Sosok  

Dari Desa Tuwel Menuju Pendapa: Jejak Pengabdian Umi Azizah, Kader Muslimat NU yang Mengabdi untuk Umat dan Kabupaten Tegal

Avatar photo
Umi Azizah (Dokumentasi)

Bojong, Warta NU Tegal

Nama Hj. Umi Azizah tidak asing bagi warga Nahdlatul Ulama di Kabupaten Tegal. Sosok perempuan kelahiran Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, ini dikenal sebagai kader Muslimat NU yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan, pemberdayaan perempuan, penguatan organisasi, serta pelayanan kepada masyarakat. Kiprahnya yang panjang mengantarkannya menjadi salah satu tokoh perempuan berpengaruh di Kabupaten Tegal hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Bupati dan kemudian Bupati Tegal.

Bagi kalangan Nahdliyin, Umi Azizah bukan sekadar pemimpin pemerintahan. Ia merupakan representasi kader perempuan NU yang tumbuh dari lingkungan pesantren, ditempa dalam tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, dan dibesarkan dalam kultur pengabdian yang diwariskan para ulama.

Pantauan Warta NU Tegal, perjalanan hidup Umi Azizah menunjukkan bahwa kepemimpinan lahir dari proses panjang pengabdian. Berbekal pendidikan, pengalaman organisasi, dan keteladanan keluarga pesantren, ia berhasil membuktikan bahwa perempuan mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan masyarakat tanpa meninggalkan identitas ke-NU-an yang melekat kuat dalam dirinya.

Umi Azizah lahir di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, pada tahun 1960. Ia merupakan putri kedua pasangan KH Zainal Arifin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Tuwel, dan Nyai Hj. Masyitoh. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang menanamkan nilai keislaman, kedisiplinan, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Pendidikan menengahnya ditempuh di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH Bisri Syansuri, salah satu ulama besar Nahdlatul Ulama sekaligus kakek Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tradisi keilmuan pesantren tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk karakter kepemimpinannya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Umi Azizah melanjutkan studi ke Jurusan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Pada tahun 1985, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan prestasi membanggakan sebagai wisudawan terbaik FISIP UNDIP.

Baca Lainnya  KH Mahfudz Basori, Ulama Penggerak Kemandirian Ekonomi NU yang Mengabdikan Hidup untuk Dakwah dan Pendidikan

Prestasi akademik tersebut membawanya memperoleh tawaran menjadi dosen di Universitas Airlangga Surabaya. Namun, kesempatan yang bergengsi itu tidak diambil. Ia memilih kembali ke Kabupaten Tegal karena merasa terpanggil untuk mengabdikan ilmu dan tenaganya bagi masyarakat tempat kelahirannya.

Langkah pengabdian itu dimulai melalui organisasi Fatayat Nahdlatul Ulama. Umi Azizah dipercaya menjadi Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Tegal selama dua periode, yakni 1987–1992 dan 1992–1997. Pada masa tersebut, ia aktif membangun kaderisasi perempuan muda NU sekaligus memperkuat peran perempuan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Selain aktif berorganisasi, pada tahun 1988 ia juga mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Bakti Negara (STAIBN) Slawi. Dalam perjalanan berikutnya, ia turut mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Yayasan Pengembangan dan Pengkajian Islam Ki Gede Sebayu yang menaungi berbagai kegiatan pendidikan dan dakwah Islam di Kabupaten Tegal.

Pada tahun 1999, rekan-rekan seperjuangannya di lingkungan Nahdlatul Ulama mendorong dirinya untuk aktif kembali dalam organisasi Muslimat NU. Namun saat itu, kondisi kesehatan suaminya yang sedang sakit keras membuatnya harus mempertimbangkan berbagai tanggung jawab keluarga dan organisasi secara bersamaan.

Setelah memperoleh izin dan dukungan dari sang suami, Umi Azizah kembali aktif mengabdi melalui Muslimat NU. Tidak lama kemudian, pada tahun 2000, suaminya, Drs. Mohammad Djazeri, wafat. Sejak saat itu, ia harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus kepala keluarga yang membesarkan enam orang anak.

Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat pengabdiannya tidak pernah surut. Pada periode 2000–2005, ia dipercaya memimpin Yayasan Pendidikan Muslimat NU dan menjabat Ketua II Muslimat NU Kabupaten Tegal. Keteguhan tersebut tidak lepas dari didikan ayahandanya, KH Zainal Arifin, yang sejak kecil mengajarkan pentingnya berjuang dan mengabdi untuk masyarakat.

Baca Lainnya  Logat Tegalannya Viral di Tengah Duka, Pak RT Mankus Padasari Tetap Tegar Mengabdi untuk Warga

Jejak pengabdian keluarga besar Umi Azizah memang sangat erat dengan Nahdlatul Ulama dan dunia pendidikan. KH Zainal Arifin dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Nurul Hikmah serta salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian MTs Al Azhar Tuwel. Sementara sang suami, Drs. Mohammad Djazeri, pernah menjadi anggota DPRD dari PPP dan Sekretaris PCNU Kabupaten Tegal.

Pada tahun 2005, Umi Azizah terpilih menjadi Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal periode 2005–2010. Kepercayaan tersebut kembali diberikan untuk periode 2010–2015. Di tingkat regional, ia juga dipercaya menjadi Wakil Ketua Koordinator Daerah Muslimat NU Eks Karesidenan Pekalongan.

Di bawah kepemimpinannya, Muslimat NU Kabupaten Tegal mengalami perkembangan yang signifikan. Tidak hanya memperkuat kegiatan keagamaan dan majelis taklim, ia juga melakukan pembenahan manajemen organisasi, penguatan ekonomi kader, serta pengembangan berbagai lembaga pendidikan dan sosial yang berada di bawah naungan Muslimat NU.

Berbagai capaian berhasil diraih selama masa kepemimpinannya. Jaringan pendidikan Muslimat NU berkembang hingga mencakup ratusan TPQ, TK, RA, kelompok bermain, dan program keaksaraan fungsional. Di bidang sosial, Muslimat NU juga mengelola panti asuhan, kelompok bimbingan ibadah haji, majelis taklim, serta koperasi yang menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi warga.

Periode kedua kepemimpinannya di Muslimat NU difokuskan pada penguatan ekonomi perempuan. Salah satu program strategis yang diwujudkan adalah pembangunan Gedung Serbaguna Muslimat NU sebagai pusat kegiatan organisasi sekaligus sarana pelatihan keterampilan dan pemberdayaan kader perempuan Nahdliyin.

Kesuksesan Umi Azizah dalam memimpin organisasi ternyata berjalan seiring dengan keberhasilannya mendidik enam orang anak sebagai orang tua tunggal. Seluruh anaknya ditempa dalam lingkungan pendidikan pesantren dan perguruan tinggi. Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan di ruang publik dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab membangun keluarga yang berakhlak dan berpendidikan.

Baca Lainnya  Logat Tegalannya Viral di Tengah Duka, Pak RT Mankus Padasari Tetap Tegar Mengabdi untuk Warga

Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk mengejar jabatan politik. Namun ketika para kiai dan tokoh NU memandang dirinya sebagai kader yang layak mengemban amanah, Umi Azizah memilih menjalankan prinsip sam’an wa tha’atan kepada para ulama. Dari Desa Tuwel yang sederhana, ia menapaki jalan pengabdian yang panjang hingga dipercaya memimpin Kabupaten Tegal. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa ketulusan berkhidmah kepada umat dan Nahdlatul Ulama akan melahirkan manfaat yang luas bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

Sumber utama penulisan: artikel biografi Umi Azizah tahun 2013 yang memuat perjalanan pendidikan, organisasi, keluarga, dan pengabdian beliau di lingkungan Nahdlatul Ulama Kabupaten Tegal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *