Sosok  

Mbah Riyan Al Jawi Kudus, Tukang Bangunan dari Kudus yang Karyanya Jadi Rujukan Dunia Islam

Avatar photo
Ibnu Harjo Aljawi atau Mbah Rian memilih hidup sederhana di tengah kampung, sementara karya-karya tahqiq kitabnya dikenal hingga dunia akademik Islam internasional.

Kudus, Warta NU Tegal

Tidak banyak orang mengetahui bahwa di balik sosok sederhana yang sehari-hari dikenal sebagai tukang bangunan di sebuah desa di Kudus, Jawa Tengah, tersimpan kiprah keilmuan yang telah menjangkau dunia Islam internasional.

Namanya Ibnu Harjo Aljawi. Masyarakat lebih akrab memanggilnya Mbah Rian. Di lingkungan sekitar, ia juga dikenal dengan sebutan Mbah Rian Almastur, yang menggambarkan sosok yang memilih menyembunyikan diri dari sorotan publik.

Kesederhanaannya justru berbanding terbalik dengan kiprahnya dalam dunia keilmuan Islam. Ia dikenal sebagai penulis sekaligus Muhaqqiq, yakni orang yang melakukan tahqiq atau penyuntingan dan penelitian terhadap kitab-kitab klasik Islam agar naskah yang sampai kepada generasi sekarang tetap mendekati teks aslinya.

Pada 2026, kiprahnya mendapat pengakuan melalui MUI Award kategori karya tulis Islam. Namun, ada satu hal yang membuat sosok Mbah Rian semakin menarik perhatian. Ketika diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut, ia memilih tidak datang.

Bagi sebagian orang, penghargaan merupakan kesempatan untuk tampil dan memperkenalkan diri. Bagi Mbah Rian, tampaknya karya jauh lebih penting daripada nama pribadi.

Dari Kampung Kudus Menekuni Khazanah Keislaman

Perjalanan Mbah Rian menuju dunia keilmuan Islam tidak berlangsung secara singkat. Pria bernama Suprianto ini menempuh pendidikan di Kudus sebelum memperoleh beasiswa ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, cabang Universitas Imam Muhammad bin Saud, Arab Saudi.

Sejak 2005, ia mendalami syariat Islam, khususnya bidang ushul fikih. Ketekunannya dalam mempelajari khazanah keislaman kemudian membawanya semakin dekat dengan kitab-kitab klasik dan tradisi keilmuan Islam.

Pada 2012, ia memperoleh hadiah ibadah haji setelah menjadi juara lomba hafalan kitab Arbain Nawawi. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kehidupannya.

Selepas menyelesaikan pendidikan, Mbah Rian mengajar sekaligus mengelola perpustakaan pesantren di Sukabumi. Perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 18.000 jilid kitab.

Di tempat itulah produktivitas keilmuannya berkembang. Dalam lima tahun, ia disebut telah menulis 67 kitab. Hingga 2025, jumlah karyanya telah melampaui 100 kitab. Sebagian karyanya bahkan diterbitkan di Mesir dan menjadi referensi di berbagai negara.

Baca Lainnya  KH Mahfudz Basori, Ulama Penggerak Kemandirian Ekonomi NU yang Mengabdikan Hidup untuk Dakwah dan Pendidikan

Menekuni Tahqiq Kitab Klasik

Bagi masyarakat awam, tahqiq kitab mungkin terdengar sebagai pekerjaan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi tradisi intelektual Islam, pekerjaan seorang muhaqqiq memiliki peran penting.

Tahqiq bukan sekadar menyalin kembali kitab lama. Seorang muhakkik perlu membandingkan berbagai manuskrip, meneliti perbedaan redaksi, mengoreksi kesalahan dalam penyalinan, serta memberikan catatan ilmiah agar teks dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan secara akademik.

Pekerjaan tersebut membutuhkan penguasaan bahasa Arab, ilmu-ilmu keislaman, serta pemahaman terhadap tradisi manuskrip.

Mbah Rian dikenal menekuni bidang tersebut dengan serius. Ia antara lain mengerjakan tahqiq terhadap karya-karya ulama Nusantara dan kitab-kitab klasik dalam sejumlah disiplin keislaman, termasuk tasawuf dan ushul fikih.

Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital, Khaerul Masduki Baidlowi, menggambarkan Mbah Rian sebagai sosok yang sangat rendah hati.

Menurutnya, Mbah Rian memang menjalani keseharian sebagai tukang bangunan. Namun, di balik kesederhanaan itu, ia menyimpan karya-karya keilmuan yang memiliki nilai penting.

Ia juga dikenal dengan sebutan Mbah Rian Almastur, sosok yang memilih menyembunyikan diri meski memiliki banyak karya.

Menyelamatkan Warisan Ulama Nusantara

Kiprah Mbah Rian tidak berhenti pada penulisan kitab. Ia juga aktif menyelamatkan manuskrip karya ulama Nusantara, termasuk karya Syekh Mahfud Termas dan Ahmad Khatib Minangkabawi.

Bagi dirinya, naskah-naskah klasik bukan sekadar dokumen masa lalu. Di dalamnya tersimpan warisan intelektual yang menjadi bagian dari perjalanan panjang tradisi keilmuan Islam di Nusantara.

Karena itu, menjaga manuskrip merupakan pekerjaan yang penting agar warisan tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Apa yang dilakukan Mbah Rian menunjukkan bahwa merawat tradisi keilmuan tidak selalu harus dilakukan melalui ruang-ruang yang ramai. Ada pekerjaan sunyi yang justru membutuhkan ketekunan panjang, ketelitian, dan kesabaran.

