Warta  

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Ratusan Jamaah MWCNU Warureja Gelar Ziarah Makam Sesepuh dan Ulama Lokal

Avatar photo
MWCNU Kecamatan Warureja menggelar ziarah makam ulama, auliya, dan sesepuh setempat dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, di wilayah Warureja, Kabupaten Tegal, Sabtu (17/10/2026).

Warureja, Warta NU Tegal

Semangat memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026 diwujudkan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, melalui kegiatan ziarah makam para ulama, auliya, dan sesepuh setempat, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini menjadi ikhtiar merawat tradisi keagamaan sekaligus mengenang jasa para pendahulu yang telah merintis dakwah Islam dan mengembangkan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Sebanyak kurang lebih 250 jamaah dari berbagai ranting NU mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Panitia menyediakan lima armada kendaraan wisata atau odong-odong untuk mengangkut rombongan yang diberangkatkan sekitar pukul 08.00 WIB.

Rangkaian ziarah dimulai dari makam para sesepuh di Desa Kendayakan, dilanjutkan ke Maqbaroh Mbah Sokadana, makam Mbah Soleh, makam Mbah Taban, dan makam Kiai Sanusi. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju makam Mbah Semedo dan mengakhiri rangkaian doa di maqbaroh Mbah Wana. Di setiap lokasi, jamaah membaca Yasin, tahlil, tawasul, dan doa bersama dengan khusyuk.

Ketua Panitia Pelaksana, Kardono, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan yang diikuti ratusan warga Nahdliyin tersebut. Menurutnya, antusiasme jamaah menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi ziarah yang telah mengakar di lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Alhamdulillah, kegiatan ziarah dalam rangka menyemarakkan Hari Santri Nasional ini dapat terlaksana dengan baik. Kami bersyukur warga NU dari berbagai ranting berkenan mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, panitia telah menyiapkan lima armada kendaraan untuk mendukung kelancaran perjalanan jamaah menuju sejumlah makam yang menjadi tujuan ziarah. Persiapan tersebut dilakukan agar seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan secara tertib.

“Kurang lebih 250 jamaah mengikuti kegiatan ini dengan menggunakan lima armada yang telah kami siapkan. Kami berusaha memastikan perjalanan rombongan berjalan lancar sejak keberangkatan hingga kembali,” tuturnya.

Baca Lainnya  Bupati Tegal Buka PORSADIN VIII Jawa Tengah, FKDT Harapkan Kabupaten Tegal Jadi Tuan Rumah Nasional 2028

Kardono juga mengapresiasi kekompakan para peserta yang mengikuti kegiatan sejak pagi hingga seluruh rangkaian ziarah selesai. Ia berharap kebersamaan tersebut dapat terus terpelihara dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah, pengurus NU, dan semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Semoga kebersamaan ini semakin mempererat persaudaraan warga Nahdliyin di Kecamatan Warureja,” ungkapnya.

Ketua MWCNU Warureja, Ustadz Abdul Salam, menegaskan bahwa ziarah makam ulama bukan sekadar kegiatan seremonial dalam memperingati Hari Santri Nasional. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat hubungan antarpengurus dan warga NU sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

“Ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan ikhtiar merawat tradisi amaliyah Nahdlatul Ulama sekaligus memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Nahdliyah di antara pengurus dan warga,” ujarnya.

Ia menambahkan, peringatan Hari Santri Nasional perlu diisi dengan kegiatan yang mengandung nilai spiritual, pendidikan sejarah, dan penguatan karakter. Melalui ziarah, generasi muda dapat mengenal lebih dekat sosok para ulama dan sesepuh yang berkontribusi terhadap perkembangan dakwah Islam di lingkungan mereka.

“Hari Santri hendaknya tidak hanya diperingati melalui kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama serta meneladani pengabdian mereka kepada agama, bangsa, dan masyarakat,” katanya.

Ustadz Abdul Salam juga berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat konsolidasi kultural organisasi hingga tingkat ranting. Menurutnya, hubungan yang erat antara pengurus dan warga menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan serta pengabdian sosial NU.

“Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat terus membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, dan menjaga kekompakan antarwarga. Semoga semangat kebersamaan ini menjadi kekuatan dalam menjalankan khidmah Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat,” tuturnya.

Baca Lainnya  Sekolah Lansia Qurrota A'yun dan Sosialisasi JKN Digelar, MWCNU Jatinegara Ajak Warga NU Berobat di Klinik NU Pratama

Lebih lanjut, ia mengajak warga Nahdliyin untuk menjadikan nilai-nilai perjuangan para pendahulu sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya menjaga tradisi yang baik sekaligus melanjutkan perjuangan ulama melalui pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial.

“Para ulama telah memberikan teladan dalam keikhlasan, kebersamaan, dan pengabdian. Tugas kita sekarang adalah menjaga warisan perjuangan tersebut dan meneruskannya melalui kegiatan yang membawa manfaat bagi umat,” pungkasnya.

Rais Syuriah MWCNU Warureja, Ustadz Zamroni, yang memimpin tawasul dan doa selama rangkaian ziarah, menjelaskan bahwa ziarah kubur memiliki nilai spiritual bagi umat Islam. Selain mengingatkan manusia akan kematian, ziarah menjadi kesempatan untuk mendoakan para pendahulu serta mengenang jasa mereka dalam membimbing kehidupan keagamaan masyarakat.

“Ziarah ini menjadi sarana tadzkiratul maut, yakni mengingatkan kita bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT. Karena itu, kita perlu memanfaatkan kehidupan untuk memperbanyak amal kebaikan dan meningkatkan ketakwaan,” ujarnya.

Ia menuturkan, keberadaan makam para ulama dan sesepuh merupakan pengingat atas perjalanan panjang dakwah Islam yang dibangun melalui keteladanan, kesabaran, dan pengorbanan. Para penerus perjuangan diharapkan mampu mengambil pelajaran dari sejarah tersebut.

“Kita sedang melakukan napak tilas perjuangan para ulama dan sesepuh yang telah merintis dakwah Islam serta menanamkan nilai-nilai kebaikan di tanah Warureja. Semangat keikhlasan dan pengorbanan mereka patut kita teladani,” jelasnya.

Ustadz Zamroni juga mengingatkan jamaah agar ziarah senantiasa dilaksanakan sesuai tuntunan syariat, dengan memperbanyak doa kepada Allah SWT dan memohonkan ampunan bagi mereka yang telah wafat. Menurutnya, penghormatan kepada para ulama perlu diwujudkan melalui doa serta keteladanan dalam menjalankan ajaran Islam.

“Ketika berziarah, hendaknya kita memperbanyak doa, membaca tahlil, dan mengingat kebesaran Allah SWT. Kita mendoakan para pendahulu agar memperoleh rahmat dan ampunan-Nya, sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan mereka,” tuturnya.

Baca Lainnya  Ustadz Asmawardi: Jangan Hanya Mengaku Punya Klinik NU, Mari Bersama-Sama Mengembangkannya

Ia berharap tradisi ziarah yang dilaksanakan dalam momentum Hari Santri Nasional dapat terus diwariskan kepada generasi muda Nahdlatul Ulama. Dengan demikian, para pelajar dan kader NU tidak hanya mengenal sejarah perjuangan ulama melalui cerita, tetapi juga tumbuh kesadaran untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut.

“Semoga generasi muda semakin mengenal para ulama dan sesepuhnya, mencintai tradisi keagamaan yang baik, serta memiliki semangat untuk melanjutkan perjuangan Nahdlatul Ulama dalam menjaga agama, memperkuat persatuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Editor : Tahmid
Kontributor: M. Nur Iskandar Fajri 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *