Jatinegara, Warta NU Tegal
Lailatul Ijtima’ NU dan Badan Otonom Ranting Sitail kembali digelar pada Jumat malam Sabtu Manis, (25/09/2026), di Mushala Nurul Hidayah, Dukuh Kali Jambu RT 05 RW 01. Kegiatan yang berlangsung selepas shalat Isya tersebut dirangkai dengan kajian Kitab Tanbihul Ghofilin yang disampaikan Sekretaris LDNU PRNU Sitail, Ustadz Ahmad Jabidin.
Dalam kajiannya, Ustadz Ahmad Jabidin mengajak jamaah melakukan muhasabah terhadap keikhlasan dalam beramal. Ia mengupas peringatan Rasulullah SAW tentang asy-syirkul ashghar atau syirik kecil, yang dalam penjelasan hadis tersebut dikaitkan dengan sifat riya, sekaligus menjelaskan pentingnya iman kepada perkara gaib, harapan kepada Allah, kesungguhan beramal, taubat, dan keikhlasan hati.
Ustadz Ahmad Jabidin mengawali kajian dengan membacakan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan, “Akhwafu ma akhafu ‘alaikum asy-syirkul ashghar,” yang berarti perkara yang paling dikhawatirkan Nabi SAW terhadap umatnya adalah syirik kecil.
Ia menjelaskan bahwa ketika para sahabat bertanya mengenai maksud asy-syirkul ashghar, Rasulullah SAW menjawab, “Ar-riya.” Menurutnya, riya merupakan sikap melakukan amal dengan maksud agar dilihat, dipuji, atau diketahui oleh manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT.
“Riya iku pamer. Amal sing kudune kanggo Allah, nanging ati kepengin supaya katon lan dipuji wong liya,” jelas Ustadz Ahmad Jabidin.
Ia kemudian mengingatkan bahwa amal yang dilakukan dengan riya tidak akan memberikan nilai sebagaimana amal yang dikerjakan dengan ikhlas. Ia mengutip peringatan bahwa pada hari kiamat orang yang beramal karena ingin dilihat manusia akan diarahkan untuk mencari balasan dari orang-orang yang dahulu menjadi tujuan amalnya.
“Artine, nalika amal ora ikhlas amarga Allah, aja nganti kita mung ngarepake penilaian saka manungsa. Ganjaran sejati iku saka Allah SWT,” tuturnya.
Menurut Ustadz Ahmad Jabidin, keikhlasan harus menjadi dasar utama dalam setiap amal ibadah. Seorang Muslim hendaknya tidak menjadikan pujian, perhatian, atau penghargaan manusia sebagai ukuran utama ketika melakukan kebaikan.
“Ketika ibadah, usaha supaya niate bener-bener karena Allah Ta’ala. Iki sing kudu terus dilatih,” katanya.
Ia mengaitkan pembahasan ikhlas dengan ketakwaan. Menurutnya, Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana dijelaskan dalam awal Surat Al-Baqarah bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada perkara gaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah.
“Wong takwa iku wong sing iman marang perkara gaib, ngedegaken shalat, lan gelem nginfakke sebagian rezeki sing diparingake Allah,” jelasnya.
Ustadz Ahmad Jabidin menerangkan bahwa perkara gaib mencakup keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian, kebangkitan dari alam kubur, surga, dan neraka. Menurutnya, seluruh keyakinan tersebut harus tertanam kuat dalam hati seorang Muslim.
“Percaya marang akhirat, surga lan neraka iku bagian saka iman marang perkara gaib. Keyakinan iki kudu temenan lan kudu kuat,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa keyakinan kepada akhirat tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus melahirkan konsekuensi dalam kehidupan. Kesadaran bahwa setiap amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah seharusnya mendorong seseorang untuk memperbaiki ibadah dan perilakunya.
“Yen yakin ana akhirat, mesthine urip iki kudu luwih ngati-ati. Sebab kabeh amal bakal ana pertanggungjawabane,” katanya.
Dalam penjelasannya, ia kemudian mengajak jamaah memahami bahwa amal yang dilakukan karena Allah akan tetap bernilai meskipun tidak mendapatkan penghargaan langsung dari manusia. Sebaliknya, amal yang terlalu bergantung pada penilaian manusia berpotensi melahirkan kekecewaan.
“Yen niate karena Allah, ora perlu gumantung karo wong sing ndelok utawa ora ndelok. Sing penting Allah ngerti,” tuturnya.
Ustadz Ahmad Jabidin memberikan ilustrasi tentang seseorang yang kecewa ketika perhatian atau penghargaan yang diharapkan dari orang lain tidak diperoleh. Menurutnya, kondisi semacam itu dapat menjadi bahan evaluasi terhadap niat dalam melakukan suatu kebaikan.
“Kadang kita kecewa amarga ora digatekake wong. Iki bisa dadi bahan muhasabah, apa amal kita wis tenan amarga Allah utawa isih ngarepake perhatian manungsa,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa seorang Muslim perlu membiasakan diri mengarahkan orientasi amal kepada akhirat. Dunia, menurutnya, merupakan tempat menanam amal, sedangkan hasil akhirnya akan dipetik di akhirat.
“Dunia iku panggonan nandur. Panen sing saktemene ana ing akhirat. Mula aja mung mikir manfaat langsung ing dunia,” katanya.
Menurutnya, harta yang dimiliki seseorang sebaiknya diarahkan kepada kemanfaatan, seperti sedekah, infak, amal jariyah, dan berbagai kegiatan yang membawa maslahat bagi masyarakat.
“Yen duwe rezeki, aja mung dipikir kanggo awake dhewe. Bisa didisiplinke kanggo sedekah, infak, amal jariyah, lan kemaslahatan,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan besarnya amal atau kecilnya pemberian sebagai alasan untuk kehilangan keikhlasan. Menurutnya, nilai utama sebuah amal tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari niat dan ketulusan orang yang mengerjakannya.
“Gedhe-cilike pemberian dudu perkara utama. Sing penting niate ikhlas lan kanggo Allah Ta’ala,” ujarnya.
Ustadz Ahmad Jabidin kemudian mengutip penjelasan dalam Tanbihul Ghofilin mengenai sejumlah keadaan ketika seseorang memiliki keinginan baik, tetapi tidak disertai tindakan yang mendukung keinginan tersebut.
“Keinginan sing apik kudu dibarengi usaha. Yen mung kepengin tanpa tumindak, manfaaté ora bakal maksimal,” jelasnya.
Ia mencontohkan seseorang yang berharap memperoleh pahala, tetapi tidak mau melakukan amal saleh. Menurutnya, harapan kepada Allah harus disertai ikhtiar dan amal nyata.
“Kepengin oleh ganjaran iku apik, nanging kudu dibarengi amal saleh. Kaya wong kepengin oleh duit nanging ora gelem kerja,” tuturnya.
Hal yang sama berlaku bagi seseorang yang ingin menjadi pribadi atau anak yang saleh. Menurutnya, doa orang tua harus disertai usaha nyata, seperti memberikan pendidikan agama, mengajak mengaji, dan memberikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan akhlak.
“Yen kepengin anak dadi saleh, aja mung didongakake. Kudu dibarengi usaha: disekolahake, diarahake ngaji, diwenehi pendidikan agama,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa niat baik perlu diwujudkan dalam tindakan. Keinginan untuk rajin berjamaah, mengaji, bersedekah, atau melakukan amal lainnya tidak akan berkembang apabila tidak pernah diwujudkan dalam langkah nyata.
“Niat iku kudu diterusake tumindak. Kepengin jamaah ya jamaah, kepengin ngaji ya ngaji, kepengin sedekah ya mulai sedekah,” ujarnya.
Ustadz Ahmad Jabidin kemudian membahas pentingnya doa yang disertai ikhtiar. Ia mengingatkan jamaah agar tidak hanya memohon kepada Allah SWT tanpa berusaha menjalankan sebab-sebab yang mengantarkan kepada tujuan tersebut.
“Doa kudu bareng usaha. Kepengin anak saleh, wong tuwa ndonga, nanging anak uga kudu diwulang lan diarahkan marang kebaikan,” jelasnya.
Ia kemudian memasuki pembahasan mengenai istighfar. Menurutnya, istighfar tidak seharusnya hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi harus disertai penyesalan atas dosa dan tekad untuk meninggalkan perbuatan tersebut.
“Ngucap astaghfirullah nanging dosa tetep dilakoni tanpa ana rasa getun, iku kudu dadi bahan muhasabah. Istighfar kudu dibarengi penyesalan lan taubat,” tuturnya.
Dalam penjelasan berikutnya, ia mengingatkan jamaah agar tidak hanya memperbaiki penampilan lahiriah, sementara kondisi batin tidak diperhatikan. Menurutnya, kesalehan lahir dan batin harus berjalan beriringan.
“Jangan mung apik ing njaba supaya katon apik, nanging njero ati ora dibenerake. Sing kudu dibangun iku lahir lan batin,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pencitraan dalam kebaikan dapat menjauhkan seseorang dari keikhlasan apabila orientasinya semata-mata untuk mendapatkan penilaian manusia. Karena itu, setiap Muslim perlu sering memeriksa kondisi hati masing-masing.
“Sing ngerti ikhlas utawa ora sejatine ati kita dhewe. Mula luwih becik kerep muhasabah awake dhewe tinimbang menilai ikhlase wong liya,” katanya.
Ustadz Ahmad Jabidin selanjutnya membahas amal yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh tetapi tidak disertai keikhlasan. Menurutnya, kesungguhan dalam beribadah tetap harus diarahkan kepada Allah SWT agar amal tersebut memiliki nilai spiritual.
“Amal bisa wae abot lan nguras tenaga, nanging yen ora ikhlas amarga Allah, kudu terus dibenerake niate,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan seseorang untuk beribadah juga merupakan rahmat dari Allah SWT. Karena itu, ketika memperoleh kesempatan untuk melakukan kebaikan, seseorang hendaknya bersyukur dan memohon agar diberikan keistiqamahan.
“Bisa ibadah iku rahmat Allah. Mula yen wis diparingi kesempatan ibadah, syukuri lan njaluk supaya bisa istiqamah,” tuturnya.
Menutup kajian, Ustadz Ahmad Jabidin mengajak jamaah menjadikan pembahasan Kitab Tanbihul Ghofilin sebagai sarana memperbaiki diri. Ia menekankan bahwa ukuran keberhasilan pengajian bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang diperoleh, tetapi sejauh mana ilmu tersebut mengubah niat, ibadah, dan akhlak.
“Mugi-mugi ilmu iki ora mung mandheg ing pangerten, nanging bisa dilakoni. Mugi Allah maringi kita kabeh ati sing ikhlas, amal sing bener, taubat sing temenan, lan istiqamah ing dalan kebaikan,” pungkasnya.
Editor: Tahmid