Tahqiq kitab menjadi salah satu bentuk khidmah terhadap ilmu: mempertemukan generasi sekarang dengan karya para ulama terdahulu melalui teks yang diteliti dan disunting secara serius.

Pulang ke Kudus dan Tetap Sederhana

Setelah memiliki pengalaman pendidikan dan kiprah keilmuan yang luas, Mbah Rian kembali ke Kudus pada 2018.

Baca Lainnya  Logat Tegalannya Viral di Tengah Duka, Pak RT Mankus Padasari Tetap Tegar Mengabdi untuk Warga

Namun, kepulangannya tidak diikuti dengan perubahan gaya hidup yang mencolok. Ia tetap menjalani kehidupan sederhana sebagaimana masyarakat di sekitarnya.

Sesekali ia bekerja sebagai tukang bangunan, membantu panen, atau mengerjakan pekerjaan serabutan di kampung.

Kehidupan tersebut menjadi sisi humanis yang membuat sosok Mbah Rian berbeda. Di satu sisi, karya-karyanya telah dikenal di lingkungan akademik Islam internasional. Di sisi lain, ia tetap hadir sebagai bagian dari masyarakat desa dengan pekerjaan sehari-hari yang sederhana.

Ketika kisahnya mulai menjadi perhatian publik, Mbah Rian justru merasa sungkan. Ia tidak menginginkan dirinya menjadi pusat perhatian.

“Saya tidak mengharapkan viral. Yang penting karya-karya saya saja yang diketahui masyarakat. Diri saya tidak perlu.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan prinsip yang selama ini tampak dalam kehidupannya: ilmu dan karya tidak harus selalu berjalan bersama popularitas.

Ketika Ilmu Tidak Berorientasi Popularitas

Penghargaan MUI Award 2026 kategori karya tulis Islam menjadi salah satu bentuk pengakuan atas kiprah Mbah Rian. Namun, sikapnya ketika mendapatkan penghargaan tersebut justru memperlihatkan karakter yang selama ini melekat pada dirinya.

Ia memilih tidak hadir ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut.

Sikap itu bukan berarti karya dan penghargaan tidak memiliki arti. Justru dari sana terlihat bagaimana ia menempatkan karya keilmuan sebagai sesuatu yang lebih penting daripada pencitraan diri.

Bagi Mbah Rian, menulis kitab bukan semata-mata pekerjaan untuk mendapatkan pengakuan. Ia menggambarkan aktivitas tersebut seperti berdialog dengan para ulama terdahulu.

Dalam proses itulah, ia menemukan nilai yang tidak dapat begitu saja diukur dengan materi.

Pandangan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan yang semakin mudah menjadikan popularitas sebagai ukuran keberhasilan. Mbah Rian menunjukkan jalan yang berbeda: bekerja dalam kesunyian, tekun mendalami ilmu, dan membiarkan karya berbicara.

Keteladanan dari Sosok Mbah Rian

Kisah Mbah Rian memberikan sejumlah pelajaran penting. Pertama, keterbatasan keadaan tidak selalu menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya. Latar belakang sebagai masyarakat desa dan pekerjaan sebagai tukang bangunan tidak menghalanginya untuk menekuni bidang keilmuan yang membutuhkan kemampuan khusus.

Kedua, tradisi keilmuan membutuhkan ketekunan. Meneliti manuskrip, membandingkan naskah, dan menulis kitab merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu serta kesabaran.

Ketiga, ilmu dapat menjadi bentuk pengabdian. Apa yang dilakukan Mbah Rian tidak hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga ikut menjaga warisan intelektual para ulama agar dapat dipelajari generasi berikutnya.

Dan yang tidak kalah penting, kisahnya mengajarkan tentang kerendahan hati. Di tengah capaian yang telah diperoleh, ia tetap memilih hidup sederhana dan tidak menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.

Karya yang Berbicara

Dari sebuah desa di Kudus, Mbah Rian memperlihatkan bahwa seseorang tidak harus berada di panggung besar untuk memberikan kontribusi besar.

Ia tetap bekerja, hidup bersama masyarakat, dan menekuni aktivitas keilmuan dalam kesunyian. Namanya mungkin tidak selalu dikenal luas oleh masyarakat, tetapi karya-karyanya telah menjadi bagian dari perjalanan khazanah keislaman.

Kisah Mbah Rian pada akhirnya bukan hanya tentang seorang tukang bangunan yang menjadi penulis kitab. Lebih dari itu, ia adalah gambaran tentang bagaimana ilmu dapat tumbuh dari kesederhanaan, bagaimana tradisi dapat dirawat melalui ketekunan, dan bagaimana sebuah karya dapat memberi manfaat jauh melampaui popularitas pembuatnya.

Dari Kudus, Mbah Rian mengajarkan bahwa khidmah kepada ilmu tidak selalu membutuhkan sorotan. Kadang, karya terbaik justru lahir dari mereka yang memilih bekerja dalam sunyi, menjaga warisan ulama, dan membiarkan manfaatnya berbicara kepada generasi demi generasi.

Sumber: Profil “Mbah Riyan: Tukang Bangunan dari Kudus, Karyanya Jadi Rujukan Dunia Islam”, YouTube Tribun Sumsel.

Editor: Tahmid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *