiap hari menyentuh kitab-kitab ulama,” ujarnya disambut senyum para hadirin.

Menurut Mbah Riyan, pengalaman mengelola perpustakaan tersebut menjadi madrasah yang sangat berharga. Kedekatan dengan ribuan kitab klasik membuatnya semakin mencintai tradisi keilmuan Islam dan memperdalam kemampuan meneliti manuskrip serta literatur turats.

Setelah mengabdi di Sukabumi selama lima tahun, Mbah Riyan kembali ke kampung halamannya di Kudus pada tahun 2018. Sejak saat itu ia terus mengembangkan aktivitas penelitian, tahkik kitab, serta mengkaji karya-karya ulama Nusantara sebagai bentuk ikhtiar menjaga warisan keilmuan Islam.

Menutup kisahnya, Mbah Riyan menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh guru yang telah membimbingnya, khususnya Dr. Muhammad Al-Jazazi Al-Mishri Al-Azhari. Menurutnya, sosok gurunya itulah yang pertama kali mengenalkan dunia penelitian dan tahkik kitab sehingga menjadi jalan pengabdian yang ia tekuni hingga saat ini. Ia berharap generasi muda Nahdlatul Ulama terus mencintai kitab-kitab karya ulama, memperkuat sanad keilmuan, serta menjaga tradisi intelektual Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sebagai warisan yang harus dilestarikan.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *